Malam kembali menyapa. Hanya diam. Pikiran terfokus. Kembali gumam dalam benak. Entah pikiran atau hati. Tak perlu diperdebatkan. Yang jelas ada gumam dalam diri. Ruhaniyah bukan jasadiyah. Tak jelas yang berkecamuk. Antara memikirkan hidup beserta lika likunya dan merencanakan beralih profesi. Apa ya kira-kira?
Kalau malam sulit tidur, saya suka joint live tiktok.
Sekadar menyimak dan kadang ikut komentar. Yang sering saya ikuti live tahsin
dan obrolan filsafat atau tasawuf serta bincang mazhab. Juga nyimak podcast
selebriti dan dracin. Ini sesekali saja.
Dari aneka live tiktok, yang seru pastinya bahas agama.
Seakan akun yang bicara tampak sebagai pakar. Bicara ini dan itu. Modalnya
bacaan teks yang tidak tuntas atau sharing dari oranglain turun temurun. Ada
juga ustad dan habib yang bicaranya. Tema mazhab masih berulang dan itu saja.
Topik yang sepuluh tahunan yang pernah dijelajahi, kini tampak pada dialog
mereka yang bermajelis sampai larut malam.
Saya termasuk pernah menghabiskan waktu untuk debat kusir,
otak atik argumen dan kritik sana sini. Tapi semua itu hanya wacana dan pemuas
hati untuk mengisi kekosongan ruang atau mengalihkan rasa sepi. Tapi mungkin
orang lain tak sama. Karena ada pakai tiktok buat jualan atau sekadar curhat.
Dengan main medsos tampaknya teralihkan. Rasa sepi
tergantikan. Suatu saat akan tiba rasa bosan dan jenuh. Setiap organ raga dan
aspek-aspek ruhani (kalau ada tingkatan) memerlukan pemenuhan kepuasan
tersendiri. Alih-alih seimbang, yang terjadi ada dominan dan meniadakan peran
masing-masing dari raga dan jiwa.
Harus diakui secara medis berdampak pada diri, jasad dan
ruhani. Mana yang dominan? Pastinya tubuh yang akan dikorbankan berujung sakit.
Pekerjaan dan aktivitas terbengkalai. Padahal agama mengajarkan untuk memegang
erat taklif, baik sebagai hamba maupun pekerja. Tidak tenggelam dalam
arus.
Selalu ada pilihan. Memang begitu. Ada yang terpenting dan
paling penting. Ada yang wajib dan yang mustahab.
Menentukan satu dari dua itu merupakan persoalan tersendiri.
Sesuai dengan coping skill (yang pernah saya ampu di sekolah) bahwa perlu ada
skala prioritas. Yang banyak positif bagi jiwa dan raga, yang maslahat dan
tidak terlalu besar madharat, dan kemanfaatannya besar bagi orang banyak.
Itulah yang harusnya menjadi acuan.
Tapi harus disadari. Lagi-lagi tiap orang akan beda dalam
menentukan, tergantung tafsir yang digunakan. Bergantung worldview dan
background atau seberapa dominan ideologi teologis dan circle yang diikuti akan
memengaruhinya. Itulah yang menentukan.
Memang idealnya bahwa kebutuhan duniawiah tidak boleh di
atas kebutuhan ruhaniah (ukhrawiah). Tapi itu hanya cita-cita. Yang benar dan
terbukti bahwa saling meniadakan satu sama lain. Duniawiah mendominasi ruhaniah
(ukhrawiah). Kadang yang ruhaniah membungkam duniawiah. Bahkan
sebaliknya.
Saya akui itu benar. Terkadang cemas dan panik saat tak ada uang.
Habis sembako dan persediaan makanan harian bikin kepala pusing. Apalagi hari
yang jauh dari gajihan. Pinjam meminjam bukan perilaku elok karena khawatir tak
sanggup bayar dan bakal diomongkeun batur. Tambah bayar listrik, internet, air
bersih, gas, genting bocor, kerusakan rumah, dan kebutuhan harian bensin. Kalau
sudah begitu tambah puyeng.
Tentu memohon kepada Tuhan sambil terus coba memilah dan
memilih kebutuhan yang paling prioritas saat kemampuan bayar rendah. Di sini
guncangan hidup: ruhani dan duniawi.
Terguncang juga kalau lagi sakit. Apalagi lama. Selain menghabiskan uang saat ikhtiar sembuh ke klinik dan rumah sakit. Dibalik itu harus diakui dengan penuh sadar (sesuai doa 15 buku shahifah sajjadiyyah) bahwa seharusnya bersyukur karena saat sakit dihindarkan dari dosa dan (kalau tak berkeluh) diampuni Allah. Nanti lanjut catatannya. Cag! ***