Di tengah kehidupan manusia yang sering kehilangan arah, Islam menghadirkan satu sosok yang tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteladani: Nabi Muhammad SAW.
RAA Wiranata Kusumah V dalam buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW pada bagian “pihatur nu nyalin” mengajak kita melihat kembali posisi Nabi bukan sekadar figur sejarah, melainkan manusia hidup yang menjadi standar akhlak dan perilaku.
Sejak awal, ditekankan bahwa Rasulullah bukan hanya seorang
nabi dalam konteks ritual keagamaan, tetapi juga seorang manusia yang menjalani
kehidupan secara utuh—sebagai suami, pemimpin, sahabat, dan anggota masyarakat.
Karena itu, keteladanan beliau bersifat menyeluruh.
Wiranata Kusumah menyatakan: “Rasulullah itu bukan hanya
untuk dikagumi, tapi untuk diikuti dalam kehidupan sehari-hari.”
Pernyataan ini menjadi kunci. Banyak orang memuliakan Nabi,
tetapi berhenti pada rasa cinta yang pasif. Padahal, inti dari kecintaan dalam
Islam adalah ittiba’ (mengikuti).
Masih pada bagian “pihatur nu nyalin”, Wiranata Kusumah menegaskan
bahwa akhlak Nabi bukan sesuatu yang abstrak. Ia nyata dalam tindakan
sehari-hari:
- Kejujuran
dalam berdagang
- Kesabaran
dalam menghadapi hinaan
- Kasih
sayang dalam keluarga
- Keadilan
dalam memimpin
Keteladanan ini membuat Nabi tidak hanya relevan di masa
lalu, tetapi tetap hidup sebagai model perilaku hingga hari ini.
Wiranata Kusumah menyatakan: “Akhlak Rasulullah itu bukan
teori, tapi praktik hidup yang nyata.”
Dengan kata lain, Islam tidak hanya menawarkan ajaran,
tetapi juga contoh konkret dalam diri Nabi.
Salah satu kritik halus adalah kecenderungan
umat yang membatasi mengikuti Nabi hanya pada ibadah formal. Padahal, sunnah
Nabi mencakup cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama.
Wiranata Kusumah menyatakan: “Mengikuti Nabi itu bukan hanya
dalam ibadah, tapi dalam cara hidup secara keseluruhan.”
Ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan yang utuh tidak
berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam akhlak sosial—bagaimana seseorang
bersikap jujur, adil, dan berempati.
Pada akhirnya, buku Riwayat Kangjeng Nabi ini
mengajak kita untuk beralih dari sekadar mengagumi menjadi meneladani. Nabi
Muhammad SAW adalah “uswah hasanah”—contoh terbaik—bukan untuk ditempatkan jauh
di atas, tetapi untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita mencintai Rasulullah, maka wujudnya adalah
meneladani beliau,” demkian Wiranata Kusumah untuk kita semua. Tentu pesan ini
sederhana, tetapi mendalam: cinta yang sejati melahirkan tindakan. Siapkah
umat Islam membuktikannya? *** (ahmad sahidin)
Simak VIDEO BOOK READING AND REVIEW Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya Wiranata Kusumah V.
