MEMBACA naskah Wawacan Samaun ini membuat saya hampir menyerah. Sebab dari huruf-huruf Arab Pegon yang tertera dalam naskah sulit dibaca. Ada perubahan huruf dan terdapat huruf yang tidak bisa disambung, ternyata disatukan dengan dipaksakan. Mungkin model penulisan demikian yang berlaku pada masa itu. Karena itu, saat membaca dan menyalin ulang dalam latin hanya mengira-ngira. Beberapa huruf pada bagian ujung naskah sangat tidak terbaca. Ada yang terpotong sehingga memerlukan kecermatan dalam menerka.
Beruntung saya dibantu istri dalam mengerjakan naskah ini. Kalau sulit dibaca, istri mengira-ngira dan hasil perkiraan itu dipilih yang dirasa nyambung dan berkaitan dengan isi naskah ini. Sangat pasti transliterasi ini kurang sempurna. Namun, inilah pekerjaan filologi kedua dalam hidup saya. Sebelumnya, saat kuliah S1 tugas filologi transliterasi naskah Amir Hamzah. Tuntas pula dikerjakan karena naskah tersebut tidak utuh karena pengerjaannya dibagi dalam kelompok. Kemudian disatukan. Hanya saja apresiasi, komentar atas naskah bersifat tersendiri.
Kemudian di kuliah S2 di program studi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN SGD Bandung ini bertemu lagi naskah (kajian filologi). Tentunya mengingatkan lagi pada pelajaran filologi terdahulu saat kuliah S1 di program studi Sejarah dan Peradaban Islam.
Bedanya dalam belajar kali ini saya dapat pengetahuan filologi yang lebih luas dan cukup mendalam. Terasa menambah pengetahuan ketika pengerjaan tugas review dari naskah-naskah suntingan filologi. Meski minim teori, tetapi secara praktik saya cukup paham dan bisa melakukannya meski dalam waktu yang lama. Seperti naskah Wawacan Samaun ini yang dikerjakan dalam waktu dua bulan penuh karena waktunya harus berbagi dengan tugas mata kuliah lainnya. Meski tertatih-tatih dalam mengerjakan naskah Wawacan Samaun ini, akhirnya selesai juga.
Wawacan Samaun
Nah, apa isi naskah Wawacan Samaun ini? Wawacan Samaun bukan naskah sejarah. Namun, memberikan informasi sejarah Nabi Muhammad saw di Mekah dalam masa dakwah. Hanya saja informasi sejarahnya bercampur antara fakta dan fiksi sehingga membutuhkan konfirmasi dari kitab sirah dan tarikh yang tepercaya. Karena itu, naskah ini layak disebut semacam fiksi sejarah. Memasukan tokoh fiktif dalam alur sejarah. Bila tidak kritis atau belum membaca utuh sejarah Nabi, pasti akan dikatakan bahwa Samaun, atau naskah ini bisa dianggap benar-benar ada dalam sejarah Rasulullah saw. Di sini pentingnya belajar sejarah secara utuh sehingga mampu membedakan yang fakta dan fiksi; yang benar dan yang khayal, dan lainnya.
Samaun adalah putra pasangan Halid dan Hunah. Saat lahir langsung sudah Islam dan bisa bicara kemudian menolak menyusu kepada ibunya. Samaun tidak mau karena ibunya masih kafir. Samaun menyusu pada jari tangan sendiri. Bapaknya pun heran dengan anaknya yang bisa bicara dan meminta untuk masuk Islam. Karena dianggap anugerah dari Allah maka orangtua Samaun masuk Islam.
Malaikat Jibril disebutkan memberitahu Nabi mengenai kelahiran Samaun. Kemudian mendatanginya. Keluarga mempersilakan masuk kepada Nabi. Ketika sudah duduk, Samaun dari kamar langsung berlari mencium tangan Nabi dan memberikan penghormatan layaknya kepada raja. Samaun ini dikenal sebagai anak yang istimewa, menjadi murid Nabi, dan membuat takut kalangan kafir Quraisy. Abu Jahal kala bertemu dengan Samaun sangat ketakutan.
