Sabtu, 29 Agustus 2026

(cerpen) Hayy vs Asfar

Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Hayy tidak lagi memandang ke jalanan. Pandangannya tertuju lurus pada meja kayu, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat. 

Hayy menggeser cangkir kopinya yang sudah dingin. Menatap Asfar yang memainkan ponsel. Hayy memulai pembicaraan, "Asfar, aku tidak sedang mencari pelipur lara. Aku tidak butuh ditenangkan dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua sandiwara eksistensi ini?" 

Asfar menatap Hayy. Asfar menyadari malam ini mereka tidak sedang mengobrol ringan. Mereka sedang berdiri di tepi tebing pikiran.

"Katakan padaku," lanjut Hayy, matanya menuntut jawaban yang jujur. "Jika Tuhan itu Mahakuasa dan tidak membutuhkan apa pun, lalu untuk apa Dia menciptakan kita? Hanya untuk menonton kita merangkak dalam kesakitan, mencari-cari makna di tengah kegelapan, lalu mati dan diadili? Apakah kita ini nyata, atau kita hanya sekadar proyeksi dari kesepian kosmis yang agung?" 

Asfar menarik napas dalam-dalam. Pertanyaan Hayy tidak lagi sekadar bertanya; ia sedang menggugat. Ia sedang mengetuk pintu takdir dengan kepalan tangan yang gemetar. 

"Pertanyaanmu adalah pisau bedah," kata Asfar pelan. "Dan kamu tahu? Pisau bedah yang sama pernah digunakan oleh Al-Ghazali ketika dia mengunci diri di menara Masjid Damaskus. Dia tidak sedang mencari ketenangan, dia sedang bertarung dengan skeptisisme radikal yang paling mengerikan." 

"Skeptisisme seperti apa?" tanya Hayy, menantang. 

"Al-Ghazali menggugat alat-alat persepsi kita sendiri. Dia bertanya: Jika saat bermimpi kita meyakini mimpi itu nyata, lalu terbangun dan menyadari itu palsu... bagaimana kita bisa yakin bahwa kehidupan 'bangun' kita saat ini bukanlah mimpi lain yang lebih besar, yang baru akan kita sadari kepalsuannya setelah kita mati? Dia meragukan indra, dia meragukan akal. Dia menyadari bahwa semua argumen rasional tentang Tuhan dan alam semesta hanyalah konstruksi rapuh yang kita buat agar kita tidak gila menghadapi ketidakpastian." 

Hayy bersandar pada kursi, melipat tangan di dada. Hayy berkata: "Dan dia melarikan diri ke dalam mistisisme karena dia menyerah pada akalnya sendiri, bukan? Itu sebuah kekalahan intelektual." 

"Atau mungkin," sanggah Asfar, "itu adalah kesadaran tertinggi bahwa akal hanyalah alat ukur yang terbatas, sementara realitas tidak terbatas. Kamu tidak bisa mengukur kedalaman samudra dengan penggaris plastik. Tapi mari kita bergeser ke Ali Syariati. Gugatannya lebih sosiologis dan eksistensial. Dia tidak hanya bertanya 'mengapa aku hidup', tapi dia menggugat kemanusiaan kita yang terjebak dalam lingkaran setan." 

"Lingkaran setan apa?" tanya Hayy. 

Asfar menatap Hayy. Asfar tersenyum dan berbicara, seperti seorang guru berhadapan dengan murid: "Syariati melihat kita sebagai budak dari empat penjara: penjara alam, penjara sejarah, penjara masyarakat, dan yang paling mengerikan... penjara ego kita sendiri. Syariati menggugat: apakah kita benar-benar manusia yang bebas, atau kita hanya robot biologis yang diprogram oleh sistem sosial dan doktrin agama untuk patuh tanpa pernah benar-benar 'ada'? Ketika kita sujud, apakah kita sedang menyembah Tuhan, atau kita hanya sedang melakukan ritual demi menenangkan ketakutan kita akan neraka? Jika iman hanya lahir dari ketakutan, bukankah itu bentuk pelacuran spiritual?" 

Pertanyaan Asfar membuat Hayy terdiam sesaat. Hayy mengerutkan dahi, merenungkan kedalaman gugatan itu. 

"Itu ekstrem. Tapi jujur. Sangat jujur," ujar Hayy pelan. 

"Dan Muthahhari," lanjut Asfar, tidak memberi Hayy ruang untuk menghindar, "dia membawa gugatan itu ke ranah dialektika materialisme. Dia menantang para pemikir modern yang mengagungkan sains sebagai juru selamat baru. Muthahhari menggugat: Sains bisa menjelaskan bagaimana jantungmu berdetak, bagaimana atom bergerak, bagaimana galaksi terbentuk. Tapi bisakah sains menjelaskan mengapa ketidakadilan terasa menyakitkan di dadamu? Bisakah rumus fisika menjelaskan mengapa cinta dan pengorbanan itu bernilai? Ketika manusia modern membuang Tuhan karena menganggap-Nya tidak ilmiah, mereka sebenarnya sedang mengebiri diri mereka sendiri, menjadi tumpukan daging dan tulang tanpa arah." 

Asfar mencondongkan tubuh ke arah Hayy, memperkecil jarak di antara mereka. "Jadi, mari kita gugat bersama malam ini," kata Asfar dengan nada menantang yang sama. 

"Apakah rasa hampa yang kamu rasakan ini adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan? Atau... jangan-jangan rasa hampa ini adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa kamu masih manusia? Hewan tidak pernah mengalami krisis eksistensial. Kucing tidak pernah bertanya mengapa mereka mengejar tikus. Hanya manusia yang memiliki 'kekosongan berbentuk Tuhan' di dalam dirinya. Dan kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi oleh dunia, karena ukuran kekosongan itu adalah tak terbatas." 

Hayy menatap cangkir kopinya yang dingin, lalu beralih menatap Asfar. Ada kilatan kesadaran baru di matanya---bukan ketenangan yang instan, melainkan keberanian untuk merangkul ketidakpastian itu. 

"Jadi," ucap Hayy dengan senyum tipis yang sarat makna, "menjadi gelisah adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa jiwa kita belum mati." 

"Ya," jawab Asfar. "Dan mungkin, Tuhan sengaja membiarkan kita merasa hampa, agar kita tidak pernah berhenti mencari-Nya." 

Asfar dan Hayy terdiam. Saling menatap. Cukup lama terdiam. Lantas Asfar berdiri dan meninggalkan Hayy. Dan terdengar suara Hayy, "Besok kita lanjut?" 

Asfar menoleh sambil mengacungkan jempol tanda setuju. Sambil berjalan, benak Asfar bertanya: Tahukah Hayy, apa itu besok? Sebuah misteri yang akan selalu membayangi manusia. ***