Jumat, 25 September 2026

Perjuangan Menghidupi Keluarga

Kemarin siang saya ngobrol dengan Bapak berusia 70 tahun. Ia pedagang susu keliling. Menggunakan kendaraan yang dikayuh, mirip becak. Sambil membawa air kopi, ia mendekat dan menyapa saya. 

“Panas ya Kang,” ujarnya. 

Saya anggukkan kepala dan coba membuka obrolan dengan bertanya barang yang dijual, sehari dapat berapa, dan apakah rezekinya cukup untuk keluarga. 

“Dulu,” ujar Bapak, “sehari habis diedarkan dari sekolah ke sekolah. Sekarang sehari hanya terjual dua sampai empat kantong.” 

“Kok bisa begitu?” tanya saya. 

Bapak bilang karena MBG (Makanan Bergizi Gratis) membuat anak sekolah enggan jajan. Anak-anak tidak lagi banyak keluar untuk membeli jajanan. Pendapatan hariannya pun terasa menurun. 

Bapak bercerita, anak-anaknya kini sudah berkeluarga dan memintanya agar tidak lagi jualan susu. Pernah tidak jualan, tetapi tidak “puguh” (galau) dan merasa malu menganggur karena tidak ada kegiatan. Karena itu, untuk mengisi keseharian, ia kembali jualan susu. 

Saya kembali bertanya tentang rezeki. Saya coba masuk pada ranah agama. 

Bapak bilang bahwa Tuhan memang baik. Mengurusi dan mencukupi kebutuhan makhluk-Nya. “Meski terjual hanya dua kantong, tapi kadang ada orang-orang baik yang memberi rezeki berupa uang dan makanan yang bisa disantap bersama keluarga.” 

Saya sampaikan bahwa yang terpenting manusia mau berusaha, bergerak dan menjalaninya. Rezeki sudah ada yang mengatur dan manusia mengikuti arahan-Nya. 

Bapak itu mengangguk. Saya tersenyum dan pamit pergi. Saat berjalan, saya justru merasa kisah Bapak itu tidak jauh dari kehidupan saya. Sebagai guru honorer, saya pun berhadapan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat. Biaya makan, transportasi, kebutuhan keluarga dan keperluan sehari-hari perlahan naik, sementara penghasilan tidak selalu mengikuti kenaikan biaya hidup. 

Mungkin inilah wajah ekonomi bagi masyarakat kecil. Bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi bagaimana seseorang bertahan dari hari ke hari dengan penghasilan yang terbatas. Pedagang susu berjuang dengan dagangannya. Guru honorer berjuang dengan pengabdiannya. Masing-masing memiliki kebutuhan, harapan dan perjuangannya sendiri. 

Namun hidup memang demikian. Kita tidak selalu bisa memilih keadaan, tetapi masih bisa memilih untuk tetap bergerak dan berusaha. 

Saya kembali teringat pada Bapak tadi. Ia terus mengayuh kendaraannya, menjajakan susu, dan menjalani hari dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan hamba-Nya. 

Saya pun demikian. Tetap mengajar, tetap berusaha, tetap menjalani hidup. Sebab ikhtiar adalah bagian kita, sementara hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan. ***