Rabu, 11 Maret 2015

Hasrat, Paranoid

Setiap orang punya hasrat. Besar kecilnya tergantung seberapa kuat dirinya berkiprah dalam usahanya. Ini mungkin yang disebut motivasi, daya dorong, yang mesti dimiliki. Namun yang paling penting, seberapa besar kita tangguh dan berupaya keras menerjang badai-badai yang sedang menghadang. Kuncinya, adalah kekuatan jiwa dan optimalisasi sepenuhnya terhadap yang kita hasrati itu.

Dengan kata lain, siapkah diri ini berkompetisi secara baik dan benar, atau melawan—jika kita mengidentikan semua pesaing adalah—yang tidak akur (setuju) dengan kita. Maka kita harus berpikir jauh perihal itu. Sebabnya, tidak semua orang merasa dirinya dianggap lawan maupun kawan. Adakalanya lawan sering menjadi kawan. Dan juga sebaliknya, kawan menjadi lawan. Bahkan sejak 15 Abad yang lalu pernah didengungkan seorang menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu—pada suatu hari kelak—ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja; siapa tahu—pada suatu hari kelak—ia akan menjadi orang yang kau cintai.

Selasa, 10 Maret 2015

Meraih Sukses

Setiap orang, baik itu pengusaha, pelajar, mahasiswa, pejabat, dan bahkan ustadz, punya keinginan untuk sukses. Kesuksesan bagi seorang pengusaha dalam usaha misalnya, acapkali dianggap sebagai puncak dari aktivitasnya. Tapi tak jarang puncak usahanya itu tidak diketahui sampai batasnya. Maka jangan heran bila ada orang yang hartanya lebih dari cukup, senantiasa merasa kurang dan kurang. Tidak hanya dalam persoalan uang, bahkan dalam ilmu. Para ilmuwan seringkali merasakan betapa sedikitnya ilmu (pengetahuan) yang dimilikinya. Sehingga mereka berupaya untuk membaca buku-buku, berdiskusi, atau menghimpun informasi dari radio, televisi, internet, koran, majalah, dan sumber-sumber lainnya.

Merasa kurang dan selalu ingin sempurna inilah salah satu bentuk keterbatasan manusia. Dan harus diakui bahwa manusia diciptakan penuh dengan keterbatasan. Ingin rumah bagus uang tidak punya untuk membangunnya, ingin sekolah tinggi tidak ada modal, ingin hidup tenang tapi terus saja gundah gulana, ingin usaha sukses tapi misi dan visi usahanya tidak beres.

Senin, 09 Maret 2015

Meneladani Sayyidah Fathimah Az-Zahra

MENURUT Abbas Mahmout al-Akkad dalam buku, “Fathimah Zahra: Ibu Para Pahlawan” (Jakarta: PT Bulan Bintang 1976) bahwa Sayyidah Fathimah adalah puteri bungsu dari pasangan Muhammad Bin Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid. Sayyidah Fathimah adalah satu-satunya puteri Nabi Muhammad SAW yang diberi umur cukup panjang. Dari ayahnya nama Sayyidah Fathimah ditambahkan Az-Zahra.

Sayyidah Fathimah dilahirkan pada tahun kelima kenabian. Sejak masa kanak-kanak ia telah memahami bahwa keluarganya serang mendapatkan teror dari kaum musyrikin. Sayyidah Fathimah sejak masih kecil oleh ayahnya sering dibawa bepergian.

Minggu, 08 Maret 2015

Membaca Catatan Pinggir

Dalam proses kreatif (menulis) yang saya jalani, saya sempat minta komentar Hawe Setiawan, menyarankan saya untuk melihat atau mencotoh alur dan gaya tulisan dari tokoh yang saya kagumi. 

Karena waktu itu lagi kagum pada catatan pinggir Gonawan Mohammad (GM) di Majalah Tempo, saya tiap sore sebelum menghadiri kajian selalu menyempatkan diri ke perpustakaan untuk membaca catatan pinggir GM. Berbundel-bundel Majalah Tempo lama kubaca.

Hampir enam bulan saya baca Majalah Tempo dan buku-buku GM. Saya fokus, saya ingin meniru gaya tulisnya yang khas dan berbeda dari orang lain. GM: tulisannya sungguh hidup, renyah, tak ada kosa-kata atau kalimat yang mati. Seluruh kalimat dan kata-kata yang dipakainya berjalin-kelindan, menyatu-padu, dan tak kering. Ini kesan saya setelah membaca catatan pinggir GM.