Membaca novel
buat saya bagian dari hiburan. Karena memang novel bukan
sesuatu yang sakral dan pelajaran yang tertuang dalam novel bisa multitafsir. Tidak ada ketentuan dalam masalah tersebut.
Untuk buku
yang berbau agama dan keagamaan, baru ada nuansa sakral dan
nilai-nilai penting bagi umat manusia. Kadang untuk mempertahankan
sakralitas itu orang-orang yang menjabat selaku pemegang otoritas
agama terjun dalam menilai dan menyampaikan kepada publik.
Untuk novel
memang ada juga yang kena semprot otoritas agama. Saya
kira itu bagian dari jiwa liar dan tidak terkontrol dalam proses
menulisnya. Namanya juga novel, pasti tidak benar-benar berasal dari
fakta. Dominan imajinasi yang tertuang. Karena itu, sumber daya
kreatif dan tujuan sang penulis dalam menulis novel harusnya
dipertanyakan sebelum meluncurnya karya di tengah masyarakat.