Senin, 27 Juli 2026

(Cerpen) Midlife


Di tengah keheningan rumah, aku duduk di hadapan meja kerja. Di sana tergelar kitab Sirah Nabawiyyah klasik yang tebal dan laptop usang yang mengantarkan suara dan gambar pada orang-orang maya.

Tiba-tiba, udara di ruangan terasa bergeser. Di kursi seberangku, duduk seorang pemuda dengan tatapan mata yang gelisah sekaligus penuh ambisi. Ia adalah aku, saat masih muda.

Minggu, 26 Juli 2026

Keteguhan di Tengah Badai: Membaca Kehidupan Rasulullah SAW pada Tahun Ke-5 Kenabian


Tahun ke-5 Kenabian—atau sekitar tahun 615 Masehi ketika Rasulullah SAW berusia 45 tahun—menjadi salah satu masa paling penting dan penuh ujian dalam sejarah umat Islam di Makkah. Pada periode ini, dakwah Islam yang mulai disampaikan secara terbuka menghadapi perlawanan yang semakin keras dari para pemimpin Quraisy.

Merujuk pada kitab-kitab sejarah klasik seperti Sirah Ibnu Ishaq (yang disempurnakan oleh Ibnu Hisyam) dan Tarikh ath-Thabari bahwa pada tahun ke-5 kenabian ini memotret keteguhan hati, kematangan strategi, dan kehangatan keluarga Nabi Muhammad SAW di tengah himpitan krisis.

Kamis, 16 Juli 2026

Tasawuf (masih) Relevan di Zaman Sekarang

 Mengapa tasawuf tetap relevan di zaman sekarang? 

Karena krisis terbesar manusia modern sering kali bukan krisis ekonomi atau krisis teknologi, melainkan krisis makna. Banyak orang memiliki pekerjaan, tetapi kehilangan tujuan. Banyak orang memiliki teman di media sosial, tetapi merasa kesepian. Banyak orang memiliki berbagai fasilitas hidup, tetapi tidak menemukan ketenangan.

Rabu, 15 Juli 2026

(Cerpen) Bukan Mencari Pelipur Lara

Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Kamu tidak lagi memandang ke jalanan. Pandanganmu tertuju lurus pada meja kayu di hadapan kita, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat.

Kamu menggeser cangkir kopimu yang sudah dingin.

Selasa, 14 Juli 2026

Tasawuf (yang) Sejati

Pernahkah kita merasa lelah di tengah kesibukan hidup? Semua kebutuhan tampak terpenuhi, pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya, teknologi semakin canggih, tetapi hati tetap terasa kosong. Kita tahu apa yang harus dilakukan setiap hari, tetapi kadang lupa untuk apa semua itu dijalani. 

Minggu, 12 Juli 2026

(Cerpen) Membunuh Bayangan

Ini bukan di nagari antah barantah. Bukan pula nagari keadilan dan kebenaran. Ini negeri yang bukan sesungguhnya. Negeri yang masih dipenuhi rakyat cinta ilmu dan memiliki impian yang besar untuk mengembangkan peradaban manusia yang paripurna. 

Di sini mulai ceritanya. Di balairung kerajaan yang dipenuhi cahaya obor. Malam yang kian dingin. Para bangsawan berbisik, wajah mereka penuh intrik. Sang Raja duduk di singgasana, matanya tajam menembus kerumunan. Di hadapan beliau, seorang penasihat muda berdiri dengan wajah muram.

Sabtu, 11 Juli 2026

Selalu Ada Pilihan

Malam kembali menyapa. Hanya diam. Pikiran terfokus. Kembali gumam dalam benak. Entah pikiran atau hati. Tak perlu diperdebatkan. Yang jelas ada gumam dalam diri. Ruhaniyah bukan jasadiyah. Tak jelas yang berkecamuk. Antara memikirkan hidup beserta lika likunya dan merencanakan beralih profesi. Apa ya kira-kira? 

Rabu, 08 Juli 2026

(Cerpen) Jagad Rasa

     1

NAMAKU Jagad Rasa. Aku dikenal sebagai orang luar biasa dan kaya. Kekayaanku berasal dari keluargaku, warisan turun-temurun dari nenek moyangku. Tak habis-habis hingga masa generasiku. Aku sendiri tak tahu, entah generasi ke berapa. Tapi itu tak menjadi masalah buatku. Itu sebabnya aku tak mempersoalkannya. Yang menjadi persoalanku adalah kabar-kabar yang sering kuterima dari orang-orang sekitarku bahwa aku orang yang bisa lintas batas.  Di dunia basah aku tak kedinginan. Di dunia panas aku tak terbakar. Di dunia sunyi aku tak kesepian. Di dunia ramai aku tak terganggu. Karena itulah aku dijuluki wujud tanpa batas.

Julukan itu melekat padaku bermula dari kedatangan Sang Ajal yang hendak mengambil nyawaku. Suatu hari ia menemuiku untuk mencabut nyawaku. Karena aku orang yang percaya bahwa segala suatunya telah ditentukan, maka kurelakan ia mengambil nyawaku. Meski itu satu-satunya yang kumiliki dan tak ada cadangan. Kalau ada, mungkin semua orang bisa mengulangi kejadian atau aktivitasnya menjadi lebih baik dan sempurna. Sayang, tak ada yang bisa membuatnya selain pemiliknya.

Sabtu, 04 Juli 2026

Bulan di Ujung Kembara

Bulan Juli merayap cepat. Bulan sebelumnya menghempas di ujung kembara. 

Karbala masih kuingat. Saat aku tak bisa lantunkan likhomsah. Bagaimana bisa di tanah yang kupijak itu bayang sejarah tampak dipelupuk mata. Tak bisa kulisankan.

Jalan sambil terkenang. Betapa biadab dan nista mereka kepada keluarga suci. Tragedi yang tragis. Ini memang nyata dan berdampak besar dalam sejarah umat. Aku tahu dari buku sejarah. Aku tahu dari narasi yang dibaca tiap asyura.

Jumat, 03 Juli 2026

(Cerpen) Bersama Lelaki Tua


1

"Apakah telingamu masih berdenging?"

Pertanyaan itu datang dari seorang lelaki tua yang hampir setiap sore duduk di serambi musala, di sebuah makam. 

Di hadapannya, secangkir kopi mulai kehilangan uap, sementara matanya memandang pohon asam yang bergoyang pelan diterpa angin.

Rabu, 01 Juli 2026

Sesi Fana

 

Bertanya tentang jiwa, aku diberi mimpi mati. Bertanya tentang raga, aku diberi sakit. Bertanya tentang ada, yang muncul ketiadaan.

Kuberitahu pada diri bahwa aku fana. Mata dan pikiran fokus satu pandangan. Dalam dan menukik. Hingga bayang Sang Guru sekelebat hadir. Tidak menyapa. Melihat dan meninggalkan aku.