Kamis, 19 Februari 2015

Prof.Dr.H.AHMAD TAFSIR, MA: Pendidikan Agama Tak Jadi Perhatian yang Utama

Masalah pendidikan tak hanya dipersoalkan kalangan pendidik, pengajar, pemilik lembaga pendidikan, dan pemerintah, tapi juga semua orang bicara. 

Mengapa bicara? Karena tiap orang punya kepentingan. Namun seberapa besar peduli pada pendidikan? Tampaknya kurang, dan bahkan mengecewakan. Mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi? Dan bagaimana perkembangannya dalam Islam?

Kepada AHMAD SAHIDIN dari Majalah Swadaya, Guru Besar Ilmu Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Prof.Dr.H.AHMAD TAFSIR, M.A, menyampaikan semua persoalan tersebut. Berikut ini petikannya:

Rabu, 18 Februari 2015

Dik Doank, Inti Hidup Itu Masuk Islam Secara Kaffah

Masalah pendidikan tak hanya dipersoalkan kalangan pendidik, pengajar, pemilik lembaga pendidikan, dan pemerintah, tapi juga semua orang bicara. Mengapa bicara? 

Karena tiap orang punya kepentingan. Misalnya, kalangan pendidik ingin murid atau siswanya maju dan mampu menjawab tantangan zaman. Bagi orangtua, ingin agar anaknya itu pintar, cerdas, hidup lebih baik dan lebih sukses. 

Pemerintah pun menginginkan generasi muda Indonesia menjadi manusia yang unggul, berperan, dan berkontribusi bagi kehidupan bangsa dan negara. Begitu pun penjahat atau yang berupaya menghancurkan bangsa pun, dipastikan berkepentingan dengan dunia pendidikan.

Namun seberapa besar mereka peduli pada pendidikan? Tampaknya kurang, dan bahkan mengecewakan. Mengapa dan bagaimana itu terjadi?

Untuk menjawab itu, Ahmad Sahidin dari Majalah Swadaya mewawancarai Dik Doank, artis yang merintis Sekolah Alam Kandank Jurank Doank, pada Ahad, 6 April 2008 di Komplek ALVITA, Blok Q No.14 Sawah Baru, Ciputat, Jakarta. Berikut ini kutipannya:

Minggu, 15 Februari 2015

Menjadi Editor (Tulisan Lama)

Izinkanlah saya memperkenalkan diri, saya bernama AHMAD SAHIDIN. Saya pernah belajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selama kuliah senang baca buku filsafat, sastra, dan teologi.

Hingga kini saya masih bergelut dalam pembacaan buku-buku tersebut. Bahkan beberapa kajian pun saya ikuti, termasuk belajar mazhab Syiah.

Tokoh yang saya minati untuk wacana Islam selain tokoh dan ulama tempo dulu, juga yang sekarang seperti Imam Ja`far Shadiq, Mullah Shadra, Ibnu Sinna, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, Ayatullah Murtadha Muthahhari, Imam Khomeini, Yusuf Qardhawi, Allamah Muhammad Husein Thabataba`i, Ali Syaria`ti, Hasan Hanafi, Tariq Ramadhan, Muhammad Al-Ghazali, Hasan Al-Bana, Sayyid Quthub, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Abul A`la Maududi, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan lainnya.

Sabtu, 14 Februari 2015

Penduduk Indonesia masih Miskin

SEBAGAI umat Islam sudah seharusnya meneledani kehidupan dan akhlak Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam berderma. Namun dalam berderma, apalagi bila dilihat di jalan-jalan raya banyak orang yang menengadahkan tangan dengan pakaian rombeng dan wajah kuyu. Memang akan trenyuh bila melihat kondisi dan mendengar lirih suaranya.

Memberi atau tidak, itu sebuah pilihan. Jika memberi kemungkinan besar tak mendidik karena membuatnya kecanduan untuk terus memelas belas kasih orang. Memang seharusnya membangkitkannya agar menjadi manusia yang mandiri dan berpenghasilan. Namun tidak sedikit orang-orang yang berderma tidak menghiraukan aspek ini. Mereka langsung beri saja. Bila semua orang berperilaku seperti ini sangat mungkin tidak mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apalagi bila dilihat dari tahun ke tahun, angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia penurunannya belum menggembirakan.