Kamis, 16 April 2026

Perbandingan Historiografi Maghāzī: al-Zuhrī, Mūsā ibn ‘Uqbah, dan al-Wāqidī

Tradisi maghāzī merupakan fondasi awal dalam historiografi Islam, khususnya dalam merekam ekspedisi militer Nabi Muhammad ﷺ. Dari sekian banyak perawi dan sejarawan awal, tiga tokoh menempati posisi kunci dalam perkembangan genre ini: Ibn Syihāb al-Zuhrī (w. 124 H), Mūsā ibn ‘Uqbah (w. 141 H), dan Muḥammad ibn ‘Umar al-Wāqidī (w. 207 H). Ketiganya merepresentasikan tiga fase penting evolusi penulisan sejarah Islam: fase riwayat awal yang direkonstruksi, fase kitab awal yang relatif autentik, dan fase historiografi naratif yang matang dan sistematis.

Rabu, 15 April 2026

Dua Rukun Takwa

Menghindari dosa dan melakukan ibadah duaduanya adalah komponen takwa. Ada dua rukun takwa: pertama, menjauhi apa yang dibenci atau dimurkai Tuhan. Dengan kata lain, menjauhi keburukan. Kedua, melakukan apa yang dicintai dan diridhai Tuhan, yakni, melakukan kebaikan.

Sabtu, 11 April 2026

Sirah Nabawiyyah: Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Kritik Husain Munis

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad (Sirah Nabawiyyah) tidak berasal langsung dari karya asli Ibnu Ishaq. Karya beliau memang yang paling awal dan paling penting, tetapi tidak sampai kepada kita secara utuh. Versi yang beredar luas justru adalah hasil penyuntingan Ibnu Hisyam. Di sinilah pentingnya memahami bahwa Sirah yang kita baca adalah hasil dari proses seleksi, bukan sekadar salinan apa adanya.

Sabtu, 28 Maret 2026

Historiografi Islam: Ibnu Syihab Az-Zuhri dan Ibnu Ishaq

Artikel ini mengkaji peran Ibnu Syihab az-Zuhri dan Ibnu Ishaq dalam perkembangan awal historiografi Islam. Dengan menggunakan pendekatan historiografi modern, tulisan ini menempatkan az-Zuhri sebagai figur transisional dalam kodifikasi tradisi hadis dan maghazi, sementara Ibnu Ishaq diposisikan sebagai penyusun narasi sejarah (sirah) pertama yang sistematis. Analisis menunjukkan bahwa hubungan keduanya bersifat evolusioner dalam transformasi dari tradisi lisan menuju penulisan sejarah Islam awal.