Sabtu, 12 Maret 2016

Pesan Damai dari buku Muhammad dan Isa: Telaah Kritis atas Risalah dan Sosoknya

William E. Phipps dalam buku  "Muhammad dan Isa: Telaah Kritis atas Risalah dan Sosoknya" (Bandung: Mizan, 1999) bagian simpulan, mengutip Gotthold Lessing bahwa seorang raja yang sedang sekarat dan mencintai ketiga putranya. Sudah menjadi kebiasaan yang meneruskan menjadi raja adalah yang diberi cincin baiduri.

Raja tidak bisa memutuskan kepada siapa cincin diberikan—karena cinta kepada ketiganya—sehingga membuat dua buah duplikat cincin yang sama persis. Kepada ketiganya diberikan dan setiap putranya merasa memiliki cincin yang asli.

Menurut Phipps, seharusnya kaum Yahudi, kaum Kristen, dan kaum Islam tidak meributkan keaslian agama yang berasal dari Tuhan. Cukuplah meyakininya sebagai kebenaran yang sejati dengan menerima keberadaan agama lain yang diyakini orang lain sebagai kebenaran.

Demikian pesan Phipps dalam akhir bukunya. Saya kira layak disambut, terutama saat kondisi umat beragama di Indonesia mulai memanas hanya karena percikan orang-orang yang anti dengan perdamaian. Percayalah hidup damai itu lebih nyaman dan nikmat. (ahmad sahidin)

Selasa, 08 Maret 2016

Tragedi Hari Kamis: Ketika Rasulullah saw Sakit

Saya pernah mengajukan pertanyaan kepada Ustad Sinar Agama di facebook: apakah Imam Ali as ada di antara sahabat ketika Nabi Muhammad saw meminta kertas dan pena; yang tidak dipenuhi Umar bin Khattab (yang dalam hadis dikatakan mengigau atau meracau) yang hadisnya berkaitan dengan tragedi hari Kamis. Hadis ini diriwayatkan Ibnu Abbas. Mengapa Imam Ali as tidak segera memenuhi permintaan Nabi (kalau sedang ada di sana)?

Sabtu, 13 Februari 2016

Benarkah KH Hasyim Asyari Menolak Syiah?

Saya pernah menulis artikel di kompasiana dengan judul: Orang NU Ditanya tentang Mazhab Syiah (setelah saya cek dalam internet, tulisan tersebut hilang dan tidak ditemukan lagi; untungnya tanggapan atas tanggapan pernah saya kirim ke situs Misykat).

Kemudian ada komentar pada tulisan saya di kompasiana: “Mengenai Syiah sebetulnya sudah sedari awal ketika NU berdiri melalui salah satu pendiri NU telah mengingatkan bahaya Syiah sebagai paham di luar Ahlu sunnah wal jamaaah Adalah KH. Hasyim Asyari dalam Muqoddimah qonun asasi NU menjelaskan dengan gamblang bahwa di luar 4 Imam mazhab, seperti Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti. Tak lupa, KH. Hasyim mengutip sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabilantelah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”nn Sumber).

Sabtu, 06 Februari 2016

Belajar dari buku Al-Mushthafa: Studi Kritis Historis Nabi Saw

Sebenarnya saya tidak tertarik untuk membaca buku yang berkaitan dengan sejarah Nabi Muhammad saw. Selain karena terlalu bernuansa klasik dan pernah dipelajari ketika kuliah. Juga mengira bahwa sejarah Nabi tidak jauh berbeda dengan buku lainnya: membosankan. 

Namun setelah bergabung dalam sebuah milis yang khusus mengkaji sejarah yang dibuat oleh kawan-kawan alumni jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, saya menjadi tertarik lagi untuk membuka dan membaca lagi buku sejarah.

Dalam diskusi sampai pada pembahasan metodologi sejarah dan mempertanyakan keabsahan metodologi sejarah modern Barat. Saya menyatakan sepakat dengan penggugatan atau uji ulang semua khazanah kesejarahan, baik metodologi sejarah maupun filsafat sejarah yang berasal dari Barat.