Perpustakaan hampir kosong. Cahaya sore menyelinap di antara rak-rak buku. Aku berdiri di depan rak tasawuf. Aku lihat buku Al-Ghazali, Ibnu 'Arabi, Rumi dan Suhrawardi.
"Jagalah
dirimu." Suara dari mimpi itu kembali.
“Hanya itu?”
"Bukankah
cukup untuk memulai?"
Aku mengambil Ihya' 'Ulum al-Din.
“Buku ini
memberiku banyak jawaban.”
"Atau
banyak kata?"
“Apa bedanya?”
"Kata
memenuhi pikiran. Jawaban mengubah hidup."
Aku menutup
buku.
“Aku membaca
untuk memahami Tuhan, manusia, kehidupan.”
"Setelah
bertahun-tahun membaca, apakah kau semakin dekat?"
“Pengetahuan
membutuhkan waktu.”
"Atau
kau menggunakannya untuk menunda perjumpaan?"
Aku menatap
kosong.
“Maksudmu?”
"Ada
orang membaca tentang air seumur hidup, tetapi tidak pernah minum."
“Jangan
meremehkan ilmu.”
"Aku
tidak meremehkannya. Aku hanya bertanya: mengapa kau datang ke sini?"
Aku diam.
“Aku lelah.”
"Sebagai
guru?"
“Ya. Murid,
pelajaran, tanggung jawab. Semuanya harus kutanggung.”
"Lalu
mengapa kau menganggap menjaga diri berarti mementingkan diri?"
“Aku guru.
Murid harus didahulukan.”
"Dan
jika gurunya hancur?"
Aku tak
menjawab.
"Apa
yang bisa kau berikan jika kau kehilangan kegembiraan, keheningan, bahkan
dirimu sendiri?"
“Ilmu.”
"Hanya
ilmu?"
“Tanpa ilmu
manusia tersesat.”
"Tanpa
pengalaman, manusia hanya tahu jalan tanpa pernah berjalan."
Aku menunduk. Aku
mengajarkan sabar, tetapi mudah marah. Mengajarkan tawakal, tetapi terus cemas.
Mengajarkan ikhlas, tetapi masih menunggu pengakuan.
“Kalau begitu,
aku munafik?”
"Tidak.
Kau sedang belajar."
Aku tertawa
hambar.
“Kalimat yang
mudah.”
"Termasuk
untukmu?"
Tanganku
mengambil buku Suhrawardi.
“Baik. Mari
bicara tentang cahaya.”
"Silakan."
“Manusia harus
mencari cahaya.”
"Apakah
cahaya hilang?"
“Kadang manusia
berada dalam kegelapan.”
"Atau
ada sesuatu yang menghalanginya?"
Aku memandang
jendela yang buram.
“Jadi manusia
tidak perlu menciptakan cahaya?”
"Tidak."
“Lalu?”
"Jagalah
jendelanya."
Aku terdiam.
“Jendela?”
"Dirimu.
Matahari tidak membutuhkanmu untuk bersinar."
Aku memandang
kaca.
“Apakah bekerja
keras salah?”
"Tidak."
“Mengajar?”
"Tidak."
“Membaca?
Mengabdi?”
"Tidak."
“Lalu apa yang
salah?”
"Ketika
kau mengira semua itu adalah cahaya."
“Padahal?”
"Semuanya
hanya jendela."
Aku terdiam. Selama
ini aku ingin menjadi guru yang baik. Tanpa sadar, keinginan itu berubah
menjadi tuntutan, lalu menjadi beban. Aku ingin memberi cahaya. Padahal aku
bukan matahari.
“Jadi tugas
guru bukan menjadi cahaya?”
"Bukan."
“Lalu?”
"Jangan
menghalangi cahaya."
Aku tersenyum. Sebelum
pergi, aku bertanya,
“Apakah
sekarang aku sudah menemukan jawabannya?”
"Tidak."
“Lalu?”
"Kau
baru menemukan pertanyaan yang benar."
Aku berjalan
menuju pintu. Rak-rak buku tetap diam. Mereka tidak memberiku cahaya. Mereka
hanya menunjukkan jendela. Mungkin tugas seorang guru bukan menjadi matahari,
bukan pula memaksa orang lain melihat cahaya. Cukup menjaga agar jendela tidak
dipenuhi debu. Sebab cahaya mungkin tidak pernah pergi. Kitalah yang terlalu
sibuk di dalam ruangan hingga lupa membuka jendela. ***