Dua cangkir kopi panas mengepul di atas meja kayu. Dua mangkuk sop daging siap santap. Di seberang Asfar, Kazib tersenyum lebar seperti biasa, sesekali melempar lelucon seolah tidak ada satu pun yang retak di antara mereka.
Asfar memandangnya lekat-lekat. Dulu, wajah itu adalah simbol keamanan---tempat di mana Asfar bisa membuang seluruh beban hidup, cerita pekerjaan yang melelahkan, hingga rasa kecewa dan rahasia pribadi. Asfar bukan hanya mengenal Kazib sebagai teman. Ia pernah membantu Kazib ketika sedang kesulitan, membuka jalan ketika Kazib membutuhkan pertolongan, bahkan membela namanya ketika orang lain meragukannya.