Samaun diceritakan mengambil anak perempuan Abu Jahal pada malam hari dan mengislamkannya dan dinikahi. Abu Jahal marah dan menyuruh pengawalnya untuk menyerang. Namun, tidak berhasil malah dikalahkan Samaun. Lantas, kalangan kafir Quraisy menyalahkan keberadaan Nabi yang membuat suasana Mekah berada penuh khawatir. Namun, tidak berani langsung karena ada Samaun yang ditakuti kaum kafir karena kesaktiannya yang mampu mengalahkan ratusan orang kafir ketika mengepung rumahnya.
Meski ada tokoh Nabi, tetapi peran dakwah Islam tidak dimunculkan. Hanya tokoh Samaun yang mengisi jalannya cerita dari narasi Wawacan Samaun. Tokoh Samaun ini diceritakan memberikan pertolongan kepada Nabi Muhammad saw dari reka perdaya kaum kafir Mekah.
Dalam buku-buku sirah dan tarikh, tidak ada sosok yang seperti Samaun. Tampaknya ini sengaja dimasukan untuk menunjukan pembelaan orang-orang kecil terhadap Nabi Muhammad saw. Gambaran situasi dan kondisi kehidupan Samaun tidak sesuai dengan gambaran geografis Mekah, Arab. Dalam naskah ini digambarkan mirip dengan lingkungan Tatar Sunda.
Dalam Wawacan Samaun disebutkan bahwa Kangjeng Nabi Muhammad di Madinah dan Ki Barid disuruh oleh Mariyah dari Nagari Suara supaya mendatanginya dan meminta Nabi untuk dinikahi. Ternyata pada bagian lain disebutkan di Mekah dan banyak disebut dalam beberapa bagian. Tampaknya si penyalin tidak mengoreksi tulisannya sehingga bisa salah dalam penulisan tempat. Utusan Nabi disuruh untuk melamar Mariyah, tetapi tidak berhasil memboyongnya.
Di Mekah, istri Nabi yang bernama Aisyah mengompori Nabi supaya memerangi Nagari Suara untuk mengambil Mariyah. Peran Aisyah ini dalam sejarah Islam kadang muncul dalam situasi yang sama, wanita yang senang mengumbar amarah dan berujung pertumpahan darah. Sejarah mengisahkan Perang Jamal ada peran Aisyah yang memerangi Ali bin Abi Thalib ra, khalifah Islam. Kasus pembunuhan Usman juga terdapat peran Aisyah yang mengompori kalangan muda seperti Ammar bin Yasir, Muhammad bin Abu Bakar, dan lainnya hingga terjadi pembunuhan terhadap Usman.
Si pembuat cerita dalam Wawacan Samaun ini menampilkan Aisyah menyesuaikan dengan karakter yang ada dalam sejarah. Dalam naskah ini Aisyah dipuji sebagai istri Nabi yang salehah karena memperkenankan Nabi untuk poligami dengan Mariyah. Secara historis gambaran Aisyah ini bertentangan karena dalam sejarah bahwa Aisyah sering membuat Nabi marah hingga pernah berniat diceraikan. Aisyah menolak Nabi menikahi perempuan lainnya. Al-Quran pun menceritakan Aisyah dan Hafsah (istri Nabi) dalam surah At-Tahrim sebagai wanita yang membuat Nabi marah karena telah membocorkan rahasia dan menghina Mariyah sebagai budak. Perilaku itu membuat Nabi marah sampai hendak diceraikannya. Allah memerintahkan Nabi untuk memberikan kesempatan kepada kedua istrinya agar bertobat.
Dalam Wawacan Samaun ini, sejumlah tokoh fiktif muncul: Halid, Hunah, Samaun, Barid, Harob, Kinwan, Patih, dan lainnya. Sementara tokoh yang faktual dalam Wawacan Samaun ini adalah Kangjeng Nabi Muhammad, Abu Jahal, Aisah, Mariyah, Kobti, Surakah, Abu Bakar, Umar, Usman, Saad, Jubair, dan Sayid Ali Murtado.
Peran Nabi dalam naskah ini tidak besar seperti peran Samaun. Tokoh Samaun mendapatkan ruang yang besar dan menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Samaun digambarkan: anak sakti, mampu mengalahkan ratusan pasukan kafir, mampu mengalahkan jawara Kinwan, sanggup melawan ribuan pasukan dari nagari Suara yang dipimpin raja Kobti, tahan derita akibat sabetan senjata tajam, dan mampu mengembalikan badannya yang sudah terkena luka hanya dengan doa. Membaca perilaku Samaun dalam naskah ini mirip dengan kisah dalam film-film laga yang pernah di beredar di bioskop Indonesia.
