Senin, 27 Juli 2026

(Cerpen) Midlife


Di tengah keheningan rumah, aku duduk di hadapan meja kerja. Di sana tergelar kitab Sirah Nabawiyyah klasik yang tebal dan laptop usang yang mengantarkan suara dan gambar pada orang-orang maya.

Tiba-tiba, udara di ruangan terasa bergeser. Di kursi seberangku, duduk seorang pemuda dengan tatapan mata yang gelisah sekaligus penuh ambisi. Ia adalah aku, saat masih muda.

Aku muda menatap sekeliling dengan kening berkerut. Ia memulai percakapan: "Jadi... begini rupanya kehidupan kita di usia midlife? Kenapa sunyi sekali? Di mana janji manis orang-orang yang dulu mengaku teman dan saudara? Di mana dukungan keluarga yang dulu kita harapkan? Kenapa kau kelihatan berdiri sendirian?"

Aku tersenyum tipis, mengelus sampul kitab di depanku. Aku merespons: "Ini bukan keheningan yang menyiksa. Ini adalah proses penyaringan alami. Soal pertemanan atau persaudaraan, yang ternyata palsu dan riuh janji kosong keluarga yang tak pernah terbukti dan lainnya, ketahuilah aku sudah berhenti meratapinya. Kita memang berdiri di atas kaki sendiri, tapi dalam kemandirian mutlak ini, ada kedamaian yang tak terganggu oleh kepalsuan orang lain."

Aku muda menggeleng heran, nada suaranya meninggi: "Tapi bagaimana bisa? Di usiaku sekarang, aku berjuang mati-matian membangun relasi, berharap kelak di usia midlife aku punya benteng pertahanan sosial yang kokoh. Tapi kau di sini saat midlife, menyadari semua itu hanya omong kosong. Apakah kau tidak merasa dikhianati? Apakah kau tidak terasing?"

"Jujur, beberapa hari lalu, bahkan dua bulan lalu bahwa rasa pahit itu sempat menyusup ke dadaku. Rasanya dingin ketika sadar tak ada pilar keluarga atau teman yang benar-benar bisa diandalkan. Tapi lihat apa yang baru saja kubaca tentang kisah Nabi Muhammad SAW pada tahun 615 Masehi."

Aku muda itu mendekat dan melihat buku tebal dihadapanku. Ia berkata: "Apa yang terjadi pada beliau saat itu?"

"Pada tahun itu beliau berada di puncak krisis politik dan sosial Makkah. Intimidasi dan boikot kaum Quraisy, yang tak lain adalah paman-paman dan kerabat dari kabilahnya sendiri. Sangat gencar. Serangan lisan dan non fisik Baginda Nabi terima tiada henti. Tidak hanya beliau tapi juga sahabat dan keluarganya. Beliau terdesak, hingga harus mengambil keputusan strategis mengirim para sahabat berhijrah ke Habasyah demi keselamatan mereka."

Aku muda kembali berkata: "Tapi beliau setidaknya punya pengikut. Sedangkan kita? Kita tersadar bahwa lingkaran yang kita kira teman dan saudara ternyata hanya omong kosong."

"Di sinilah letak pergeseran jiwaku malam ini. Dalam psikologi, usia midlife adalah pertarungan antara generativity, semacam dorongan memberi manfaat, dan stagnation. Melalui sirah Nabawiyyah ini, aku sadar bahwa keteguhan seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa ramai orang di sekelilingnya. Nabi di usia tersebut mengajarkan bahwa ketika dunia luar riuh dengan penolakan dan kepalsuan, integritas dan prinsip hidup adalah satu-satunya pegangan sejati. Beliau tetap menjadi tempat berteduh dan benteng kebaikan, tanpa bergantung pada validasi dari kerabatnya."

Aku muda terdiam sejenak, menatap lebih dalam. Kembali berkata: "Jadi... kau tidak merasa patah hati lagi dengan pertemanan atau persaudaraan, yang kau bilang hanya wacana saja?"

"Untuk apa meratapi topeng yang terbuka? Kehilangan dukungan yang palsu sejatinya adalah bentuk perlindungan Tuhan agar kita tidak bersandar pada tiang yang lapuk. Kesendirian ini bukan hampa, melainkan khalwat untuk menata jiwa dan berbisik langsung pada Sang Pencipta. Berdiri mandiri tanpa topeng-topeng sosial saat usia midlife justru adalah sebuah kebebasan spiritual yang sangat mewah."

Sang aku muda menghela napas panjang. Ia duduk kemudian bersuara lagi: "Rupanya kekecewaan pada manusia tidak membuat kita hancur. Kita justru menjadi lebih utuh dan tidak mudah digoyahkan. Begitukah?"

"Sangat utuh. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa saat tak ada manusia yang bisa dijadikan sandaran, cukuplah Allah sebagai penopang utama. Aku tidak lagi butuh keramaian yang palsu. Kemandirian dan kedamaian batin adalah jawaban terbaik untuk semua kecemasan yang pernah engkau alami. Sekarang aku harus meraihnya dengan penuh damai dan akal tercerahkan. Sekarang aku mulai membaca kembali buku-buku hikmah dari Mulla Shadra, Suhrawardi Al-Maqtul dan Murtadha Muthahhari serta kearifan Kang Jalal. Tentu saja Nahjul Fashahah, Shahifah Sajjadiyyah, Mafatih Al-Jinan, Nahjul Balaghah, dan Al-Quran al-kariim sebagai bacaan yang tak boleh dilewatkan untuk hari-hariku."

Sang aku muda di seberang meja itu tersenyum tenang. Lalu perlahan sosoknya memudar bersama embusan angin malam. Aku pun meninggalkannya untuk menyongsong esok hari. Adakah ia? Inilah misteri.

Aku kembali sendirian. Di ruang yang hening. Tanpa kepalsuan riuk rendah di luar sana, ruangan ini menjelma menjadi tempat yang hangat, tempat di mana jiwaku bersiap melangkah, mandiri, tenang, dan bersandar penuh kepada Ilahi. ***