Minggu, 26 Juli 2026

Keteguhan di Tengah Badai: Membaca Kehidupan Rasulullah SAW pada Tahun Ke-5 Kenabian

Tahun ke-5 Kenabian—atau sekitar tahun 615 Masehi ketika Rasulullah SAW berusia 45 tahun—menjadi salah satu masa paling penting dan penuh ujian dalam sejarah umat Islam di Makkah. Pada periode ini, dakwah Islam yang mulai disampaikan secara terbuka menghadapi perlawanan yang semakin keras dari para pemimpin Quraisy.

Merujuk pada kitab-kitab sejarah klasik seperti Sirah Ibnu Ishaq (yang disempurnakan oleh Ibnu Hisyam) dan Tarikh ath-Thabari bahwa pada tahun ke-5 kenabian ini memotret keteguhan hati, kematangan strategi, dan kehangatan keluarga Nabi Muhammad SAW di tengah himpitan krisis.

1. Puncak Tekanan di Makkah

Dalam Tarikh ath-Thabari dicatat bahwa pada tahun ke-5 kenabian, konflik di Makkah makin memuncak. Para pembesar Quraisy merasa risalah Islam mengancam posisi, ekonomi, dan tradisi nenek moyang mereka.

Tekanan yang dilancarkan tidak lagi sebatas hinaan atau kata-kata, melainkan sudah berubah menjadi kekerasan fisik. Para budak dan masyarakat lemah yang masuk Islam disiksa secara kejam (seperti yang dialami keluarga Ammar bin Yasir dan Bilal bin Rabah). Intimidasi jalanan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Abu Jahal dan Abu Lahab pun makin menjadi-jadi.

2. Benteng Pelindung: Abu Thalib dan Keluarga Besar

Di tengah teror yang meluas, keselamatan fisik Nabi SAW sangat terbantu oleh sistem solidaritas kesukuan Makkah saat itu. Ibnu Ishaq dalam Sirah Ibnu Hisyam mencatat peran besar paman Nabi, Abu Thalib. Sang paman berdiri paling depan membela keponakannya. Ketika para pemimpin Quraisy mendesak agar Nabi diserahkan atau dihentikan dakwahnya, Abu Thalib menolak keras. Abu Thalib mengumpulkan seluruh keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Mereka semua sepakat merapatkan barisan untuk melindungi Rasulullah SAW dari ancaman pembunuhan suku-suku lain. Di antara Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib hanya Abu Lahab yang membelot dan memilih memusuhi Nabi.

3. Peristiwa Besar: Hijrah Pertama Umat Islam ke Habasyah

Melihat para sahabatnya yang tidak memiliki perlindungan keluarga kuat terus disiksa, Rasulullah SAW mengambil keputusan besar demi keselamatan mereka. Beliau menyarankan agar kaum Muslimin mengungsi sementara ke Habasyah (Ethiopia).

Rasulullah SAW bersabda: "Jika kalian pergi ke negeri Habasyah, di sana ada seorang raja yang tidak menzalimi siapa pun di sisinya. Negeri itu aman, sampai Allah memberikan jalan keluar bagi kalian."

Rombongan pertama (bulan Rajab, Tahun ke-5 Kenabian) sekira 12 laki-laki dan 4 wanita berangkat secara diam-diam menuju Pelabuhan Shuaibah untuk menyeberang Laut Merah. 

4. Suasana Hangat dalam Keluarga Nabi

Di dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'ad, tergambar jelas dinamika kehidupan rumah tangga Nabi SAW yang dipenuhi keikhlasan, rasa haru, dan kebahagiaan. 

Pertama, Nabi melepas Ruqayyah (putrinya) dan suaminya pergi ke benua lain tanpa tahu kapan bisa bertemu lagi tentu menjadi momen yang emosional bagi Nabi SAW dan Khadijah RA. 

Kedua adalah kelahiran Fathimah Azzahra. Di tengah rasa cemas dan dan beratnya tekanan dakwah, Allah memberikan hadiah indah bagi Nabi SAW dan Khadijah dengan lahirnya putri mereka, Fatimah az-Zahra. Kehadiran Fatimah kecil menjadi penawar duka dan penyejuk hati di rumah tangga beliau.

Ketiga yakni pengorbanan Khadijah, sang istri. Khadijah terus menjadi pendamping yang menguatkan jiwa dan raga Nabi. Seluruh harta bendanya ia relakan untuk membantu kebutuhan dakwah, membiayai bekal para sahabat yang berhijrah, dan menyokong kaum miskin yang tertindas.

5. Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Mutthalib

Selain perlindungan dari keluarga besar, kekuatan fisik barisan Muslimin makin solid setelah paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutthalib, masuk Islam.

Sejarah mencatat bahwa Hamzah, seorang pemburu yang sangat disegani dan berani di Makkah, masuk agama Islam karena marah setelah mendengar Abu Jahal mencaci maki Nabi SAW di dekat Bukit Shafa. Kehadiran Hamzah di barisan umat Islam memberi pukulan telak bagi mental para pemimpin Quraisy dan menjadi pelindung nyata bagi Rasulullah SAW. 

Pelajaran Penting 

Kisah tahun ke-5 kenabian Rasulullah SAW mengajarkan tentang cara bertahan di masa-masa sulit. 

Pertama bahwa seorang pemimpin sejati tidak membiarkan pengikutnya menderita sendirian, melainkan aktif mencari jalan keluar dan perlindungan bagi mereka. 

Kedua yakni  harus memiliki kemampuan berpikir jernih, tenang, dan menyusun strategi matang di tengah tekanan atau intimidasi. 

Ketiga adalah beratnya perjuangan di luar rumah diimbangi dengan kehangatan, kasih sayang, dan rasa syukur di dalam keluarga. 

Dengan melihat sejarah Nabi, bisakah kita mengambil teladannya? Percayalah Allah senantiasa bersama kita. Jangan percaya orang lain, kecuali kepada Rasulullah dan Al-Ma'shumin as. ***