Kembali pada Wawacan Samaun. Mariyah merupakan tokoh historis dan memang menjadi istri Nabi. Hanya saja jalan untuk mendapatkan Mariyah tidak sesulit yang dikisahkan dalam naskah ini. Dalam sejarah, Mariyah diberikan oleh raja Mesir kepada Nabi Muhammad saw atas seruan dakwah dan dikehendaki untuk dinikahi oleh orang yang sama-sama memiliki kedudukan tinggi di Jazirah Arab. Putri dari Raja Mesir ini dinikahi oleh Nabi Muhammad saw dalam usia yang tidak muda lagi. Dari pernikahan dengan Mariyah, lahir Sayid Ibrahim putra Nabi Muhammad saw. Namun, wafat dalam kondisi yang masih balita yang membuat Nabi bersedih hati. Bersamaan dengan wafat putra Nabi ini terjadi gerhana. Peristiwa ini oleh orang-orang Madinah dihubungkan dengan duka Nabi sehingga alam semesta pun turut berduka hingga terjadi gerhana. Lalu, dikoreksi Nabi bahwa alam semesta ini berada dalam kehendak Allah.
Masih berkaitan dengan Mariyah bahwa hubungan raja Mesir dengan Rasulullah saw dalam sejarah termasuk baik dan tidak ada konflik. Namun dalam naskah ini, Mariyah didapatkan dengan jalan perang kemudian dibawa oleh Samaun untuk dinikahi Nabi. Pernikahan dengan Mariyah memang terjadi, tetapi tempatnya di Madinah dan bukan di Mekah. Ini juga bagian dari kesalahan pembuat cerita Wawacan Samaun.
Di akhir cerita, peran Samaun tidak muncul. Disebutkan karena raja Kobti terus mengerahkan tentaranya pasukan Islam mulai terdesak. Nabi memerintahkan Sayid Ali Murtado untuk memerangi mereka. Samaun yang terluka dan berhasil membawa Mariyah diminta untuk istirahat oleh Nabi. Sayid Ali yang kemudian memukul mundur pasukan Kobti. Bahkan, dinding kerajaan yang terbuat dari besi hancur ketika disentuh Sayid Ali. Pasukan Kobti yang bersembunyi dalam “kuta beusi” tidak ada mampu melawan Sayid Ali. Raja Kobti pun kalah ketika berhadapan dengan Sayid Ali. Kerajaan Kobti pun hancur oleh Sayid Ali. Peran sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Usman, Jubair, dan Saad hanya disebutkan membantu. Tidak diberi ruang sebagaimana peran Sayid Ali dan Samaun.
Cerita keperkasaan Sayid Ali melawan pasukan Kobti dan menghancurkan “kuta beusi” dalam sejarah Nabi memang terjadi. Namun bukan melawan sosok Kobti, tetapi Marhab tokoh Yahudi Haibar. Peristiwa ini berkaitan dengan Perang Haibar melawan kaum Yahudi yang menentang Rasulullah saw. Benteng Haibar terkenal kokoh dan terbuat dari beusi dengan benteng yang tinggi mengeliligi kompleks perumahan kaum Yahudi Haibar. Ketika menyerang, dari pasukan Nabi tidak ada bisa merobohkan pintu Haibar. Karena sekian hari tidak berhasil menaklukan Haibar, Nabi meminta Abu Bakar dan Umar untuk memimpin pasukan menyerang. Namun, tidak berhasil malah ada yang terkena tembakan panah dari orang-orang Yahudi dari baik benteng Haibar. Karena dua sahabat itu tidak mampu, Rasulullah saw memanggil Sayid Ali dan menyerahkan panji hitam untuk melawan Yahudi Haibar dan meruntuhkan benteng supaya pasukan Islam bisa masuk menyerang musuh. Sejarah mengisahkan Sayid Ali berhasil mengangkat pintu dan meruntuhkan benteng Yahudi Haibar. Bahkan, pendekar ahli pedang Yahudi yang bernama Marhab yang ditakuti orang-orang tidak bisa mengalahkan Sayid Ali.
