Jumat, 21 Agustus 2015

Resensi buku Tadarus Cinta Buya Pujangga

Membaca novel buat saya bagian dari hiburan. Karena memang novel bukan sesuatu yang sakral dan pelajaran yang tertuang dalam novel bisa multitafsir. Tidak ada ketentuan dalam masalah tersebut.
Untuk buku yang berbau agama dan keagamaan, baru ada nuansa sakral dan nilai-nilai penting bagi umat manusia. Kadang untuk mempertahankan sakralitas itu orang-orang yang menjabat selaku pemegang otoritas agama terjun dalam menilai dan menyampaikan kepada publik.

Untuk novel memang ada juga yang kena semprot otoritas agama. Saya kira itu bagian dari jiwa liar dan tidak terkontrol dalam proses menulisnya. Namanya juga novel, pasti tidak benar-benar berasal dari fakta. Dominan imajinasi yang tertuang. Karena itu, sumber daya kreatif dan tujuan sang penulis dalam menulis novel harusnya dipertanyakan sebelum meluncurnya karya di tengah masyarakat.

Kamis, 20 Agustus 2015

Novel: Kenapa Aku Dijual?

Judul : SOLD: Kenapa Aku Dijual?
Penulis : Zana Muhsen & Andrew Crofts
Penerjemah : Astuti Pramiyanti
Penerbit : Madanisa (Salamadani)
Terbit : April 2008
Tebal : 401+xii halaman

Saat Zana Muhsen dan adiknya, Nadia Muhsen, berumur 15 dan 14 tahun, ayah mereka mengiming-imingi “Liburan Gratis ke Luar Negeri”.

Betapa bahagianya kedua gadis ini mendengar tawaran ayahnya. Tanpa berpikir dua kali, mereka mengiyakan. Namun, betapa terkejutnya Zana dan Nadia setelah mengetahui bahwa ayah mereka telah berbohong. “Liburan” yang mereka “nikmati” ternyata sebenarnya adalah dinikahkan dengan laki-laki keturunan Yaman. Dari sinilah penderitaan dan kekerasan itu mula terjadi.

Selasa, 18 Agustus 2015

Pengalaman Keur Nyeri Patuangan

Tadi wengi dugi kiwari kuring keuna nyeri beuteung. Biasa alatan tuang sareng anu lada. Kamari uih ti sakola sareng pun bojo ngahaja barangtuang gurame bumbu rica-rica. Habeuk bae dituang. Kirang langkung ti sajam, kontan karasa kukurileubeukan patuangan. Biasa ka jamban. Lima menit saatos ti jamban karaos deui. Teras bae pulang anting ka jamban. Mun teu salah mah dugi ka langkung lima balikan.

Tadi oge subuh bulak balik ka jamban. Teras dugi ayeuna. Tangtos dinten ieu kuring teu ka sakola. Kabayang atuh mun keur di sakola hayang ka jamban sareng bulak balik, tangtos ngaganggu aktivitas kuring di sakola. Kusabab kita kuring ngahaja libur heula. Di imah bae.

Minggu, 16 Agustus 2015

Duhai Baginda, Maafkanlah Saya

Saya tidak tahu apakah diri saya ini bagian dari semesta; ataukah sebaliknya? Apakah hidup ataukah mati yang sedang saya alami kini? Terasa dekat batas akhir hidup ini. Saya merasa demikian karena kadang dalam diri muncul sejumlah penyesalan atas yang pernah dilakukan dahulu atas sejumlah dosa dan salah. Inginnya segera terhapus. Bagaimanakah? Terlalu banyak masalah. Terlalu banyak keinginan dalam diri ini. Banyak tuntutan dan tantangan zaman. Bila tak ikut maka tak layak bagian dari mereka. Bila ambil jalan sendiri, maka dibilang menyimpang. Selalu ada saja yang membuat diri saya ini termenung. Harus bagaimana? Siapa diri ini? Hendak ke mana? Mengapa harus hidup dan bingung dengan hidup? Akan bagaimana masa depan hidup ini? Ah… itu lagi yang muncul. Terus membayangi diri ini.