Orang yang belajar tasawuf tahu kedudukan salik, yaitu penempuh jalan ruhani. Ia berada dalam suluk dengan bimbingan mursyid. Suluk itu seperti spiritual circle dan mursyid adalah otoritas yang memberikan bimbingan, arahan dan petuah penuh hikmah.
Tentu mursyid adalah salik yang berhasil mencapai tahapan puncak dari suluk dan berperan menggantikan mursyid sebelumnya. Turun temurun tapi bukan genealogis, berdasarkan ilmu dan kasyf (penglihatan batin) sang mursyid.
Tidak jarang salik yang tampak biasa justru dianggap mumpuni dan dilantik sebagai mursyid baru. Hanya mursyid yang mengetahui kedudukan tiap salik. Seperti guru di sekolah mengetahui capaian ilmu dan karakter tiap murid-muridnya. Untuk memilih mursyid baru sepeninggalnya pun tahu siapa yang layak meneruskannya.
Menariknya bahwa sang mursyid baru pun tidak jauh dari pola dan kinerja dari mursyid sebelumnya dalam bimbingan dan arahan spiritual untuk para salik yang mengikutinya. Kenapa sih harus ikut mursyid? Jawabannya seperti pasien terhadap dokter, prajurit terhadap komandan militer, atau pembantu terhadap majikannya.
Dalam tradisi fiqih adalah layaknya seorang muqalid terhadap mujtahid. Ia patuh, taat, dan melaksanakan. Tanpa menyoal tahu dalil maupun tidak. Muqalid sendiri yang menetapkan mujtahid yang dipilihnya sendiri, baik melalui pertimbangan sendiri maupun pendapat para ahli. Tentu ada ketentuan keilmuan dan ketinggian moral sebagai standar penilaian.
Konsekuensi dari pilihan itu muqalid harus sami'na wa
atho'na. Dalam urusan taqlid ini, tak jarang terjadi perdebatan. Ini ranah
fikih dan biarkan itu diurus para ahlinya.
Sedikit melirik Islam mazhab Syiah. Bahwa Ahlulbait as ditetapkan sebagai pelanjut risalah Nabawiyyah. Mereka berkedudukan sebagai Aimmah sampai semesta ini Kiamat.
Saya kira Rasulullah saw benar. Apalagi ketetapan pelanjutnya didasarkan Ilahiyah. Saya percaya dan memahami ini untuk memelihara (menjaga) agama tetap murni dan agar mudah untuk diketahui tingkat distorsi dari masa ke masa.
Ya dengan sejarah, kita dapat membacanya. Bacalah peristiwa Ghadir Khum dalam sejarah Nabi Muhammad SAW.
Haruskah agama terjaga dari distorsi? Berbedakah
dengan pengembangan? Ini penting dibincangkan. Cag! ***
