Minggu, 19 April 2026

Sang Syahid Uhud

HAMZAH dikenal sebagai pemburu dan ahli dalam memanah. Ketika kecil Hamzah adalah teman bermain Nabi Muhammad saw. Hamzah adalah putra Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw. Hamzah dan ayah Nabi, Abdullah, bersaudara. Hamzah termasuk orang yang disegani oleh penduduk Makkah. Keislaman Hamzah diikrarkan secara umum di depan tokoh masayarakat musyrik Makkah.

Sabtu, 18 April 2026

Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila

 Kisah ini mungkin sudah banyak diketahui. Meski ada yang menyatakan tidak shahih, tetapi dari cerita ini kaum Muslim dapat becermin dalam mengambil tindakan bagaimana menyikapi para penghujat Nabi Muhammad saw.

Diceritakan di sudut pasar Kota Madinah ada pengemis tua dan buta yang beragama Yahudi. Ia tidak punya sanak saudar alias hindup sendiri. Ia hidup dari belas kasihan orang-orang, termasuk dari kaum Muslim. Bahkan, makan pun ia disuapi oleh seseorang yang dihinanya. Kepada orang yang menyuapinya, ia selalu berpesan agar jangan mendekati orang yang bernama Muhammad. Orang yang menyuapinya itu hanya diam dan terus menyuapi pengemis buta itu hingga makanannya habis.

“Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila. Dia itu penyihir. Kalau kalian mendekatinya maka akan terpengaruhinya,” ujar si Yahudi.

Kamis, 16 April 2026

Perbandingan Historiografi Maghāzī: al-Zuhrī, Mūsā ibn ‘Uqbah, dan al-Wāqidī

Tradisi maghāzī merupakan fondasi awal dalam historiografi Islam, khususnya dalam merekam ekspedisi militer Nabi Muhammad ﷺ. Dari sekian banyak perawi dan sejarawan awal, tiga tokoh menempati posisi kunci dalam perkembangan genre ini: Ibn Syihāb al-Zuhrī (w. 124 H), Mūsā ibn ‘Uqbah (w. 141 H), dan Muḥammad ibn ‘Umar al-Wāqidī (w. 207 H). Ketiganya merepresentasikan tiga fase penting evolusi penulisan sejarah Islam: fase riwayat awal yang direkonstruksi, fase kitab awal yang relatif autentik, dan fase historiografi naratif yang matang dan sistematis.

Rabu, 15 April 2026

Dua Rukun Takwa

Menghindari dosa dan melakukan ibadah duaduanya adalah komponen takwa. Ada dua rukun takwa: pertama, menjauhi apa yang dibenci atau dimurkai Tuhan. Dengan kata lain, menjauhi keburukan. Kedua, melakukan apa yang dicintai dan diridhai Tuhan, yakni, melakukan kebaikan.