MEMBACA naskah Wawacan Samaun ini membuat saya hampir menyerah. Sebab dari huruf-huruf Arab Pegon yang tertera dalam naskah sulit dibaca. Ada perubahan huruf dan terdapat huruf yang tidak bisa disambung, ternyata disatukan dengan dipaksakan. Mungkin model penulisan demikian yang berlaku pada masa itu. Karena itu, saat membaca dan menyalin ulang dalam latin hanya mengira-ngira. Beberapa huruf pada bagian ujung naskah sangat tidak terbaca. Ada yang terpotong sehingga memerlukan kecermatan dalam menerka.
Beruntung saya dibantu istri dalam mengerjakan naskah ini. Kalau sulit dibaca, istri mengira-ngira dan hasil perkiraan itu dipilih yang dirasa nyambung dan berkaitan dengan isi naskah ini. Sangat pasti transliterasi ini kurang sempurna. Namun, inilah pekerjaan filologi kedua dalam hidup saya. Sebelumnya, saat kuliah S1 tugas filologi transliterasi naskah Amir Hamzah. Tuntas pula dikerjakan karena naskah tersebut tidak utuh karena pengerjaannya dibagi dalam kelompok. Kemudian disatukan. Hanya saja apresiasi, komentar atas naskah bersifat tersendiri.


