Kamis, 22 Oktober 2026

Dari buku Nu Tareuneung: Carita Pahlawan Islam, Belajar Keteladanan Tokoh Islam


Kali ini saya ingin mengulas buku berjudul Nu Tareuneung: Carita Pahlawan Islam karya Ki Umbara. Buku ini diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama dan telah beberapa kali dicetak sejak 1968.

Buku ini juga memperoleh pengesahan untuk digunakan di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Hal tersebut menunjukkan bahwa karya ini memiliki nilai pendidikan, khususnya dalam memperkenalkan sejarah Islam kepada masyarakat Sunda.

Ki Umbara, yang memiliki nama asli Sandi Asmana Ha Wireja Ranu Sulaksana, merupakan sastrawan Sunda produktif yang menerima Hadiah Rancage pada 1991. Melalui buku ini, ia memperlihatkan bagaimana sastra Sunda dapat menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman dan keteladanan tokoh-tokoh sejarah. 

Nu Tareuneung menghimpun kisah kepahlawanan sejumlah tokoh Islam, di antaranya Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib, Tufail bin Amr, Usamah bin Zaid, dan Ali bin Abi Thalib. Kisah-kisah tersebut tidak sekadar memperkenalkan figur penting dalam sejarah Islam, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberanian, keteguhan iman, pengorbanan, dan tanggung jawab.

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada penggunaan bahasa Sunda yang relatif mudah dipahami. Sejarah disajikan dalam bentuk cerita yang menarik, bukan sekadar rangkaian nama, tanggal, dan peristiwa. Pendekatan naratif semacam ini membuat pembaca, terutama anak-anak dan generasi muda, lebih mudah mengenal tokoh-tokoh Islam sekaligus mengambil pelajaran dari pengalaman hidup mereka.

Dalam konteks pendidikan, buku ini berfungsi sebagai sarana penyampaian uswah atau keteladanan. Kepahlawanan tidak hanya berkaitan dengan keberanian menghadapi musuh, tetapi juga menyangkut keteguhan memegang prinsip, kemampuan mengendalikan diri, dan kesediaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk direnungkan dalam kehidupan masa kini.

Penggunaan bahasa Sunda juga menjadi nilai tambah tersendiri. Bahasa daerah dapat mendekatkan sejarah Islam dengan kehidupan masyarakat sekaligus menjaga tradisi literasi lokal. Melalui karya ini, Ki Umbara mempertemukan khazanah sejarah Islam dengan kebudayaan Sunda, memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya.

Meski demikian, buku ini perlu dibaca sesuai dengan karakter penulisannya. Penyajiannya lebih menonjol sebagai narasi sastra yang menggugah semangat daripada kajian historiografi akademis yang mengutamakan kritik sumber secara ketat. Karena itu, pembaca yang ingin mendalami aspek kesejarahan perlu membandingkan kisah-kisah di dalamnya dengan sumber lain. Pendekatan ini justru dapat menjadikan buku tersebut sebagai pintu masuk untuk mempelajari sejarah Islam secara lebih kritis.

Catatan lain berkaitan dengan penyuntingan. Saya menemukan beberapa kesalahan ketik (typo) yang semestinya dapat diminimalkan melalui penyuntingan yang lebih teliti. Hal ini penting diperhatikan mengingat buku tersebut juga ditujukan sebagai bahan bacaan pendidikan.

Terlepas dari kekurangan itu, Nu Tareuneung: Carita Pahlawan Islam tetap layak mendapat perhatian. Buku ini bukan hanya memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah Islam, tetapi juga menunjukkan pentingnya sastra berbahasa daerah sebagai sarana pendidikan dan pewarisan nilai. Bagi masyarakat Sunda, buku ini dapat menumbuhkan kedekatan dengan sejarah Islam sekaligus kebanggaan terhadap bahasa dan tradisi literasi sendiri.

Pada akhirnya, sejarah tidak semata-mata berbicara tentang masa lampau. Kisah para tokoh di dalamnya dapat menjadi bahan renungan untuk menghadapi persoalan masa kini. Melalui buku ini, Ki Umbara mengajak pembaca mengenal para pahlawan Islam dengan cara yang akrab, sederhana, dan menggugah.

Ingin mengenal kisah kepahlawanan Islam melalui bahasa Sunda yang menarik? Nu Tareuneung: Carita Pahlawan Islam layak masuk daftar bacaan Anda. Tidak percaya? Baca saja bukunya! ***