Berdasarkan naskah Wawacan Samaun, ada dua tokoh perkasa: Samaun
dan Sayid Ali. Yang pertama fiktif dan yang kedua faktual. Mengapa Samaun masuk
dalam sejarah Nabi versi Wawacan Samaun ini?
Analisa Teks
Dalam kajian post-strukturalisme, Michel Foucault menyatakan "teks" tidak berdiri sendiri. Kehadirannya tidak lepas dari relasi kuasa. Kehadiran teks selalu dibayangi dengan teks lainnya. Inilah yang disebut intertekstualitas; hubungan antar teks, hubungan peristiwa dengan peristiwa lainnya. Karena itu, Wawacan Samaun ini merujuk pada suatu teks lain. Bukan saja sambung menyambung atau saling sebar dalam tradisi lisan, tetapi ada "teks" lain yang mendorong lahirnya naskah ini. Tentu dibaliknya ada kepentingan dan maksud dari hadirnya "teks" tersebut. Persoalan “teks” lain harus dilihat dari jiwa zaman yang berkembang saat ditulisnya Wawacan Samaun. Tentu harus dirunut hingga naskah awal sehingga bakal ketahuan situasi dan kondisi yang mempengaruhi dari sang penulis/pembuat naskah Wawacan Samaun ini. Sampai sekarang ini, meski saya cek dalam internet dan tesis karya T.Christomy tidak diketahui asal usul dari Wawacan Samaun ini.
Dalam Wawacan Samaun ini tidak ditemukan titimangsa dibuat. Pada buku Wawacan Samaun karya T. Christomy (yang merupakan hasil penelitian tesis) disebutkan bahwa naskah yang berbahasa Sunda dengan huruf Arab Pegon merupakan salinan. Terdapat pula naskah lain yang mengisahkan Samaun dalam bahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Dalam bahasa Sunda sendiri ada versi Pangalengan dan Banjaran. Yang diteliti oleh Christomy adalah naskah versi Pangalengan.
Kalau dibandingkan dengan naskah Wawacan Samaun ini, naskah yang diteliti Christomy ada sedikit kesamaan dari alur dan tokoh. Wawacan Samaun yang diteliti oleh Christomy lebih lengkap dari cerita dan bersifat kronologis. Sedangkan yang saya transliterasi ini tidak runtut dan perpindahan alurnya terasa ada lompatan. Tidak konsisten dalam penulisan nama depan. Untuk tokoh Samaun diawali dengan “Ki” atau “Raden”. Untuk malaikat kadang “Jibril“, “Jabroil”, dan untuk panggilan perempuan kadang “Nyi” dan “Siti”. Ini juga yang dilekatkan pada ibu Samaun, kadang Siti Hunah atau Nyi Hunah. Begitu pun pada pasukan kadang “perjurit”, “parajurit” atau “prajurit”. Tidak konsistensi dalam menuliskan ini kemungkinan saat penulisan/penyalinan. Maklum tulis tangan sehingga kalau salah sulit untuk diperbaiki.
Berkaitan dengan titimangsa, naskah yang dikaji oleh Christomy diketahui ditulis ulang oleh Juhria, mulai 28-1-1392 hingga 13-2-1392/18-3-1973 M. Sedangkan yang saya kerjakan tidak tercantum nama penyalin. Saya mengira naskah asli Wawacan Samaun ini ditulis sebelum tahun 1973.
Meski tergolong tua, naskah Wawacan Samaun ini tidak bisa dijadikan sumber sejarah. Apalagi untuk merekonstruksi sejarah Nabi Muhammad saw. Tidak bisa dijadikan sumber karena tidak berdasar pada pengetahuan sejarah yang terdahulu, khususnya dari kitab tarikh dan sirah yang ditulis para ulama yang dari zaman tidak begitu jauh rentang abad dengan masa hidup Nabi.
Karena itu, naskah Wawacan Samaun (yang ditugaskan) ini tidak masuk dalam kategori sumber sejarah karena aspek fiktif lebih dominan. Belum lagi sumber informasi penulisan pun tidak berdasarkan pada sumber-sumber utama dalam kajian Islam. Maka naskah Wawacan Samaun ini bisa masuk kategori sastra Islam. Demikian analisa yang bisa disajikan. ***
Bandung, 24 Desember 2014
