Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe
kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Kamu tidak lagi memandang ke jalanan.
Pandanganmu tertuju lurus pada meja kayu di hadapan kita, seolah-olah sedang
menatap jurang yang tak terlihat.
Kamu menggeser cangkir kopimu yang sudah dingin.