Kemarin siang saya ngobrol dengan Bapak berusia 70 tahun. Ia pedagang susu keliling. Menggunakan kendaraan yang dikayuh, mirip becak. Sambil membawa air kopi, ia mendekat dan menyapa saya.
“Panas ya Kang,” ujarnya.
Kemarin siang saya ngobrol dengan Bapak berusia 70 tahun. Ia pedagang susu keliling. Menggunakan kendaraan yang dikayuh, mirip becak. Sambil membawa air kopi, ia mendekat dan menyapa saya.
“Panas ya Kang,” ujarnya.
Kota itu tidak pernah benar-benar sunyi. Siang dan malam dipenuhi langkah manusia yang mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya sendiri. Gedung-gedung menjulang tinggi, pasar tak pernah kehilangan pembeli, dan perpustakaan terus melahirkan pengetahuan baru. Namun di balik segala kemajuan itu, aku sering menjumpai wajah-wajah yang letih, seolah mereka mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan arah untuk pulang.
Perpustakaan hampir kosong. Sinar sore menyelinap di antara rak-rak buku. Aku berdiri di depan rak tasawuf. Aku lihat buku Al-Ghazali, Ibnu 'Arabi, Rumi dan Suhrawardi.
"Jagalah dirimu!" Suara itu kembali menyapa.
"Hanya itu?" tanyaku. Ia menjawab: "Bukankah cukup untuk memulai?"
Aku mengambil Ihya' 'Ulum al-Din. Aku bicara kepadanya setengah berbisik: "Buku ini memberiku banyak jawaban."
Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Hayy tidak lagi memandang ke jalanan. Pandangannya tertuju lurus pada meja kayu, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat.
Hayy menggeser cangkir kopinya yang sudah dingin. Menatap Asfar yang memainkan ponsel. Hayy memulai pembicaraan, "Asfar, aku tidak sedang mencari pelipur lara. Aku tidak butuh ditenangkan dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua sandiwara eksistensi ini?"
Pernikahan Nabi Muhammad ﷺ dengan Khadijah binti Khuwailid merupakan salah satu peristiwa penting dalam sirah. Mayoritas riwayat sejarah menyebut Nabi berusia 25 tahun ketika menikah, sementara usia Khadijah diperselisihkan antara 40 tahun dan 28 tahun.
MEMBACA naskah Wawacan Samaun ini membuat saya hampir menyerah. Sebab dari huruf-huruf Arab Pegon yang tertera dalam naskah sulit dibaca. Ada perubahan huruf dan terdapat huruf yang tidak bisa disambung, ternyata disatukan dengan dipaksakan. Mungkin model penulisan demikian yang berlaku pada masa itu. Karena itu, saat membaca dan menyalin ulang dalam latin hanya mengira-ngira. Beberapa huruf pada bagian ujung naskah sangat tidak terbaca. Ada yang terpotong sehingga memerlukan kecermatan dalam menerka.
Beruntung saya dibantu istri dalam mengerjakan naskah ini. Kalau sulit dibaca, istri mengira-ngira dan hasil perkiraan itu dipilih yang dirasa nyambung dan berkaitan dengan isi naskah ini. Sangat pasti transliterasi ini kurang sempurna. Namun, inilah pekerjaan filologi kedua dalam hidup saya. Sebelumnya, saat kuliah S1 tugas filologi transliterasi naskah Amir Hamzah. Tuntas pula dikerjakan karena naskah tersebut tidak utuh karena pengerjaannya dibagi dalam kelompok. Kemudian disatukan. Hanya saja apresiasi, komentar atas naskah bersifat tersendiri.
IMAM Al-Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari memuat sebuah hadits dengan sanad dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sedang mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Nabi Muhammad saw berkata, “Marilah, akan kutuliskan untuk kalian suatu wasiat yang dengannya kalian tidak akan sesat sepeninggalku.”
Namun salah seorang sahabat yang hadir, Umar bin Khaththab, langsung berkomentar, “Nabi dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai al-Quran. Cukuplah Kitab Allah itu bagi kita.”
