Minggu, 11 September 2016

Saya Tidak Pernah Bercita-Cita untuk Bisa Menulis

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa aali Sayyidina Muhammad

DAHULU ketika kecil, saya tidak pernah bercita-cita untuk bisa menulis. Yang terpikir hanya main dan dapat makanan yang enak. Maklum, kondisi ekonomi keluarga pas-pasan. Pemberian makanan dari tetangga rumah setiap sore biasanya saya tunggu-tunggu. Selepas pulang dari masjid biasanya makanan berupa daging ayam tersedia.

Bapak dan Ibu—keduanya sudah almarhum—tidak berani langsung memakan pemberian kalau belum berkumpul semuanya. Dari kakak tertua sampai saya yang bungsu, duduk dilantai dengan karpet plastik yang sudah bolong menanti jatah. Ibu yang biasanya membagikan nasi dan lauk yang diberi dari tetangga. Kalau tidak ada pemberian, kami sekeluarga cukup makan dengan nasi putih dingin dan goreng tahu atau tempe, kadang gorengan bala-bala atau gehu menjadi teman santap nasi. Biasanya Bapak membawanya sepulang dari mengajar ngaji anak-anak yang kemampuan ekonominya lebih dari cukup.

Dalam seminggu, dua kali Bapak membawa gorengan. Meskipun pulangnya sekira pukul 22.00 an, gorengan yang dingin itu ditunggu-tunggu untuk dilahap bersama. Kalau bawanya cukup banyak, Ibu menggoreng kembali dan sebagian diberikan kepada petugas kebersihan masjid yang dibawa saat akan shalat subuh.

Kalau dahulu sebelum shalat sempat berbagi makanan, sekarang lain lagi. Selepas wudhu sambil menunggu azan shubuh, bukan gorengan yang saya bawa, tetapi buku atau majalah. Tidak untuk diberikan, tetapi dibaca. Istri saya pernah menegur, sebaiknya yang dibaca sebelum shalat kitab suci Al-Quran. 

Sabtu, 03 September 2016

Khadijah, Hijrah, dan Kalender Islam

Izinkanlah sedikit berbagi persoalan tentang sejarah Islam. Saya sedang belajar sejarah Islam sehingga membutuhkan pencerahan yang lebih luas dan mendalam. Banyak persoalan sejarah yang hingga sekarang belum saya temukan jawabannya.

Selasa, 23 Agustus 2016

Risalah Amman: Delapan Mazhab yang Diakui Ulama Internasional

Kasus perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah persoalan sejarah. Sudah tidak perlu lagi untuk diributkan. Untuk apa diributkan? Tidak ada manfaatnya. Tidak perlu dirisaukan kehadiran kaum Syiah di Indonesia karena sampai hari ini belum terbukti membuat keonaran atau menentang NKRI. Justru kaum yang menyesatkan Syiah yang memiliki potensi makar terhadap pemerintah dan tidak bersikap damai dengan sesama umat beragama. 

Sekali lagi hentikan tuduhan dan fitnah. Selama umat Islam tidak bersatu maka Indonesia tidak akan maju. Sebab para ulama di dunia sepakat dalam Risalah Amman yang ditandatangani di Jordania tahun 2005 bahwa ada delapan mazhab dalam agama Islam yang diakui dan sah dianut oleh umat Islam. Berikut ini pernyataan dalam Risalah Amman:

Senin, 08 Agustus 2016

Dalam Hadis: Ada Tiga Kaum Syiah

Saya menemukan hadis dari jalur Ahlulbait; keluarga Nabi Muhammad saw. Hadisnya berasal dari Imam Muhammad al-Baqir as berkata:

“Syiah kami terdiri dari tiga macam: mereka yang mencari makan kepada manusia dengan mengatasnamakan kami, mereka yang seperti kaca yang memperlihatkan apa saja, dan mereka yang seperti emas murni yang setiap kali dimasukkan ke dalam api ia bertambah baik” [Bihar al-Anwar, juz 78 hadis no. 24].

