Pernahkah kita merasa lelah di tengah kesibukan hidup? Semua kebutuhan tampak terpenuhi, pekerjaan berjalan sebagaimana mestinya, teknologi semakin canggih, tetapi hati tetap terasa kosong. Kita tahu apa yang harus dilakukan setiap hari, tetapi kadang lupa untuk apa semua itu dijalani.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sesungguhnya bukan hanya milik manusia modern. Sejak berabad-abad yang lalu, para arif dan sufi telah merenungkannya. Mereka tidak hanya bertanya bagaimana manusia hidup, tetapi juga mengapa manusia hidup dan ke mana ia akan kembali.
Kita akan membahas tasawuf, sebuah tradisi spiritual dalam Islam yang berusaha menjawab kegelisahan terdalam manusia. Pembahasan ini disarikan dari dua karya penting, yaitu Mengenal Irfan: Meniti Maqam-Maqam Kearifan karya Syahid Murtadha Muthahhari dan Sufi dari Zaman ke Zaman karya Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani.
Menurut
Murtadha Muthahhari, dalam khazanah Islam terdapat dimensi spiritual yang
dikenal dengan istilah irfan. Irfan bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan,
melainkan jalan untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam.
Irfan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, irfan nazari, yaitu kajian teoritis tentang hakikat wujud. Pertanyaan seperti siapa Allah, apa hakikat manusia, bagaimana hubungan Tuhan dengan alam semesta, dan apa tujuan keberadaan manusia dibahas dalam wilayah ini.
Kedua, irfan amali, yaitu dimensi praktis dari perjalanan spiritual. Di sini seseorang belajar membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak, mengendalikan hawa nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui amal dan ibadah.
Karena itu, tasawuf bukan hanya berbicara tentang apa yang harus diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Muthahhari menyebut perjalanan ini sebagai sayr wa suluk, perjalanan ruhani menuju kesempurnaan. Perjalanan ini bukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Yang bergerak adalah kesadaran manusia.
Bayangkan seorang murid yang naik kelas. Ia tetap berada di sekolah yang sama, tetapi pemahamannya bertambah, kedewasaannya meningkat, dan cara pandangnya menjadi lebih luas. Demikian pula seorang penempuh jalan spiritual. Ia tetap hidup di dunia yang sama, tetapi kualitas jiwanya terus meningkat.
Tujuan akhir perjalanan itu adalah menjadi insan kamil, manusia sempurna. Bukan manusia tanpa kesalahan, melainkan manusia yang mampu memantulkan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupannya: jujur, penyayang, rendah hati, sabar, dan bijaksana.
Dalam bukunya Sufi dari Zaman ke Zaman, Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani menjelaskan bahwa ada berbagai pandangan mengenai asal-usul tasawuf. Sebagian sarjana melihat adanya pengaruh dari tradisi spiritual lain di luar Islam. Namun yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa akar tasawuf sangat kuat dalam Al-Qur'an dan kehidupan Rasulullah saw.
Allah berfirman dalam Surah Asy-Syams ayat 9: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."
Ayat ini menjadi dasar penting bagi konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang merupakan inti dari tasawuf.
Dalam ayat lain Allah berfirman: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai."
Tujuan tasawuf pada akhirnya adalah melahirkan jiwa yang tenang, jiwa yang tidak mudah diguncang oleh perubahan dunia, karena hatinya telah tertambat kepada Allah.
Jika kita mencari teladan utama kehidupan spiritual, maka Rasulullah Muhammad saw adalah contoh yang paling sempurna. Beliau hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk hidup mewah. Beliau sabar ketika dihina, pemaaf ketika mampu membalas, dan penuh kasih sayang bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya.
Karena itu
banyak ulama mengatakan bahwa tasawuf sejatinya adalah upaya meneladani akhlak
Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. ***