Sabtu, 05 September 2026

(cerpen) Cahaya

Perpustakaan hampir kosong. Cahaya sore menyelinap di antara rak-rak buku. Aku berdiri di depan rak tasawuf. Aku lihat buku Al-Ghazali, Ibnu 'Arabi, Rumi dan Suhrawardi.

"Jagalah dirimu." Suara dari mimpi itu kembali.

“Hanya itu?”

"Bukankah cukup untuk memulai?"

Aku mengambil Ihya' 'Ulum al-Din.

“Buku ini memberiku banyak jawaban.”

"Atau banyak kata?"

“Apa bedanya?”

"Kata memenuhi pikiran. Jawaban mengubah hidup."

Aku menutup buku.

“Aku membaca untuk memahami Tuhan, manusia, kehidupan.”

"Setelah bertahun-tahun membaca, apakah kau semakin dekat?"

“Pengetahuan membutuhkan waktu.”

"Atau kau menggunakannya untuk menunda perjumpaan?"

Aku menatap kosong.

“Maksudmu?”

"Ada orang membaca tentang air seumur hidup, tetapi tidak pernah minum."

“Jangan meremehkan ilmu.”

"Aku tidak meremehkannya. Aku hanya bertanya: mengapa kau datang ke sini?"

Aku diam.

“Aku lelah.”

"Sebagai guru?"

“Ya. Murid, pelajaran, tanggung jawab. Semuanya harus kutanggung.”

"Lalu mengapa kau menganggap menjaga diri berarti mementingkan diri?"

“Aku guru. Murid harus didahulukan.”

"Dan jika gurunya hancur?"

Aku tak menjawab.

"Apa yang bisa kau berikan jika kau kehilangan kegembiraan, keheningan, bahkan dirimu sendiri?"

“Ilmu.”

"Hanya ilmu?"

“Tanpa ilmu manusia tersesat.”

"Tanpa pengalaman, manusia hanya tahu jalan tanpa pernah berjalan."

Aku menunduk. Aku mengajarkan sabar, tetapi mudah marah. Mengajarkan tawakal, tetapi terus cemas. Mengajarkan ikhlas, tetapi masih menunggu pengakuan.

“Kalau begitu, aku munafik?”

"Tidak. Kau sedang belajar."

Aku tertawa hambar.

“Kalimat yang mudah.”

"Termasuk untukmu?"

Tanganku mengambil buku Suhrawardi.

“Baik. Mari bicara tentang cahaya.”

"Silakan."

“Manusia harus mencari cahaya.”

"Apakah cahaya hilang?"

“Kadang manusia berada dalam kegelapan.”

"Atau ada sesuatu yang menghalanginya?"

Aku memandang jendela yang buram.

“Jadi manusia tidak perlu menciptakan cahaya?”

"Tidak."

“Lalu?”

"Jagalah jendelanya."

Aku terdiam.

“Jendela?”

"Dirimu. Matahari tidak membutuhkanmu untuk bersinar."

Aku memandang kaca.

“Apakah bekerja keras salah?”

"Tidak."

“Mengajar?”

"Tidak."

“Membaca? Mengabdi?”

"Tidak."

“Lalu apa yang salah?”

"Ketika kau mengira semua itu adalah cahaya."

“Padahal?”

"Semuanya hanya jendela."

Aku terdiam. Selama ini aku ingin menjadi guru yang baik. Tanpa sadar, keinginan itu berubah menjadi tuntutan, lalu menjadi beban. Aku ingin memberi cahaya. Padahal aku bukan matahari.

“Jadi tugas guru bukan menjadi cahaya?”

"Bukan."

“Lalu?”

"Jangan menghalangi cahaya."

Aku tersenyum. Sebelum pergi, aku bertanya,

“Apakah sekarang aku sudah menemukan jawabannya?”

"Tidak."

“Lalu?”

"Kau baru menemukan pertanyaan yang benar."

Aku berjalan menuju pintu. Rak-rak buku tetap diam. Mereka tidak memberiku cahaya. Mereka hanya menunjukkan jendela. Mungkin tugas seorang guru bukan menjadi matahari, bukan pula memaksa orang lain melihat cahaya. Cukup menjaga agar jendela tidak dipenuhi debu. Sebab cahaya mungkin tidak pernah pergi. Kitalah yang terlalu sibuk di dalam ruangan hingga lupa membuka jendela. ***