Salam wa rahmah. Mohon doa. Saya dan keluarga puasa
Ramadhan hari senin, 6 Juni 2016.
Sesuai dengan “fatwa” dari guru saya: bahwa
urusan yang berkaitan dengan sosial dan kebersamaan lebih dahulu dipentingkan. Maka dalam puasa ramadhan ini dan sejak dahulu, saya bersama keluarga ikut keputusan pemerintah Republik Indonesia.
Memang sudah biasa dalam urusan fikih terbagi dalam kubu dan golongan. Namun,
itu merupakan pilihan buat kita; memilih yang membuat enjoy dan jalani ibadah
dengan syukur. Nikmati perbedaan dengan tidak memaksakan pemahaman kita kepada
orang lain yang beda mazhab atau beda ormas. Meski satu mazhab ternyata tidak
lepas dari ikhtilaf.
Karena itu, sadari dengan lapang hati dan pikiran jernih
bahwa di sekitar lingkungan kita ada perbedaan. Ikhtilaf itu rahmat. Bisakah
diwujudkan dalam umat Islam?
Mohon maaf lahir batin. Mugi urang sadaya aya dina
panangtayungan Allah Ta'ala. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala
Aali Sayyidina Muhammad
Minggu, 05 Juni 2016
Membaca Buku: The First Muslim, The Story of Muhammad
0) Giliran karya Lesley Hazleton, The First Muslim: The
Story of Muhammad, yang kini dibaca. Moga bisa paham
sekaligus menyerap pesan dibalik teks.
1) Lesley Hazleton dlm First Muslim, The Story of Muhammad: menyatakan
Ibnu Ishaq dan Thabary dlm heuristik menggunakan sejarah lisan.
Rumi: Air Kehidupan
Jalaluddin Rumi bercerita bahwa pada tepian sebuah sungai terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.
Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.
Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, “Apa yang kau lakukan?”
Sabtu, 04 Juni 2016
Puasa: Syariat, Tarekat, Hakikat
ALKISAH seorang Muslim
yang hidup setelah masa Khulafa Ar-Rasyidun. Ia pada masa itu dikenal ahli
ibadah yang tinggal di serambi masjid nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan
itikaf, dzikir, shalat dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena
penglihatannya tidak normal alias buta.
Suatu hari datang kabar bahwa temannya
sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain.
Ketika tiba temannya itu meminta ia untuk berdoa demi kesembuhannya. Karena
itulah setiap selesai shalat ia mendoakannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah
kunjungan itu temannya sembuh.
Langganan:
Postingan (Atom)