Saya tidak paham dengan hadis tersebut. Saya bingung tidak bisa menjelaskannya. Sebab saya tidak paham dengan kaidah tafsir dan kaidah syarh. Apalagi saya termasuk baru belajar dalam studi Islam, terutama dalam studi hadis dan ilmu kalam.

Saya teringat dengan kajian hadis di kampus UIN SGD Bandung. Seseorang yang ingin mengetahui makna dari hadis perlu mencari asbabul wurud hadis. Kemudian mencari padanan hadis yang memiliki kesamaan dalam riwayat yang lain. Kemudian dicek dari sanad dan rawi, apakah benar-benar tsiqah? Yang terpenting, dalam ulumul hadis, bahwa hadis secara matan tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran dan dipahami secara nalar (akal sehat). Itu kaidah yang saya pelajari. Tentu saja jika itu dilakukan maka akan berbulan-bulan hasil dari kajian hadis tersebut bisa didapatkan. Namun, karena diminta secara cepat maka saya jelaskan sekenanya (maklum saya awam bin bodoh).

Syarh
Bagian yang pertama pada hadis di atas: Maknanya saya kira berkaitan dengan perilaku yang kurang baik. Jika mengamati saat Imam Baqir hidup yang berada dalam suasana kekacauan politik Dinasti Umayyah yang berakhir direbut keluarga Abbas yang beralih kuasa menjadi Dinasti Abbasiyah maka bisa dipastikan ada orang-orang yang cari kesempatan dan memanfaatkan situasi dengan membawa nama Rasulullah saw dan Ahlulbait untuk legitimasi. Memang tidak dipungkiri kesakralan Rasulullah saw dan Ahlulbait masih amat dimuliakan oleh umat Islam. Maka untuk diakui oleh umat Islam, penguasa kadang memerlukan legitimasi dari Ahlulbait selaku keturunan suci dari Rasulullah saw. Agama menjadi landasan untuk menampilkan citra baik di kalangan masyarakat. Dalam Al-Quran pun disebutkan ada larangan untuk menjual ayat-ayat Al-Quran dengan harga murah, dengan seenaknya, atau digunakan kepentingan pribadi dan golongan.

Bagian kedua: Paling kita hanya mengira-ngira.  Yang kaca: mungkin menampilkan apa adanya. Baik yang buruk atau yang baik. Kalau kita becermin terlihat semuanya. Baik yang asli atau yang palsu. Cermin tidak bohong atau direkayasa. Kecuali kalau diberi cat warna sehingga tidak jernih. Cermin yang jernih dan bersih akan menampilkan apa adanya yang ada pada diri kita: baik atau buruk, akan terlihat dan tampak. Di depan cermin biasanya kita sendiri menilai diri sendiri. Bisa juga dipahami bahwa yang kita lakukan dan ucapakan ibarat ceret atau teko. Yang keluar dari lisan dan ditampilkan dalam perilaku adalah cerminan dari apa-apa yang dibaca atau diakses. Kalau teko diisi dengan air kopi, yang keluar saat dikucurkan tentu air kopi. Begitu pun yang ada pada pikiran dan dikeluarkan dalam bentuk ucapan atau tulisan. Tidak jauh dari yang kita akses atau baca dan dengar. Karena itu, perlu menyaring informasi dan memilih bacaan yang baik atau memilah informasi yang baik untuk kita dengar. Tentu yang positif layak didahulukan. 

Sekarang yang ketiga: Untuk yang emas: mungkin yang dimaksud adalah Muslim Sejati. Dia tangguh dalam musibah, tinggi dalam akhlak, dan terkenal karena kecerdesan atau kecemerlangan nalar (ilmu). Mungkin ini yang dimaksud sosok manusia Syiah yang sejati (yang diakui oleh Aimmah Ahlulbait). Wallahu'alam.

Entahlah saya tidak berani syarh lebih jauh atas kalimat hadis Al-Baqir tersebut. Itu yang diuraikan di atas hanya kira-kira saja. Silakan langsung cek syarh kitab Biharul Anwar. Jika ada kitabnya. Saya belum temukan. Mohon maaf itu hanya perkiraan saya semata. Semoga ada yang mampu menjelaskan lebih jauh sesuai dengan kaidah syarh hadis. Diantos…. 

[ahmad sahidin]