Sabtu, 19 Maret 2022

Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi

SUDAH lama aku tak bercerita tentang keresahan dan ketakberdayaan hidup. Namun kali ini aku ingin bercerita dari kisah seorang filsuf Muslim abad 12 Masehi yang dijatuhi hukuman mati karena pemikiran dan keyakinannya berbeda dengan ulama mayoritas.  Siapakah ia? 

Beliau adalah Syaikh Isyraqi Syihabuddin Yahya  as-Suhrawardi, yang dihukum gantung oleh Sulthan Shalahudin al-Ayyubi. Filsuf yang wafat pada usia 35 tahun ini merupakan guru Malik Az-Zhahir, putra Sulthan Shalahudin al-Ayyubi.

Cerita ini kudapatkan dari buku “Hikayat-hikayat Mistis” karya Syaikh Al-Isyraq Syihabudin Yahya as-Suhrawardi.  Aku ingin bercerita dari bagian “Suatu Hari Bersama Sekelompok Sufi”. Pada hikayat ini, penulis yang dikenal sebagai filsuf sekaligus sufi menyampaikan pengalaman intuitif dengan bahasa sastra. Ia bercerita, dirinya diajari seorang guru yang hingga dirinya paham tentang hakikat semesta dan kehidupan ini.

Jumat, 18 Maret 2022

Resensi buku Imam Muhammad Al-Mahdi

Satu di antara manfaat membaca adalah mengingatkan kembali yang pernah diketahui dan menambah informasi baru. Itu yang saya alami saat membaca buku. Ketika membaca buku hingga tuntas maka dua manfaat itu yang saya dapatkan. Karena lebih banyak manfaat secara ruhani dan menjadi nutrisi otak, maka saya teruskan membaca meski tidak dapat penghasilan (uang) dari aktivitas membaca.

Apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Apa yang kau tuju? Jawablah kawan!

 Apa yang kau cari? Apa yang kau inginkan? Apa yang kau tuju? Jawablah kawan!! Inilah yang kupertanyakan pada diriku: apa sesungguhnya yang paling utama dan yang menjadi tujuan sejati?

Berkenaan dengan ini aku teringat para filsuf eksistensialis Barat yang menganggap kehidupan manusia adalah yang paling mendasar sehingga nilai-nilai humanis adalah rujukan yang paling penting untuk diperbincangkan. Aku sendiri tidak yakin dengan yang mereka katakan. Sebab bagiku hidup tidak hanya selesai dengan, untuk dan demi kemanusiaan. 

Kamis, 17 Maret 2022

Bener kitu Islam madhab Syiah teh Sasar?

Harita keur ngajar di salah sahiji sakola di Bandung, kuring ditaros ku murangkalih: naha leres Syiah sasar? Kuring balik naros: naon anu disebat sasarna? Anjeuna nyebatkeun anu aya dina internet dugi ka kasus di Sampang-Madura. Sim kuring seuri. Ku simkuring dijantenkeun PR ka murangkalih supados milarian aosan atanapi buku-buku ngeunaan Syiah anu ditulis ku urang Syiah.

Dina palajaran salajengna kuring langsung dialog sareng murangkalih perkawis aosan anu kantos dibaca. Sim kuring ngawaler sabisa-bisa sabab kuring lain ahli dina widang teologi sareng mazhab. Ngan diguar ti sajarah anu kantos diajar di UIN Bandung sarta maosan buku-buku Kang Jalal, Muhammad Tijani As-Samawi, Syarifuddin Musawi, sareng Buku Putih Mazhab Syiah anu diterbitkeun ku ABI (Ahlulbait Indonesia).