Sabtu, 04 Juli 2026

Bulan di Ujung Kembara

Bulan Juli merayap cepat. Bulan sebelumnya menghempas di ujung kembara. 

Karbala masih kuingat. Saat aku tak bisa lantunkan likhomsah. Bagaimana bisa di tanah yang kupijak itu bayang sejarah tampak dipelupuk mata. Tak bisa kulisankan.

Jalan sambil terkenang. Betapa biadab dan nista mereka kepada keluarga suci. Tragedi yang tragis. Ini memang nyata dan berdampak besar dalam sejarah umat. Aku tahu dari buku sejarah. Aku tahu dari narasi yang dibaca tiap asyura.

Tak bisa kuabaikan ada yang menciptakan narasi di atas sejarah. Sejarah di atas sejarah. Mereka menuliskannya untuk menggugah kesadaran. Sebagai terapi bagi para penderita zaman. Harapan pada sosok pembebas menyeruak. Hadir pada mereka yang berduka di bulan Muharram.

Ah, sebentar lagi bulan Shafar. Masih juga duka untuk Al-Musthofa. Bulan duka yang kian menyayat uluhati. Diam dan rasakan. Hanya ini yang kutahu. 

Sejarah akan sampai pada titik. Akhir dari pergulatan manusia. Aku tahu ada bisik dan cemooh pada kisah. Narasi di atas sejarah. Ah, inikah spirit?

Aku tahu yang mesti kulakukan. Bicara dengan bahasa yang selayaknya. Tak perlu dipaksakan. Hari ini hanya catatan saja tentang perjuangan manusia. 

Bulan Juli menyapa. Bulan Juni berlalu. Karbala tetap berada pada mereka yang rindu keadilan. Bukankah ada syair yang selalu dilantunkan: "Tegakkan adil walau syahid bak Husain. Curahkan darah di jalan Muhammad."

Selamat Milad untuk ormas yang menjadi bahtera pecinta Keluarga Suci. Majulah IJABI.***