TADI pagi saya
baca buku “Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi?” karya Jalaluddin Rakhmat.
Buku ini diterbitkan Rosdakarya tahun 1999. Sudah lebih sepuluh tahun buku ini
beredar. Terbilang buku lama. Tetapi isinya tetap aktual dan mencerahkan
pikiran saya yang rada kurang intelek. Maklum saya orang dusun; orang kampung. Jadi, tak belajar banyak dari buku-buku ilmiah sehingga pikiran dan logika pun seadanya,
sekenanya.
Sabtu, 15 Agustus 2015
Jumat, 14 Agustus 2015
Gumam Orang yang Banyak Dosa (Barangkali Anda Minat Baca)
Inilah diri saya yang sedang
sadar dan kadang tidak sadar kalau diri ini punya dosa. Kalau diri punya
sombong. Kalau diri, yang bersatu padu antara tubuh dan jiwa ini, sulit
dikendalikan. Kalau diri sendiri sulit dikendalikan, tentu saja yang bukan
bagian dari diri sendiri pun akan tidak bisa dikendalikan. Karena itu, saya
mengakui kalau saya bukan seorang jagoan. Kalau saya bukan seorang yang ahli.
Kalau saya bukan yang terpenting. Apalagi yang paling mampu. Dan kini saya
sadar kalau saya punya dosa yang banyak. Saya sadar kalau saya punya banyak
salah.
Kamis, 13 Agustus 2015
Review Tesis, Membaca Sejarah Kota dengan Ilmu Sosial
SAYA sadar dengan kemampuan yang minim dalam ilmu-ilmu sosial humaniora. Penguasaan dan pemahaman teori cukup berat dikuasai selama satu semester. Apalagi perkembangan dan perubahan khazanah ilmu pengetahuan begitu cepat sehingga tidak mudah untuk memahaminya dengan benar.
Sesuai dengan pendapat almarhum Prof Kuntowijoyo bahwa ilmu-ilmu sosial yang bersifat sinkronis diperlukan dalam memahami ruang peristiwa secara komprehensif dalam kajian peristiwa-peristiwa sejarah. Rangkaian perjalanan sejarah yang diakronis akan terasa kering kalau hanya sekadar merunut dari awal hingga akhir. Agar tidak terasa kering maka peran ilmu sosial diperlukan memberi penjelasan atas setiap peristiwa sejarah.
Senin, 10 Agustus 2015
Membaca Buku The Venture of Islam
Salam. Sampurasun.... Ini saya anggap, mungkin bisa sedikit untuk memahami atau, pengantar untuk memahami Islam yang bercorak budaya. Kini sedang marak wacana Islam Nusantara. Saya kira lebih konteksual dengan kondisi sekarang adalah Islam Indonesia. Sekarang ini negeri kita bukan lagi Nusantara berdasarkan administratif. Secara historis memang Nusantara. Islam Nusantara dalam sejarah berkaitan dengan kerajaan-kerajaan Islam di masa lalu. Dahulu memang banyak kerajaan Islam tersebar di berbagai nusa atau pulau-pulau yang kini masuk kawasan NKRI.
Meski berbeda, kerajaan tersebut memiliki kesamaan satu sama lain dalam agama yang dipegang: agama Islam. Dari sana muncul ragam Islam dari berbagai pulau atau daerah dengan kekhasannya. Mungkin dari berbagai ragam wajah Islam yang muncul dari berbagai kerajaan (sebelum kolonial Hindia Belanda dan kemerdekaan Indonesia) wajah Islam yang beragam bisa dimaknai sebagai Islam Nusantara. Secara historis ragam pemahaman Islam ini lahir dari penyesuaian dengan budaya dan sosial masyarakat di mana umat Islam berpijak. Sehingga corak Islam yang muncul berbeda dengan Timur Tengah dan Eropa. Saya memahami demikian berdasarkan pemnacaan dari buku The Venture of Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)