Teringat Arbaeen Walk tahun 2024. Di area haram Imam Husain as saya terdiam depan pintu masuk menatap makam yang begitu kokoh. Mencoba mendekat. Gerakan orang yang bergerak melepaskan tangan saya pada dinding Al-Husain as. Terseret kembali ke putaran keluar pintu.
Saya balik lagi. Yang sama terjadi. Tangan saya tak sampai. Lebih dari tiga dicoba tak sampai. Akhirnya saya pilih berdiri dekat khadim dan dari sudut itu saya memandang dzarih yang dipegangi, diusapi, dan dicium dengan derai air mata. Sambil menarik nafas saya sampaikan salam, doa, dan permohonan syafaat. Membaca shalawat dan surah Alfatihah. Hanya itu yang mampu dilantunkan.
Di antara peziarah yang melakukan shalat, saya buka buku doa. Membacanya dan spontan muncul pertanyaan: bisakah ke sini lagi? Nikmat dan anugerah. Tenang dan damai terasa. Selesai doa saya keliling area haram. Mengamati jejak 10 Muharram 61 Hijriah (680 M). Terlintas aneka peristiwa dan rangkaian perilaku kekejaman dan kekerasan dari rezim Bani Umayyah kepada Al-Husain as dan keluarganya. Geram dan kesal pada Bani Umayyah yang begitu menganiaya cucu Rasulullah saw. Laknat Allah bagi mereka.
Kini tiba juga bulan Muharram 1448 H. Masih tergambar suasana Karbala tahun 680 Masehi. Sangat luar biasa tulisan seorang Ibnu Thawus dalam bukunya. Ia menuliskan peristiwa Karbala begitu epik, heroik, tragis dan menyesakkan dada bagi pembaca yang cinta Ahlulbait as. Terbayang tubuh Al-Husain dikeroyok, dicincang dan dipenggal kaum durjana Bani Umayyah.
Tak hanya itu. Para wanita, anak-anak, dan orang sakit dari Ahlulbait diseret dan dibelenggu. Dijadikan tawanan. Disuruh untuk bergerak berjalan menuju Damaskus, Ibukota Bani Umayyah di Suriah. Benar-benar berada keadaan nestapa, duka dan kesedihan teramat sangat.
Jika ada yang mengatakan ia sedang menderita. Sungguh Ahlulbait lebih menderita secara psikologis dan fisik serta lainnya. Meneladani Ahlulbait tampaknya tak ada pilihan lainnya.
Selamat memasuki bulan Muharram. Dengan duka cita. Untuk baginda Rasulullah SAW dan keluarganya. Untuk masyarakat Indonesia yang semakin tercekik dan terlilit dengan ulah sang penguasa. ***
