Selasa, 16 Februari 2021

Rekonstruksi Sejarah: Sejarah yang Benar

SAYA merasa aneh apabila masih ada yang memperdebatkan tentang sejarah yang benar pada masa sekarang ini. Sejarah bagi saya tidak lebih dari hasil "rekacipta" seorang sejarawan yang dalam penulisannya pasti dipengaruhi ideologi, politik, bahkan kepentingan finansial. Karena itu, tidak salah jika HAMKA membuat lembaga sejarah dalam rangka memproduksi sejarah versinya (umat Islam) dalam rangka melawan sejarah versi nasionalisme atau gerakan Komunisme Indonesia yang dilembagakan dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat. 

Senin, 15 Februari 2021

Nabi Muhammad Saw pun Berutang

Keadaan kehidupan sederhana membuat Nabi Muhammad Saw kadang tidak makan seharian, bahkan berhari-hari. Untuk menahan rasa lapar, ia mengikat batu di perutnya. Jika perutnya bunyi, Nabi mengencangkan tali ikatnya.  

Sampai suatu waktu Nabi Muhammad Saw terpaksa berutang kepada orang Yahudi Madinah bernama Zaid bin Sa’nah untuk sebuah keperluan. 

Minggu, 14 Februari 2021

Resensi buku Shahih Tarikh Ath-Thabari

Alhamdulillah selesai juga membaca buku Shahih Tarikh Ath-Thabari. Hanya sekedar baca saja tanpa berbagai telaah kritis atas sejumlah informasi yang termuat di dalamnya. Buku terjemahan ini tebalnya 644 halaman. Diterbitkan Pustaka Azzam, Jakarta, tahun 2011. Jilid dua yang saya baca. Buku ini terdiri dari empat jilid. 

Buku Shahih Tarikh Thabari ini ditahkik dari kitab Tarikh Ar-Rasul wal Muluk karya Abu Jafar Muhammad bin Jarir Thabari oleh Muhammad bin Thahir Al-Barzanji. 

Jumat, 12 Februari 2021

Untuk Apa Terus Membaca Buku?

Seorang kawan pernah tanya saya. Di rumah saat social distancing, beraktivitas apa saja?

Saya jawab bahwa saya interaksi dengan keluarga di rumah, makan dan minum, beres-beres rumah, persiapkan bahan pembelajaran online, ibadah dan membaca buku. Dan membaca buku yang bisa banyak habiskan waktu untuk keseharian di rumah. Selain mengerjakan yang terkait dengan perbaikan rumah seperti memperbaiki genting dan bersih-bersih selokan serta lainnya.

Ia tanya lagi: memangnya untuk apa membaca buku? Kan pelajaran sudah dikuasai dalam mengajar. Apakah ada manfaatnya dari sisi finansial? Pertanyaan yang terakhir tidak saya jawab. Karena sudah jelas buku hanya nutrisi otak yang kemudian diberikan lagi melalui proses pendidikan dan pembelajaran.