Kali ini saya ingin mengulas buku berjudul Nu Tareuneung: Carita Pahlawan Islam karya Ki Umbara. Buku ini diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama dan telah beberapa kali dicetak sejak 1968.
Buku ini juga memperoleh
pengesahan untuk digunakan di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Hal tersebut
menunjukkan bahwa karya ini memiliki nilai pendidikan, khususnya dalam
memperkenalkan sejarah Islam kepada masyarakat Sunda.
Ki Umbara, yang memiliki nama asli Sandi Asmana Ha Wireja Ranu Sulaksana, merupakan sastrawan Sunda produktif yang menerima Hadiah Rancage pada 1991. Melalui buku ini, ia memperlihatkan bagaimana sastra Sunda dapat menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman dan keteladanan tokoh-tokoh sejarah.
Nu Tareuneung menghimpun
kisah kepahlawanan sejumlah tokoh Islam, di antaranya Nabi Muhammad SAW, Hamzah
bin Abdul Muthalib, Tufail bin Amr, Usamah bin Zaid, dan Ali bin Abi Thalib.
Kisah-kisah tersebut tidak sekadar memperkenalkan figur penting dalam sejarah
Islam, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberanian, keteguhan iman,
pengorbanan, dan tanggung jawab.
Salah satu kekuatan buku ini
terletak pada penggunaan bahasa Sunda yang relatif mudah dipahami. Sejarah
disajikan dalam bentuk cerita yang menarik, bukan sekadar rangkaian nama,
tanggal, dan peristiwa. Pendekatan naratif semacam ini membuat pembaca, terutama
anak-anak dan generasi muda, lebih mudah mengenal tokoh-tokoh Islam sekaligus
mengambil pelajaran dari pengalaman hidup mereka.
Dalam konteks pendidikan, buku
ini berfungsi sebagai sarana penyampaian uswah atau keteladanan.
Kepahlawanan tidak hanya berkaitan dengan keberanian menghadapi musuh, tetapi
juga menyangkut keteguhan memegang prinsip, kemampuan mengendalikan diri, dan
kesediaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Nilai-nilai tersebut tetap
relevan untuk direnungkan dalam kehidupan masa kini.
Penggunaan bahasa Sunda juga
menjadi nilai tambah tersendiri. Bahasa daerah dapat mendekatkan sejarah Islam
dengan kehidupan masyarakat sekaligus menjaga tradisi literasi lokal. Melalui
karya ini, Ki Umbara mempertemukan khazanah sejarah Islam dengan kebudayaan
Sunda, memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya.
Meski demikian, buku ini perlu
dibaca sesuai dengan karakter penulisannya. Penyajiannya lebih menonjol sebagai
narasi sastra yang menggugah semangat daripada kajian historiografi akademis
yang mengutamakan kritik sumber secara ketat. Karena itu, pembaca yang ingin
mendalami aspek kesejarahan perlu membandingkan kisah-kisah di dalamnya dengan
sumber lain. Pendekatan ini justru dapat menjadikan buku tersebut sebagai pintu
masuk untuk mempelajari sejarah Islam secara lebih kritis.
Catatan lain berkaitan dengan
penyuntingan. Saya menemukan beberapa kesalahan ketik (typo) yang
semestinya dapat diminimalkan melalui penyuntingan yang lebih teliti. Hal ini
penting diperhatikan mengingat buku tersebut juga ditujukan sebagai bahan
bacaan pendidikan.
Terlepas dari kekurangan itu, Nu
Tareuneung: Carita Pahlawan Islam tetap layak mendapat perhatian. Buku ini
bukan hanya memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah Islam, tetapi juga menunjukkan
pentingnya sastra berbahasa daerah sebagai sarana pendidikan dan pewarisan
nilai. Bagi masyarakat Sunda, buku ini dapat menumbuhkan kedekatan dengan
sejarah Islam sekaligus kebanggaan terhadap bahasa dan tradisi literasi
sendiri.
Pada akhirnya, sejarah tidak
semata-mata berbicara tentang masa lampau. Kisah para tokoh di dalamnya dapat
menjadi bahan renungan untuk menghadapi persoalan masa kini. Melalui buku ini,
Ki Umbara mengajak pembaca mengenal para pahlawan Islam dengan cara yang akrab,
sederhana, dan menggugah.
Ingin mengenal kisah
kepahlawanan Islam melalui bahasa Sunda yang menarik? Nu Tareuneung: Carita
Pahlawan Islam layak masuk daftar bacaan Anda. Tidak percaya? Baca saja
bukunya! ***
