Selasa, 02 Juni 2026

Tarikh Nabi: SANG NABI MENANGIS

Sejarah mencatat Sang Nabi selama menikah dengan Khadijah tidak melakukan poligami.

Dari istri pertama ini Sang Nabi mendapatkan keturunan (anak). Sang Nabi baru memiliki keturunan lagi ketika menikah dengan Maria Al-Qibtiyah yang melahirkan Sayid Ibrahim.

Lahirnya Sayid Ibrahim bin Muhammad Rasulullah saw membuat kedudukan Maria membuat istri Nabi lainnya tidak menyukai Maria. Setiap hari Sang Nabi singgah ke rumah Maria sekadar ingin melihat pertumbuhan putranya.

Suatu hari Nabi Muhammad saw membawa Ibrahim ke rumah Aisyah. Nabi meminta istrinya, Aisyah, supaya melihat persamaannya dengan Sayid Ibrahim. Aisyah menyatakan bahwa tidak ada kesamaan antara Nabi Muhammad saw dan Sayid Ibrahim.[1] 

Pernyataan Aisyah dapat dimaklumi karena ia tidak memiliki keturunan dari pernikahannya dengan Nabi. Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap anak yang lahir pasti ada kesamaan dengan ayah maupun ibunya.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Arab bahwa seorang anak laki-laki dianggap pelanjut ayahnya. Orang-orang menganggap Sayid Ibrahim sebagai pelanjutnya sehingga Nabi tidak dianggap orang yang terputus. 

Rasa bahagia Nabi tidak lama karena Sayid Ibrahim jatuh sakit yang berujung wafat. Peristiwa ini terjadi beberapa hari setelah kepulangan Nabi Muhammad saw dari Tabuk. 

Ketika Sayid Ibrahim tiba pada sakaratul maut, Nabi Muhammad saw meletakkannya dalam pangkuan tangannya. Tangan Sayid Ibrahim yang mungil bergetar. Rasulullah saw berkata, “Ibrahim, kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Tuhan.”

Selanjutnya, tubuh kecil Sayid Ibrahim tidak lagi bergerak. Di atas pangkuan ayahnya anak itu wafat. Nabi pun tidak kuat untuk menahan sedih. Air matanya keluar membasahi pipi. Sambil menangis, Nabi Muhammad saw berkata:

 “Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini. Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu.”

Kaum Muslim melihat Nabi Muhammad saw berduka. Para sahabat mengingatkannya akan larangan berduka. Rasulullah saw menjawab:

 “Aku tidak melarang orang berduka cita, tetapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang ialah pengaruh cinta dan kasih di dalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.”[2]

Jenazah Sayid Ibrahim dimandikan oleh Fadl bin Abbas. Setelah diurus, Nabi Muhammad saw dan Abbas bin Abdul Muthalib membawanya ke Baqi untuk dikuburkan. Selesai penguburan, Nabi saw memercikkan air dan memberi tanda di atas kuburnya

Bersamaan dengan wafat Sayid Ibrahim bin Rasulullah saw terjadi gerhana matahari. Ada orang-orang Muslim yang mengganggapnya karena Sayid Ibrahim meninggal. 

Nabi Muhammad saw mengumpulkan kaum Muslim dan berkata, “Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa.”[3] ***



[1] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Litera Antarnusa, 2009) h.501-502.

[2] Jalaluddin Rakhmat dalam pengajian ahad  (2 dan 9 Januari 2011) di Masjid Al-Munawwarah, Jalan Kampus IV Kebaktian-Kiaracondong-Bandung, menerangkan bahwa Rasulullah saw menangisi kematian tidak hanya pada peristiwa wafat Sayid Ibrahim. Juga ketika pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib wafat dalam Perang Uhud pun menangisinya; Jafar bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Raudhah yang wafat dalam Perang Muth’ah pun ditangisi oleh Nabi saw; dan Ruqayah, anak rabibah Rasulullah pun ditangisi ketika wafat. 

[3] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Litera Antarnusa, 2009) h.524-528.