Senin, 21 September 2026

Keadilan dan Ketegasan

Merajut kepingan persepsi cukup rumit. Apalagi jika terus berubah. Manusia memang tak mudah ditebak. Alur hidupnya kadang lurus, kadang berbelok. Depan dan belakang bisa sama, bisa pula berbeda.

Belajar dari salah adalah cita-cita yang baik. Tapi kadang merasa sudah baik membuat seseorang melegitimasi kesalahannya sendiri. Aturan dan alur kerja pun dilabrak, seolah kebaikan diri menjadi pembenaran.

Ada masa setiap orang memaklumi. Salah dimaklumi, diberi kesempatan, lalu berharap ada perubahan. Tapi jika kesalahan terus berulang, memaklumi tak lagi mengubah keadaan.

Keadilan dan ketegasan perlu ditampakkan. Bukan untuk menghukum semata, tetapi agar setiap kesalahan memiliki batas dan konsekuensi. Sebab belajar dari salah bukan hanya mengakui kesalahan, tetapi juga berani memperbaikinya.

Institusi dan organisasi yang abai akan keadilan, abai dengan alur kerja dan ketentuan asasi maka mirip museum. Ia dikenang saja. Dilihat dan dijadikan contoh. Beruntung kalau darinya ada kebaikan. 

Sejarah adalah guru kehidupan. Ini kata Cicero, filsuf. Dengan kata lain: menjadi manusia berarti ikhtiar menyempurnakan kehidupan. Di sini selayaknya kita sadar. Cukup sampai sini dan tidak berulang lagi. ***