Di tengah keheningan rumah, aku duduk di hadapan meja kerja. Di sana tergelar kitab Sirah Nabawiyyah klasik yang tebal dan laptop usang yang mengantarkan suara dan gambar pada orang-orang maya.
Tiba-tiba, udara di ruangan terasa bergeser. Di kursi seberangku, duduk seorang pemuda dengan tatapan mata yang gelisah sekaligus penuh ambisi. Ia adalah aku, saat masih muda.
Aku muda menatap sekeliling dengan kening berkerut. Ia
memulai percakapan: "Jadi... begini rupanya kehidupan kita di usia
midlife? Kenapa sunyi sekali? Di mana janji manis orang-orang yang dulu mengaku
teman dan saudara? Di mana dukungan keluarga yang dulu kita harapkan? Kenapa
kau kelihatan berdiri sendirian?"
Aku tersenyum tipis, mengelus sampul kitab di depanku. Aku
merespons: "Ini bukan keheningan yang menyiksa. Ini adalah proses
penyaringan alami. Soal pertemanan atau persaudaraan, yang ternyata palsu dan
riuh janji kosong keluarga yang tak pernah terbukti dan lainnya, ketahuilah aku
sudah berhenti meratapinya. Kita memang berdiri di atas kaki sendiri, tapi
dalam kemandirian mutlak ini, ada kedamaian yang tak terganggu oleh kepalsuan
orang lain."
Aku muda menggeleng heran, nada suaranya meninggi:
"Tapi bagaimana bisa? Di usiaku sekarang, aku berjuang mati-matian
membangun relasi, berharap kelak di usia midlife aku punya benteng pertahanan
sosial yang kokoh. Tapi kau di sini saat midlife, menyadari semua itu hanya
omong kosong. Apakah kau tidak merasa dikhianati? Apakah kau tidak
terasing?"
"Jujur, beberapa hari lalu, bahkan dua bulan lalu bahwa
rasa pahit itu sempat menyusup ke dadaku. Rasanya dingin ketika sadar tak ada
pilar keluarga atau teman yang benar-benar bisa diandalkan. Tapi lihat apa yang
baru saja kubaca tentang kisah Nabi Muhammad SAW pada tahun 615 Masehi."
Aku muda itu mendekat dan melihat buku tebal
dihadapanku. Ia berkata: "Apa yang terjadi pada beliau saat itu?"
"Pada tahun itu beliau berada di puncak krisis politik
dan sosial Makkah. Intimidasi dan boikot kaum Quraisy, yang tak lain adalah
paman-paman dan kerabat dari kabilahnya sendiri. Sangat gencar. Serangan lisan
dan non fisik Baginda Nabi terima tiada henti. Tidak hanya beliau tapi juga
sahabat dan keluarganya. Beliau terdesak, hingga harus mengambil keputusan
strategis mengirim para sahabat berhijrah ke Habasyah demi keselamatan
mereka."
Aku muda kembali berkata: "Tapi beliau setidaknya
punya pengikut. Sedangkan kita? Kita tersadar bahwa lingkaran yang kita kira
teman dan saudara ternyata hanya omong kosong."
"Di sinilah letak pergeseran jiwaku malam ini. Dalam
psikologi, usia midlife adalah pertarungan antara generativity, semacam
dorongan memberi manfaat, dan stagnation. Melalui sirah Nabawiyyah ini, aku
sadar bahwa keteguhan seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa ramai
orang di sekelilingnya. Nabi di usia tersebut mengajarkan bahwa ketika dunia
luar riuh dengan penolakan dan kepalsuan, integritas dan prinsip hidup adalah
satu-satunya pegangan sejati. Beliau tetap menjadi tempat berteduh dan benteng
kebaikan, tanpa bergantung pada validasi dari kerabatnya."
Aku muda terdiam sejenak, menatap lebih dalam. Kembali
berkata: "Jadi... kau tidak merasa patah hati lagi dengan pertemanan atau
persaudaraan, yang kau bilang hanya wacana saja?"
"Untuk apa meratapi topeng yang terbuka? Kehilangan
dukungan yang palsu sejatinya adalah bentuk perlindungan Tuhan agar kita tidak
bersandar pada tiang yang lapuk. Kesendirian ini bukan hampa, melainkan khalwat
untuk menata jiwa dan berbisik langsung pada Sang Pencipta. Berdiri mandiri
tanpa topeng-topeng sosial saat usia midlife justru adalah sebuah kebebasan
spiritual yang sangat mewah."
Sang aku muda menghela napas panjang. Ia duduk
kemudian bersuara lagi: "Rupanya kekecewaan pada manusia tidak membuat
kita hancur. Kita justru menjadi lebih utuh dan tidak mudah digoyahkan.
Begitukah?"
"Sangat utuh. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa saat tak
ada manusia yang bisa dijadikan sandaran, cukuplah Allah sebagai penopang
utama. Aku tidak lagi butuh keramaian yang palsu. Kemandirian dan kedamaian
batin adalah jawaban terbaik untuk semua kecemasan yang pernah engkau alami.
Sekarang aku harus meraihnya dengan penuh damai dan akal tercerahkan. Sekarang
aku mulai membaca kembali buku-buku hikmah dari Mulla Shadra, Suhrawardi
Al-Maqtul dan Murtadha Muthahhari serta kearifan Kang Jalal. Tentu saja Nahjul
Fashahah, Shahifah Sajjadiyyah, Mafatih Al-Jinan, Nahjul Balaghah, dan Al-Quran
al-kariim sebagai bacaan yang tak boleh dilewatkan untuk hari-hariku."
Sang aku muda di seberang meja itu tersenyum tenang. Lalu
perlahan sosoknya memudar bersama embusan angin malam. Aku pun meninggalkannya
untuk menyongsong esok hari. Adakah ia? Inilah misteri.
Aku kembali sendirian. Di ruang yang hening. Tanpa kepalsuan
riuk rendah di luar sana, ruangan ini menjelma menjadi tempat yang hangat,
tempat di mana jiwaku bersiap melangkah, mandiri, tenang, dan bersandar penuh
kepada Ilahi. ***
