Rabu, 28 Oktober 2026

Jejak Keberkahan di Bumi Bani Sa'd: Kisah Kelahiran dan Pengasuhan Nabi Muhammad SAW


Buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya RAA Wiranata Kusuma V (diterbitkan oleh Islam Studi Club Bandung pada tahun 1941) merekam lembaran-lembaran sejarah yang sarat makna mengenai perjalanan hidup Rasulullah SAW. Pada bagian kedua dari buku ini, membawa pembaca menyelami detik-detik kelahiran sang nabi akhir zaman serta sebuah kisah agung tentang rahmat dan keberkahan yang bermula dari sudut perkampungan pedalaman Arab. 

Kelahiran dan Tradisi Pengasuhan

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal di tahun Gajah, yang bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 570 Masehi. Berdasarkan catatan sejarah, beliau lahir dalam keadaan yang suci, bersih, dan telah dikhitan oleh Malaikat Jibril. 

Meskipun terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pasti kelahiran beliau—seperti riwayat yang menyebut tanggal 17 Rabiul Awal atau 20 Jumadil Ula—pendapat yang paling umum dan dipegang oleh jumhur ulama adalah tanggal 12 Rabiul Awal. Hingga kini, lokasi persis tempat kelahiran beliau di kota Makkah pun tetap menjadi objek penelusuran sejarah yang menarik bagi umat Islam. 

Mengikuti tradisi masyarakat Arab masa itu, bayi-bayi dari keluarga terpandang diserahkan kepada perempuan-perempuan Badui untuk diasuh di lingkungan pedalaman (Badia) yang udaranya bersih dan suci, demi kesehatan tumbuh kembang sang anak. Tradisi inilah yang mempertemukan Makkah dengan rombongan wanita dari Bani Sa'ad. 

Perjalanan Halimah dan Ujian Paceklik

Di tengah himpitan masa paceklik yang sangat berat, hiduplah seorang perempuan bernama Halimah binti Duaib (dikenal pula sebagai Halimah As-Sa'diyah) bersama suaminya, Harits bin Abdul Uzza. Kondisi ekonomi mereka berada di titik nadir; kemarau panjang membuat hidup terasa begitu sulit. Didorong oleh harapan untuk mendapatkan bayi susuan demi menyambung hidup dan meraih keberkahan, Halimah bersama para perempuan Bani Sa'd lainnya berangkat menuju Makkah. 

Setibanya di Makkah, satu per satu bayi dari keluarga berada telah diambil oleh para ibu susu. Tersisalah satu bayi yatim piatu dari keluarga yang dianggap kurang mampu, yaitu Sayyid Muhammad. Awalnya, para perempuan lain enggan mengambilnya karena ketiadaan orang tua yang bisa diandalkan untuk memberikan imbalan besar. Namun, atas dasar rasa kasih sayang yang tulus di lubuk hatinya, Halimah akhirnya memutuskan untuk merawat dan mengasuh bayi mulia tersebut. 

Keajaiban dan Curahan Berkah

Keputusan Halimah untuk mengasuh bayi Muhammad seketika mengubah jalan hidup keluarganya. Keajaiban demi keajaiban mulai bermunculan. Tubuh Halimah yang sebelumnya kering dan kesulitan memproduksi air susu, tiba-tiba dipenuhi dengan limpahan air susu yang deras, mencukupi kebutuhan bayinya.

Tidak hanya itu, hewan ternak mereka—seekor keledai dan unta yang tadinya kurus kering, lemah, dan tak mengeluarkan setetes susu pun—mendadak berubah menjadi sehat, bugar, dan menghasilkan susu yang melimpah ruah.

Perjalanan pulang menuju perkampungan Bani Sa'd menjadi saksi nyata berikutnya dari mukjizat tersebut. Keledai tua yang ditumpangi Halimah mendadak menjadi sangat bugar, kuat, andal, dan melaju begitu cepat, hingga berhasil meninggalkan rombongan wanita lain yang terheran-heran melihat perubahan drastis itu.

Rahmat bagi Semesta Alam

Setibanya Halimah dan suaminya di kampung halaman, keberkahan kian nyata dirasakan. Tanah di sekitar tempat tinggal mereka yang tadinya tandus dan gersang, dalam sekejap berubah menjadi subur, hijau, dan ditumbuhi rerumputan yang menyegarkan. Hewan-hewan ternak mereka pun tumbuh gemuk dan produktif.

Kisah perjalanan Halimah binti Duaib ini bukan sekadar cerita tentang pengasuhan seorang bayi di tengah kesulitan ekonomi, melainkan sebuah pertanda agung. Hadirnya Sayyid Muhammad kecil di tengah keluarga sederhana tersebut menjadi bukti nyata tetesan rahmatan lil 'alamin—rahmat yang membawa kesejahteraan, ketenangan, dan keberkahan bagi seluruh alam. 

Hikmah

Dari kisah lahirnya Nabi Muhammad SAW hingga perjalanan pengasuhan Halimah As-Sa'diyah, terdapat pelajaran hidup mendalam yang relevan untuk direfleksikan hingga hari ini: 

Pertama, keikhlasan dan ketulusan mengalahkan kalkulasi logika. Halimah tidak memandang status ekonomi atau kepiatuan bayi Muhammad. Saat orang lain menghitung rugi-laba materi, Halimah tergerak oleh rasa empati dan kasih sayang yang tulus. Pelajarannya, kebaikan sejati sering kali berawal dari keputusan hati yang tulus, bukan kalkulasi keuntungan semata. 

Kedua, keberkahan hadir bersama ketetapan hati yang baik. Perubahan drastis dari kemiskinan menuju kelimpahan hidup Halimah mengajarkan bahwa rezeki dan keberkahan tidak selalu datang dari tempat yang kita sangka. Ketika seseorang menerima tanggung jawab kebaikan dengan dada lapang, Allah membukakan pintu keberkahan yang tak terduga (min haitsu laa yahtasib). 

Ketiga, pelajaran kesabaran di tengah paceklik hidup. Kondisi gersang dan paceklik di perkampungan Bani Sa'd mengajarkan bahwa kesulitan hidup tidak bersifat permanen. Sering kali, badai ujian adalah babak awal menuju titik balik yang penuh rahmat, asal disikapi dengan ikhtiar dan ketabahan. 

Keempat, karakter terbentuk dari lingkungan yang suci dan sederhana. Tradisi masyarakat Makkah mengirimkan bayi ke pedalaman mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesucian lingkungan tumbuh kembang anak—baik secara fisik, bahasa, maupun nilai moral—agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan tangguh.  ***

Simak di sini versi Video Riwayat Kangjeng Nabi