Senin, 16 Februari 2026

Perang Uhud dan Kekecewaan Abdullah bin Ubay

Ngan saoerang anoé miris, emboeng mapag moesoeh teh, ngaran 'Abdoellah ibnoe Oebajj ibnoe Saloel, kapalana kaom Moenafek, hidji kaom anoé ati moengkir, beungeut njanghareup.

Radjeun sakali-kalieun pioendjoekna diroedjoekan koe Nabi s.a.w., tapi harita mah, timbanganana henteu dipidoeli, lantaran ningali kaom Moeslimin noe sakitoe goejoebna, leber wawanenna. Diajoenkeun kahajangna ngajonan moesoeh loeareun kota, nadjan dina tingali batin andjeunna, peta ngalawan moesoeh kitoe teh, awon pibaloekareunana. Malah harita keneh enggal miwarang sasadian sapakarangna-sapakarangna. Saparantos salse salat 'asar, andjeunna moelih heula ka boemi gentos panganggo. 

Selasa, 20 Januari 2026

Memahami (cerita) Mundinglaya Dikusumah

Salam wa rahmah. Saat kuliah di jurusan sejarah peradaban Islam UIN Bandung, saya pernah punya minat untuk mengkaji khazanah sastra dan budaya Sunda. Dikarenakan faktor biaya dan sumber yang sulit diakses karena habis cari naskah sampai ke Belanda, akhirnya saya tidak menggelutinya.

Saat baca cerita-cerita di Tatar Sunda, saya menemukan yang hampir sama dengan riwayat Isra Mikraj yakni Mundinglaya Dikusumah.

Bermula dari keinginan Mundinglaya Dikusumah untuk memberikan pengabdian pada ibunya, Padmawati, yang sekaligus memberikan pencerahan pada masyarakat yang mengalami dis-loyalitas pada kerajaan. Karena itulah Mundinglaya melakukan tapa hingga sampai pada titik wujud sejati, yaitu Sang Hyang Tunggal.

Rabu, 31 Desember 2025

Membaca Masa Depan Indonesia melalui Metahistory dan Filsafat Sejarah

Sejarah sering dipahami sebagai kumpulan peristiwa masa lalu: tanggal, tokoh, dan kejadian yang berurutan. Namun dalam pandangan filsafat sejarah, sejarah bukan sekadar apa yang terjadi, melainkan bagaimana manusia memberi makna terhadap apa yang terjadi. Di sinilah gagasan metahistory menjadi penting—yakni cara berpikir tentang sejarah di balik sejarah itu sendiri.

Senin, 29 Desember 2025

Semangat Welas Asih dalam buku Manifesto Islam Cinta

Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik, kebencian, dan polarisasi atas nama agama, buku Manifesto Islam Cinta karya Dr. Haidar Bagir hadir sebagai sebuah oase. 

Buku yang relatif tipis iini justru menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Ia bukan hanya sebuah buku, tetapi sebuah ajakan spiritual dan intelektual untuk kembali menemukan wajah asli Islam: wajah yang penuh cinta, welas asih, dan rahmat.