Minggu, 13 September 2026

(cerpen) Kaki Bukit Sangiang

Kota itu tidak pernah benar-benar sunyi. Siang dan malam dipenuhi langkah manusia yang mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya sendiri. Gedung-gedung menjulang tinggi, pasar tak pernah kehilangan pembeli, dan perpustakaan terus melahirkan pengetahuan baru. Namun di balik segala kemajuan itu, aku sering menjumpai wajah-wajah yang letih, seolah mereka mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan arah untuk pulang.

Kegelisahan itulah yang mempertemukanku dengan seorang guru di kaki bukit Sangiang. Tanpa banyak bicara, ia mengajakku meninggalkan kota. Semakin jauh kami melangkah, makin tipis kebisingan dunia. Jalan berbatu berubah menjadi hutan yang teduh, lalu hutan berganti lereng pegunungan. Di sana angin tidak sekadar bertiup; ia seperti membawa bisikan yang telah lama dilupakan manusia.

Di puncak gunung terbentang sebuah taman yang tidak diterangi matahari, tetapi segala sesuatu memancarkan cahaya dari dirinya sendiri. Pepohonan, batu-batu, bahkan embun di ujung daun berkilau lembut, seolah seluruh alam sedang mengingat asal-usulnya.

Sang Guru berkata, "Keindahan bukan milik bentuk. Ia adalah jejak cahaya."

Barulah aku memahami mengapa hati manusia selalu terpikat dengan keindahan. Bukan karena mata menyukai rupa, melainkan karena ruh mengenali pantulan cahaya yang menjadi asalnya.

Di tengah taman itu kulihat tiga sosok yang berdiri dalam keheningan. Yang pertama memancarkan kedamaian. Guru menyebutnya Husnu. Dari dirinya lahir segala yang membuat manusia mengagumi keberanian, kejujuran, kasih sayang, dan kebenaran.

Di sampingnya, berdiri 'Isyqu. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan tenaga yang membuat benih menembus tanah, pencari ilmu menghabiskan hidupnya, seorang pecinta terpaut pada sosok yang dicintainya, dan seorang mukmin tetap berjalan menuju Tuhannya meski jalannya penuh luka.

Kemudian tampak sosok di kejauhan yang duduk. Inilah sosok ketiga. Matanya basah, tetapi wajahnya tenang meski dirundung duka. Dialah Huznu. Guru menjelaskan bahwa tidak semua air mata lahir dari keputusasaan. Ada air mata yang menjaga agar jiwa tidak pernah merasa cukup hidup jauh dari cahaya.

Perlahan taman itu memudar. Di hadapanku kini terbentang padang Karbala. Di tengah terik gurun berdiri Imam Husain bersama para sahabatnya. Jumlah mereka sedikit, tetapi cahaya keberanian memenuhi tempat itu. Saat itulah aku melihat Husnu menjelma kemuliaan akhlak, 'Isyqu menjelma pengorbanan, dan Huznu menjelma duka yang sepanjang zaman menjaga manusia agar tidak berdamai dengan kezaliman.

Ketika penglihatan itu berakhir, kami kembali berada di lereng gunung. Guru memandang kota yang tampak jauh di bawah sana.

"Manusia sering mengira hidup adalah tentang memiliki," ujarnya lirih. "Padahal hidup adalah perjalanan kembali."

Aku menoleh sekali lagi ke arah taman cahaya yang perlahan menghilang bersama kabut pagi. Saat itulah aku mengerti, jalan pulang selalu dimulai dari satu perjumpaan: ketika jiwa melihat keindahan, lahirlah cinta; ketika cinta belum menemukan pelabuhannya, lahirlah kerinduan. Dan kerinduan itulah yang diam-diam menuntun setiap pengembara menuju cahaya di atas cahaya. ***