Suatu hari saya menghadiri pengajian Al-Munawwarah di Jalan Kampus Bandung. Guru saya: Al-Ustadz Jalaluddin Rakhmat adalah yang biasa menjadi narasumbernya. Kalau sedang berhalangan, biasanya diganti oleh putranya, Ustadz Miftah, yang juga guru saya.
Di Almunawwarah, tidak ada aturan keanggotaan bagi jamaah. Siapa pun boleh datang dan menyimak ceramahnya. Tidak ada daftar kehadiran yang harus diisi jamaah. Duduk pun bebas. Boleh di sudut masjid, belakang, depan atau menyandar di depan gerbang masjid sambil selonjoran kaki. Tidak ada aturan yang mengikat. Sekali datang, kemudian tidak datang lagi juga diperbolehkan.