Jumat, 03 Juli 2026

(Cerpen) Bersama Lelaki Tua


1

"Apakah telingamu masih berdenging?"

Pertanyaan itu datang dari seorang lelaki tua yang hampir setiap sore duduk di serambi musala, di sebuah makam. 

Di hadapannya, secangkir kopi mulai kehilangan uap, sementara matanya memandang pohon asam yang bergoyang pelan diterpa angin.

Aku mengangguk.

"Masih. Bahkan lebih keras daripada kemarin."

Ia tidak segera menjawab.


"Kadang," katanya pelan, "yang berdenging bukan telinga, melainkan hati yang terlalu lama memikul sesuatu."

Aku tersenyum tipis.

"Apa yang sedang kupikul?"

"Jangan terburu-buru mencari jawabannya."

"Lalu apa yang harus kucari?"

"Dirimu sendiri."

2

Sudah beberapa hari kepalaku seperti dipukul dari dalam. Denging memenuhi kedua telinga. Di pelupuk mata, sebuah titik hitam berulang kali muncul, bahkan ketika aku berdiri menghadap Tuhan dalam salat. Bayangan itu tetap tinggal. Seolah hendak mengatakan sesuatu yang tak mampu kuterjemahkan. 

Gejala itu pernah datang ketika aku masih mahasiswa. Kini kembali, lebih kuat, lebih sunyi. Aku teringat sebuah kalimat yang pernah kudengar dari seorang guru sufi: "Ke mana pun engkau memandang, di sanalah ada tanda-tanda Ilahi."

Kalimat itu biasanya menenangkan. Namun kali ini justru melahirkan pertanyaan. Jika Tuhan menampakkan tanda di mana-mana, mengapa manusia lebih mudah menemukan aib sesamanya daripada jejak-Nya?

3

Di lingkaran ini, bisik-bisik lebih cepat berjalan daripada angin. Setiap kali aku melewati sekelompok orang, percakapan mereka mendadak berhenti. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Namun beberapa meter kemudian, suara-suara lirih kembali terdengar. Entah benar atau hanya sangkaanku. Mungkin mereka sedang membicarakanku. Mungkin pula aku sedang membesarkan bayangan yang diciptakan pikiranku sendiri.

Namun ada hari-hari ketika semuanya terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Seakan ada seseorang yang tekun merangkai cerita tentang diriku, lalu mengedarkannya dari satu percakapan ke percakapan lain.

4

Suatu sore aku kembali menemui lelaki tua itu.

"Apakah manusia memang senang membicarakan manusia lain?"

Ia tersenyum.

"Karena membicarakan diri sendiri jauh lebih sulit."

"Kalau benar mereka sedang membicarakanku, apa yang harus kulakukan?"

Ia mengambil sehelai daun kering yang jatuh di pangkuannya.

"Lihat daun ini."

Aku memperhatikannya.

"Ketika masih di pohon, ia diterpa angin dari segala arah. Ketika gugur, ia berhenti melawan."

"Apa maksudnya?"

"Kadang yang melelahkan bukan anginnya, melainkan keinginanmu menentukan dari mana angin harus datang. Angin tak pernah bertanya pada daun ke mana ia akan berembus."

Aku menatap daun itu lama. Senja merambat perlahan di ujung ranting. Saat itulah kusadari, yang melelahkan bukanlah bisik-bisik manusia, melainkan keterikatanku pada penilaian mereka. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar gema suara makhluk, hingga nyaris tak lagi mendengar panggilan Sang Kekasih yang berbisik di kedalaman hati.

Lelaki tua itu seakan membaca kegelisahanku.

"Seorang salik," katanya lirih, "tidak akan menemukan jalan pulang selama telinganya lebih sibuk mendengar manusia daripada mendengarkan suara yang menuntunnya kepada Al-Haqq."

Aku mengangkat wajah. Angin yang sejak tadi berembus terasa berbeda. Ia tidak lagi membawa bisik-bisik, melainkan keheningan. Dalam keheningan itulah aku memahami bahwa ada suara yang hanya dapat didengar ketika segala suara manusia berhenti menguasai hati.

5

Beberapa hari kemudian kudengar kabar yang ganjil.

"Ada yang bilang kau harus dipanggil paduka."

Aku tertawa kecil.

"Lalu?"

"Katanya lagi, kau harus dikeluarkan dari lingkaran."

"Siapa yang memutuskan?"

Orang itu terdiam. Tak ada nama. Tak ada wajah. Hanya bisikan yang berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain, tumbuh menjadi seolah-olah kebenaran hanya karena diulang berkali-kali. Bisik-bisik memang hidup dari orang-orang yang takut berbicara terang.

6

Menjelang magrib aku kembali duduk di serambi musala.

"Aku ingin pergi," kataku. Lelaki tua itu mengangguk pelan.

"Pergi karena marah?"

"Bukan."

"Karena takut?"

"Bukan."

"Lalu?"

Aku memandang langit yang perlahan berubah warna.

"Karena aku ingin tetap menjadi manusia."

Ia tersenyum. Senyum yang tidak membela siapa pun.

"Kalau begitu, pergilah!"

"Apakah itu berarti aku kalah?"

"Tidak."

"Lalu apa?"

"Kau sedang belajar membedakan jalan yang ramai oleh suara manusia dengan jalan yang diterangi cahaya Tuhan."

Lelaku tua itu pergi. Ia menghilang dariku. Yang tampak hanya makam. Kupandangi makam itu. 

Sambil menarik napas panjang, aku keluar area makam. Tiba-tiba muncul narasi penuh bijak: racun tidak selalu masuk melalui makanan atau minuman. Kadang ia meresap melalui kata-kata yang dipelihara, prasangka yang diwariskan, dan kebencian yang disamarkan.

Dalam hati berbisik: aku ingin menyelamatkan hati. Sebab hati yang terus-menerus dipenuhi gema makhluk akan sulit menjadi cermin bagi cahaya Al-Haqq. 

Aku ingin mengaktifkan kembali nalar rasional. Sebab dengan ini aku bisa memilih dan memilah antara kebenaran dan kepalsuan. Ini yang sekarang kujadikan perisai. Ah, inikah lika liku hidup? ***