Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma
shalli ala Sayyidina Muhammad wa aali Sayyidina Muhammad
DAHULU
ketika kecil, saya tidak pernah bercita-cita untuk bisa menulis. Yang terpikir hanya
main dan dapat makanan yang enak. Maklum, kondisi ekonomi keluarga pas-pasan.
Pemberian makanan dari tetangga rumah setiap sore biasanya saya tunggu-tunggu.
Selepas pulang dari masjid biasanya makanan berupa daging ayam tersedia.
Bapak
dan Ibu—keduanya sudah almarhum—tidak berani langsung memakan pemberian kalau
belum berkumpul semuanya. Dari kakak tertua sampai saya yang bungsu, duduk
dilantai dengan karpet plastik yang sudah bolong menanti jatah. Ibu yang
biasanya membagikan nasi dan lauk yang diberi dari tetangga. Kalau tidak ada
pemberian, kami sekeluarga cukup makan dengan nasi putih dingin dan goreng tahu
atau tempe, kadang gorengan bala-bala atau gehu menjadi teman santap nasi.
Biasanya Bapak membawanya sepulang dari mengajar ngaji anak-anak yang kemampuan
ekonominya lebih dari cukup.
Dalam seminggu, dua kali Bapak membawa
gorengan. Meskipun pulangnya sekira pukul 22.00 an, gorengan yang dingin itu
ditunggu-tunggu untuk dilahap bersama. Kalau bawanya cukup banyak, Ibu
menggoreng kembali dan sebagian diberikan kepada petugas kebersihan masjid yang
dibawa saat akan shalat subuh.
Kalau dahulu sebelum shalat sempat berbagi
makanan, sekarang lain lagi. Selepas wudhu sambil menunggu azan shubuh, bukan
gorengan yang saya bawa, tetapi buku atau majalah. Tidak untuk diberikan,
tetapi dibaca. Istri saya pernah menegur, sebaiknya yang dibaca sebelum shalat
kitab suci Al-Quran.