Sabtu, 11 Juli 2026

Selalu Ada Pilihan

Malam kembali menyapa. Hanya diam. Pikiran terfokus. Kembali gumam dalam benak. Entah pikiran atau hati. Tak perlu diperdebatkan. Yang jelas ada gumam dalam diri. Ruhaniyah bukan jasadiyah. Tak jelas yang berkecamuk. Antara memikirkan hidup beserta lika likunya dan merencanakan beralih profesi. Apa ya kira-kira? 

Kalau malam sulit tidur, saya suka joint live tiktok. Sekadar menyimak dan kadang ikut komentar. Yang sering saya ikuti live tahsin dan obrolan filsafat atau tasawuf serta bincang mazhab. Juga nyimak podcast selebriti dan dracin. Ini sesekali saja.

Dari aneka live tiktok, yang seru pastinya bahas agama. Seakan akun yang bicara tampak sebagai pakar. Bicara ini dan itu. Modalnya bacaan teks yang tidak tuntas atau sharing dari oranglain turun temurun. Ada juga ustad dan habib yang bicaranya. Tema mazhab masih berulang dan itu saja. Topik yang sepuluh tahunan yang pernah dijelajahi, kini tampak pada dialog mereka yang bermajelis sampai larut malam. 

Saya termasuk pernah menghabiskan waktu untuk debat kusir, otak atik argumen dan kritik sana sini. Tapi semua itu hanya wacana dan pemuas hati untuk mengisi kekosongan ruang atau mengalihkan rasa sepi. Tapi mungkin orang lain tak sama. Karena ada pakai tiktok buat jualan atau sekadar curhat.

Dengan main medsos tampaknya teralihkan. Rasa sepi tergantikan. Suatu saat akan tiba rasa bosan dan jenuh. Setiap organ raga dan aspek-aspek ruhani (kalau ada tingkatan) memerlukan pemenuhan kepuasan tersendiri. Alih-alih seimbang, yang terjadi ada dominan dan meniadakan peran masing-masing dari raga dan jiwa.

Harus diakui secara medis berdampak pada diri, jasad dan ruhani. Mana yang dominan? Pastinya tubuh yang akan dikorbankan berujung sakit. Pekerjaan dan aktivitas terbengkalai. Padahal agama mengajarkan untuk memegang erat taklif, baik sebagai hamba maupun pekerja. Tidak tenggelam dalam arus. 

Selalu ada pilihan. Memang begitu. Ada yang terpenting dan paling penting. Ada yang wajib dan yang mustahab. 

Menentukan satu dari dua itu merupakan persoalan tersendiri. Sesuai dengan coping skill (yang pernah saya ampu di sekolah) bahwa perlu ada skala prioritas. Yang banyak positif bagi jiwa dan raga, yang maslahat dan tidak terlalu besar madharat, dan kemanfaatannya besar bagi orang banyak. Itulah yang harusnya menjadi acuan.

Tapi harus disadari. Lagi-lagi tiap orang akan beda dalam menentukan, tergantung tafsir yang digunakan. Bergantung worldview dan background atau seberapa dominan ideologi teologis dan circle yang diikuti akan memengaruhinya. Itulah yang menentukan. 

Memang idealnya bahwa kebutuhan duniawiah tidak boleh di atas kebutuhan ruhaniah (ukhrawiah). Tapi itu hanya cita-cita. Yang benar dan terbukti bahwa saling meniadakan satu sama lain. Duniawiah mendominasi ruhaniah (ukhrawiah). Kadang yang ruhaniah membungkam duniawiah. Bahkan sebaliknya. 

Saya akui itu benar. Terkadang cemas dan panik saat tak ada uang. Habis sembako dan persediaan makanan harian bikin kepala pusing. Apalagi hari yang jauh dari gajihan. Pinjam meminjam bukan perilaku elok karena khawatir tak sanggup bayar dan bakal diomongkeun batur. Tambah bayar listrik, internet, air bersih, gas, genting bocor, kerusakan rumah, dan kebutuhan harian bensin. Kalau sudah begitu tambah puyeng. 

Tentu memohon kepada Tuhan sambil terus coba memilah dan memilih kebutuhan yang paling prioritas saat kemampuan bayar rendah. Di sini guncangan hidup: ruhani dan duniawi. 

Terguncang juga kalau lagi sakit. Apalagi lama. Selain menghabiskan uang saat ikhtiar sembuh ke klinik dan rumah sakit. Dibalik itu harus diakui dengan penuh sadar (sesuai doa 15 buku shahifah sajjadiyyah) bahwa seharusnya bersyukur karena saat sakit dihindarkan dari dosa dan (kalau tak berkeluh) diampuni Allah. Nanti lanjut catatannya. Cag! ***