Senin, 03 Oktober 2016

Fatwa Fadhlullah: Boleh Copy Buku untuk Keperluan Pribadi

Salam. Beberapa pekan lalu saya memfotokopi sebuah buku karya terjemahan yang ditulis oleh ulama dari luar negeri. Buku tersebut pernah diterbitkan di Jakarta dan sekarang sudah terbit lagi. Biasanya dahulu kalau untuk kebutuhan studi, saya berani langsung copy karena hanya satu dan tidak dijual.

Saya pernah dengar guru saya bicara tentang copy buku. Saya ragu: apakah boleh atau tidak? Maklum sudah lama. Kemudian saya tanyakan kembali melaui whatsapp. Tapi tak ada jawaban. Sedangkan buku sudah saya copy dengan memesan kepada tukang foto kopi di kampus UIN Bandung sekira 11 copy. Apalagi ini bahan bacaan untuk kajian yang melibatkan banyak orang. Secara etika memang perlu izin penulis dan penerbit. Saya coba cari info penerbit, tidak ketemu.

Lantas saya coba kirim kepada Bayynat: kantor marja taqlid Ayatullah Udzma Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah (allahu yarham). Sore harinya saya dapat kiriman jawaban yang intinya diperbolehkan bila untuk keperluan pribadi. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Meraih Ibadah Sejati

AL-JUNAID adalah salah seorang di antara para sufi yang terkenal dalam sejarah Abad Pertengahan Islam. Ia banyak dikagumi karena zuhud, tawadhu, dan toleran terhadap sesama manusia sehingga banyak yang menjadi muridnya. Suatu ketika ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Dan tersebarlah berita tentang pemenjaraannya itu hingga berbondong-bondong para murid datang menjenguknya. Setelah mengucapkan salam kepada para muridnya, al-Junaid bertanya, “wahai para muridku, hal apa yang mendorong kalian datang kemari?”

“Al-Junaid, engkau adalah guruku. Sudah sepantasnya kami menunjukkan rasa cinta dan sayang padamu.”

“Oh, begitu,” ucap al-Junaid seraya membungkukkan badannya untuk mengambil beberapa batu kerikil. Kemudian tanpa riskan ia lemparkan kepada para muridnya itu. Mereka terkejut, kaget, dan langsung lari menghindar dari lemparan sang guru. Melihat para muridnya berlarian, al-Junaid berteriak, ”kalian semua berdusta.”

Berbuat Baik Tidak Perlu Memilah

PADA suatu malam, seorang lelaki buta tidak dapat melelapkan matanya. Ia mengeluh dan merintih, “Ya Tuhanku, betapa kerasnya hati manusia di sekelilingku. Tak ada seorang pun yang mau memikirkan yang dhuafa dan miskin. Ya Tuhan, pada siapakah aku meminta bantuan?”

Dia terdiam mengingat istrinya yang baik saat masih hidup. Air mata pun bergenang di kelopak mata dan membasahi wajahnya.

Esok paginya, lelaki buta itu bangun dari tempat pembaringannya, mencari sesuatu untuk mengisi perut. Perlahan-lahan tangannya meraba-raba ke seluruh penjuru kamar. Tapi, tak ada yang dapat ditemukan selain sekeping roti kering. Dengan pakaian yang sudah robek, ia berjalan melewati lorong-lorong kota dengan tongkatnya.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Teladan Kaum Hawa

DALAM sejarah Islam banyak kaum hawa yang bisa dijadikan teladan. Beberapa di antaranya adalah Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah saw. Khadijah berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan keluarga pedagang. Tidak heran jika kemudian ia menjadi pebisnis besar dan kaya.

Salah satu karyawan yang menjualkan dagangan Khadijah adalah Muhammad bin Abdullah. Sosok Muhammad yang dikenal sebagai Al-Amin (yang dapat dipercaya) membuat Khadijah percaya dan tidak keberatan membawa barang dagangannya itu ke luar kota. Apalagi kemampuan bisnis Muhammad yang cekatan, piawai, cerdas, dan berperrilaku mulia membuat hati Khadijah tertarik. Khadijah pun menikah dengan Muhammad. Setelah pernikahan dengan Khadijah, Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul penutup. Misi suci ini membuat Rasulullah saw banyak meninggalkan rumah untuk berdakwah. Sebagai istri, Khadijah pun mendukungnya, hingga tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk membantu penyebaran Islam.