Minggu, 03 Mei 2026

Riwayat Kangjeng Nabi: Teladan yang Hidup, Bukan Sekadar Dikagumi

Di tengah kehidupan manusia yang sering kehilangan arah, Islam menghadirkan satu sosok yang tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteladani: Nabi Muhammad SAW.

RAA Wiranata Kusumah V dalam buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW pada bagian “pihatur nu nyalin” mengajak kita melihat kembali posisi Nabi bukan sekadar figur sejarah, melainkan manusia hidup yang menjadi standar akhlak dan perilaku.

Sejak awal, ditekankan bahwa Rasulullah bukan hanya seorang nabi dalam konteks ritual keagamaan, tetapi juga seorang manusia yang menjalani kehidupan secara utuh—sebagai suami, pemimpin, sahabat, dan anggota masyarakat. Karena itu, keteladanan beliau bersifat menyeluruh.

Wiranata Kusumah menyatakan: “Rasulullah itu bukan hanya untuk dikagumi, tapi untuk diikuti dalam kehidupan sehari-hari.”

Pernyataan ini menjadi kunci. Banyak orang memuliakan Nabi, tetapi berhenti pada rasa cinta yang pasif. Padahal, inti dari kecintaan dalam Islam adalah ittiba’ (mengikuti).

Masih pada bagian “pihatur nu nyalin”, Wiranata Kusumah menegaskan bahwa akhlak Nabi bukan sesuatu yang abstrak. Ia nyata dalam tindakan sehari-hari:

  • Kejujuran dalam berdagang
  • Kesabaran dalam menghadapi hinaan
  • Kasih sayang dalam keluarga
  • Keadilan dalam memimpin

Keteladanan ini membuat Nabi tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai model perilaku hingga hari ini.

Wiranata Kusumah menyatakan: “Akhlak Rasulullah itu bukan teori, tapi praktik hidup yang nyata.”

Dengan kata lain, Islam tidak hanya menawarkan ajaran, tetapi juga contoh konkret dalam diri Nabi.

Salah satu kritik halus adalah kecenderungan umat yang membatasi mengikuti Nabi hanya pada ibadah formal. Padahal, sunnah Nabi mencakup cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama.

Wiranata Kusumah menyatakan: “Mengikuti Nabi itu bukan hanya dalam ibadah, tapi dalam cara hidup secara keseluruhan.”

Ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan yang utuh tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam akhlak sosial—bagaimana seseorang bersikap jujur, adil, dan berempati.

Pada akhirnya, buku Riwayat Kangjeng Nabi ini mengajak kita untuk beralih dari sekadar mengagumi menjadi meneladani. Nabi Muhammad SAW adalah “uswah hasanah”—contoh terbaik—bukan untuk ditempatkan jauh di atas, tetapi untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita mencintai Rasulullah, maka wujudnya adalah meneladani beliau,” demkian Wiranata Kusumah untuk kita semua. Tentu pesan ini sederhana, tetapi mendalam: cinta yang sejati melahirkan tindakan. Siapkah umat Islam membuktikannya? *** (ahmad sahidin)

Simak VIDEO BOOK READING AND REVIEW Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya Wiranata Kusumah V.