Tahun ke-5 Kenabian—atau sekitar tahun 615 Masehi ketika Rasulullah SAW berusia 45 tahun—menjadi salah satu masa paling penting dan penuh ujian dalam sejarah umat Islam di Makkah. Pada periode ini, dakwah Islam yang mulai disampaikan secara terbuka menghadapi perlawanan yang semakin keras dari para pemimpin Quraisy.
Merujuk pada kitab-kitab sejarah klasik seperti Sirah Ibnu Ishaq (yang disempurnakan oleh Ibnu Hisyam) dan Tarikh ath-Thabari bahwa pada tahun ke-5 kenabian ini memotret keteguhan hati, kematangan strategi, dan kehangatan keluarga Nabi Muhammad SAW di tengah himpitan krisis.
Tiba-tiba, udara di ruangan terasa bergeser. Di kursi seberangku, duduk seorang pemuda dengan tatapan mata yang gelisah sekaligus penuh ambisi. Ia adalah aku, saat masih muda.
Mengapa tasawuf tetap relevan di zaman sekarang?
Karena krisis terbesar manusia modern sering kali bukan krisis ekonomi atau krisis teknologi, melainkan krisis makna. Banyak orang memiliki pekerjaan, tetapi kehilangan tujuan. Banyak orang memiliki teman di media sosial, tetapi merasa kesepian. Banyak orang memiliki berbagai fasilitas hidup, tetapi tidak menemukan ketenangan.
Pernahkah kita merasa lelah di tengah kesibukan hidup? Semua kebutuhan tampak terpenuhi, pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya, teknologi semakin canggih, tetapi hati tetap terasa kosong. Kita tahu apa yang harus dilakukan setiap hari, tetapi kadang lupa untuk apa semua itu dijalani.
Malam kembali menyapa. Hanya diam. Pikiran terfokus. Kembali gumam dalam benak. Entah pikiran atau hati. Tak perlu diperdebatkan. Yang jelas ada gumam dalam diri. Ruhaniyah bukan jasadiyah. Tak jelas yang berkecamuk. Antara memikirkan hidup beserta lika likunya dan merencanakan beralih profesi. Apa ya kira-kira?
Karbala masih kuingat. Saat aku tak bisa lantunkan likhomsah. Bagaimana bisa di tanah yang kupijak itu bayang sejarah tampak dipelupuk mata. Tak bisa kulisankan.
Jalan sambil terkenang. Betapa biadab dan nista mereka kepada keluarga suci. Tragedi yang tragis. Ini memang nyata dan berdampak besar dalam sejarah umat. Aku tahu dari buku sejarah. Aku tahu dari narasi yang dibaca tiap asyura.
Bertanya tentang jiwa, aku diberi mimpi mati. Bertanya tentang raga, aku diberi sakit. Bertanya tentang ada, yang muncul ketiadaan.
Kuberitahu pada diri bahwa aku fana. Mata dan pikiran fokus satu pandangan. Dalam dan menukik. Hingga bayang Sang Guru sekelebat hadir. Tidak menyapa. Melihat dan meninggalkan aku.
Pendahuluan
Di antara karya-karya simbolik Syihabuddin Yahya ibn Habasy ibn Amirak al-Suhrawardi (549–587 H/1154–1191 M), filsuf besar Persia yang dikenal sebagai Syaikh al-Isyrāq (Master of Illumination) atau al-Maqtul (Sang Syahid), terdapat sebuah risalah yang sangat indah berjudul Risālah fī Ḥaqīqat al-'Isyq atau Mu'nis al-'Ushshāq (Sahabat Para Pecinta).
Dalam risalah tersebut, Suhrawardi mengembangkan suatu metafisika cinta yang berakar pada filsafat cahaya (ḥikmat al-isyrāq), yakni pandangan bahwa seluruh realitas merupakan gradasi cahaya yang bersumber dari Cahaya segala Cahaya (Nūr al-Anwār).