Jumat, 03 April 2015

Mengurai Kembali Makna Budaya

Berkaitan dengan budaya, ada yang menarik tentang istilah budaya. Menurut kirata (kira-kira nyata) berasal dari  kata  budi, yang artinya potensi yang ada pada manusia; dan daya, yang berarti optimalisasi sepenuhnya. Sehingga bila disatukan menjadi budaya yang didefinisikan sebagai hasil kreatifitas potensi manusia yang diproses hingga mewujud dalam bentuk aktual yang ada dalam kehidupan manusia.

Saya juga menemukan istilah budaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah (yang merupakan jamak dari kata budi=akal). Almarhum Endang Saefudin Anshari menyatakan, budaya merupakan istilah lain dari culture, yang pada mulanya diambil dari kata kerja bahasa Latin, yaitu colo/colore, diartikan yang membuat, mengolah, mengerjakan dan mendiami. Pada masa Yunani klasik Herodotus (hidup abad 5 SM) dengan tulisan epos menceritakan persoalan kebudayaan dengan istilah arke. Lalu di abad pasca pertengahan digantikan dengan istilah etnografi atau etnology.

Selasa, 31 Maret 2015

Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati: Dua Intelektual Muslim Iran

Alhamdulillah saat kuliah saya membaca buku-buku yang berkaitan dengan Rasulullah saw dan perkembangan Islam. Juga membaca pemikiran ulama-ulama terdahulu dalam bidang fikih, teologi, filsafat, dan tasawuf. Hanya sekilas saja, tidak mendalam. Maklum hanya tuntutan kuliah alias untuk membuat makalah dan tugas-tugas. Kalau untuk didalami, baru sekadar niat saja.

Namun, ketika kuliah menjelang akhir saya mulai memfokuskan diri untuk mengenal sosok ulama Murtadha Muthahhari dan cendekiawan Ali Syariati. Dua tokoh besar Islam yang hidup pada zaman modern. Keduanya merupakan pelopor revolusi Islam Iran yang berhasil menumbangkan rezim Syah Pahlevi. Meski keduanya bermazhab Syiah Imamiyah, tetapi tidak menutup pikiran saya untuk mengkaji dan mereguk pemikirannya yang mencerahkan.

Kamis, 19 Maret 2015

Managemen Qalbu (MQ): Sebuah Pengantar (4)

Ada beberapa penyakit qalbu yang kadang terus hinggapi dan gugurkan amaliyah ibadah seorang Muslim. Menurut Imam al-Ghazali, bahwa penyakit qalbu bermuara pada hasad (iri), riya’ dan ‘ujub atau takabbur. Ketiga penyakit ini merupakan induk dari semua penyakit qalbu lainnya.

Penyakit hasad atau dengki adalah sikap tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan mengharapkan nikmat itu lenyap darinya. Sedangkan kibr atau sombong merupakan penyakit qalbu, yang pelakunya kadang menganggap remeh orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “kibr itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain" (HR.Muslim).

Ada pun penyakit riya ini berkaitan dengan keinginan untuk menanpakkan diri sekaligus ingin dianggap yang paling wah dan hebat atau lainnya di hadapan orang lain.

Rabu, 18 Maret 2015

Managemen Qalbu (MQ): Sebuah Pengantar (3)

Menurut Aa Gym, dalam khazanah ilmu tasawuf, terutama dalam pandangan Al-Ghzali, qalbu itu bagi tiga. Pertama, qolbun salim (hati yang sehat). Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Pada hari kiamat nanti, barangsiapa menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa membawa hati yang sehat tidak akan selamat.

Allah SWT berfirman, “adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat" (Asy-Syu'ara : 88-89).