Setiap orang punya hasrat. Besar kecilnya
tergantung seberapa kuat dirinya berkiprah dalam usahanya. Ini mungkin yang
disebut motivasi, daya dorong, yang mesti dimiliki. Namun yang paling penting,
seberapa besar kita tangguh dan berupaya keras menerjang badai-badai yang
sedang menghadang. Kuncinya, adalah kekuatan jiwa dan optimalisasi sepenuhnya
terhadap yang kita hasrati itu.
Dengan kata lain, siapkah diri ini
berkompetisi secara baik dan benar, atau melawan—jika kita mengidentikan semua
pesaing adalah—yang tidak akur (setuju) dengan kita. Maka kita harus berpikir
jauh perihal itu. Sebabnya, tidak semua orang merasa dirinya dianggap lawan
maupun kawan. Adakalanya lawan sering menjadi kawan. Dan juga sebaliknya, kawan
menjadi lawan. Bahkan sejak 15 Abad yang lalu pernah didengungkan seorang
menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, cintailah orang yang kau cintai
sekedarnya saja; siapa tahu—pada suatu hari kelak—ia akan berbalik menjadi
orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja; siapa
tahu—pada suatu hari kelak—ia akan menjadi orang yang kau cintai.