Selasa, 13 September 2022

Memahami Sunni dan Syiah: Rukun Iman

APABILA melihat prinsip-prinsip agama (ushuluddin) Islam dari mazhab Sunni dan mazhab Syiah, terdapat kesamaan. Ajaran mazhab Sunni meyakini bahwa seorang Muslim atau Muslimah harus percaya kepada Allah. Ajaran mazhab Syiah juga meyakininya, tetapi dengan bahasa yang berbeda, yaitu Tauhid (mengesakan Allah).

Senin, 12 September 2022

Menulis Buku Itu Hanya Soal Taktis!

SABTU (7/03/2009) pekan kemarin saya beruntung dikutsertakan menjadi peserta dalam training “Taktis Menulis Buku” yang diselenggarakan oleh Trim Communication di salah satu hotel ternama di Bandung. Pesertanya dari beragam profesi yang hadir, dimulai dari mahasiswa, editor, pengajar, karyawan Disnaker, karyawan Takaful, presenter TV dan juga seorang ibu sepuh mantan dosen. Jika tidak salah hitung, ada sekitar 15 peserta yang masiung-masing berasal dari Bandung, Jakarta, dan Solo. 

Minggu, 11 September 2022

Memahami Sunni dan Syiah

DALAM sebuah koran nasional, Pak Haidar Bagir menulis bahwa ada tiga kesalahan penyerang Syiah.  Pertama, generalisasi. Sebagian besar argumentasi para pengecam Syi’ah  menggunakan metode memilih bahan-bahan tertentu atau  pandangan-pandangan khas anasir penulis dan ulama dari kalangan Syi’ah  dan kemudian menggeneralisasikannya atas pendapat kaum Syi’ah  seluruhnya.  Kedua, tidak terpeliharanya keseimbangan pandangan.  Ketiga, kurangnya perhatian pada perkembangan pandangan yang terjadi dalam mazhab apa pun, dalam hal ini mazhab Syi’ah. 

Sabtu, 10 September 2022

Mengapa Muhammadiyah Lahir? Tinjauan buku Api Sejarah

PADA tahun 1912, kekuatan umat Islam di Surakarta dan Yogyakarta sudah dipatahkan penjajah. Keduanya telah dikelilingi pusat-pusat pendidikan Kristenisasi dari Ungaran, Salatiga, Boyolali, Kebumen, dan Magelang sebagai pusat pendidikan serdadu Belanda. Sunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta hanya memiliki gelar semata karena semuanya dikuasai pemerintah kolonial Belanda. Akibat tidak ada sandaran kekuatan, akhirnya kaum Muslim ditindas, miskin, kelaparan, dan berbagai wabah penyakit menimpa. Kondisi itulah yang terjadi pada masyarakat Indonesia (pra merdeka) akibat diberlakukannya sistem Tanam Paksa yang berlangsung selama 93 tahun (1245-1338 H/1830-1919 M).