Senin, 26 Oktober 2026

Makkah, Ka'bah, dan Shalat: Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW melalui Karya Wiranata Kusumah

Buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya Raden Adipati Arya Wiranata Kusumah yang terbit pada 1941 merupakan karya sastra sejarah berbahasa Sunda yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Melalui narasi sejarah dan ungkapan sastra, pembaca diajak mengenal keadaan Makkah, sejarah Ka'bah, serta kehidupan keagamaan umat Islam pada masa awal.

Makkah: Negeri Gersang yang Menjadi Pusat Perhatian Dunia

Pada masa lampau, Makkah merupakan wilayah tandus yang dikelilingi pegunungan. Kondisi geografisnya tidak mendukung pertanian secara luas dan kehidupan masyarakatnya banyak bergantung pada perdagangan serta perjalanan kafilah unta. Dibandingkan dengan pusat peradaban besar seperti Romawi dan Yunani, Makkah tampak sederhana dan terpencil.

Namun, kota ini memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Arab karena keberadaan Ka'bah sebagai tempat suci dan tujuan ziarah. Makkah dikenal pula dengan sebutan Ummul Qura, yang berarti induk atau pusat negeri.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan besar dalam sejarah kota tersebut. Makkah yang sebelumnya dikenal sebagai pusat perdagangan dan ziarah masyarakat Arab kemudian menjadi tempat lahirnya risalah Islam yang pengaruhnya meluas ke berbagai penjuru dunia. Pegunungan di sekitarnya, termasuk Gunung Abu Qubais, menjadi bagian dari lanskap historis perjalanan dakwah Nabi.

Menariknya, Wiranata Kusumah juga menggambarkan keadaan Makkah melalui tembang Sunda Sinom. Sastra tersebut menghadirkan kontras antara alam yang gersang dan ketenangan batin yang dirasakan para peziarah ketika beribadah di sekitar Ka'bah. Dengan demikian, Makkah tidak hanya digambarkan sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai tempat yang memiliki daya tarik spiritual.

Ka'bah, Hajar Aswad, dan Sumur Zamzam

Ka'bah menempati posisi penting dalam riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Bangunan ini dikenal sebagai Baitullah, rumah suci yang menjadi pusat ibadah kepada Allah SWT, bukan makam nabi ataupun bangunan untuk menyembah berhala.

Dalam tradisi Islam, Ka'bah dikaitkan dengan Nabi Adam AS dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Arab menempatkan berbagai berhala di sekitar Ka'bah. Dalam riwayat sejarah Islam disebutkan bahwa terdapat 360 berhala di kawasan tersebut. Salah satu misi Nabi Muhammad SAW adalah mengembalikan Ka'bah kepada kedudukannya sebagai pusat penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa.

Ka'bah juga berkaitan dengan Hajar Aswad, batu yang memiliki kedudukan khusus dalam tradisi ibadah Islam. Menurut riwayat yang dikenal dalam tradisi tersebut, batu ini berasal dari surga dan diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS. Kisah Hajar Aswad memperlihatkan kedudukannya sebagai bagian dari tradisi suci, tanpa menjadikannya objek penyembahan.

Selain itu, terdapat Sumur Zamzam yang dikaitkan dengan kisah Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar. Dalam tradisi Islam, air Zamzam merupakan karunia Allah ketika Siti Hajar berusaha mencari air bagi putranya di tengah padang pasir. Kisah ini menggambarkan perpaduan antara pertolongan Tuhan dan ikhtiar manusia.

Sumur Zamzam kemudian dikisahkan sempat tertutup dan ditemukan kembali melalui petunjuk dalam mimpi Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Sebelum masa kenabian, Abdul Muthalib memegang peranan penting dalam pengurusan Ka'bah dan Zamzam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Nabi telah memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan Makkah sebelum Muhammad SAW menerima wahyu.

Shalat: Simbol Kepasrahan dan Kebutuhan Rohani

Pembahasan mengenai Shalat menghadirkan gambaran kehidupan spiritual umat Islam pada masa awal. Narasi dimulai dengan suasana menjelang subuh, ketika azan berkumandang memanggil kaum Muslimin untuk meninggalkan tidur dan menghadap Allah SWT.

Setelah berwudu, mereka berdiri dalam barisan yang rapi dan melaksanakan Shalat melalui gerakan takbir, rukuk, sujud, hingga salam. Setiap gerakan mengandung makna spiritual. Takbir menegaskan kebesaran Allah, rukuk mengajarkan kerendahan hati, sedangkan sujud menjadi simbol kepasrahan manusia di hadapan Sang Pencipta. Salam pada akhir Shalat juga dimaknai sebagai penghormatan kepada malaikat pencatat amal, Kiraman Katibin.

Dalam penggambaran tersebut, Shalat bukan sekadar kewajiban formal, melainkan kebutuhan rohani seorang mukmin. Melalui ibadah ini, manusia mengungkapkan rasa syukur, memohon ampun, dan menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Makna Shalat semestinya tidak berhenti pada gerakan dan bacaan, tetapi tercermin pula dalam sikap rendah hati, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Kewajiban Shalat lima waktu juga mengajarkan konsistensi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim tetap harus menunaikannya di tengah pekerjaan, perdagangan, maupun perjalanan, sesuai dengan ketentuan syariat. Shalat menjadi pengingat bahwa kesibukan duniawi bukan satu-satunya tujuan hidup. Ada kewajiban spiritual yang perlu dijaga agar kehidupan tetap terarah.

Membaca Sirah melalui Sastra Sunda

(Ulasan buku kali ini dari Bab pertama) Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya Wiranata Kusuma, memperlihatkan hubungan erat antara Makkah sebagai ruang sejarah, Ka'bah sebagai simbol tradisi tauhid, dan Shalat sebagai inti kehidupan spiritual umat Islam. Ketiganya membentuk gambaran tentang lingkungan tempat risalah Nabi Muhammad SAW lahir dan berkembang.

Keistimewaan Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW adalah penyampaian sejarah melalui bahasa dan tradisi sastra Sunda. Penggambaran Makkah, Ka'bah, dan Shalat tidak hanya memberikan informasi tentang masa lalu, tetapi juga mengajak pembaca merasakan suasana dan merenungkan makna di balik peristiwa.

Penggunaan tembang Sinom memperkaya gambaran tentang Makkah, sedangkan uraian mengenai Shalat membawa pembaca dari sejarah menuju refleksi keagamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa penulisan sirah tidak harus terbatas pada kronologi peristiwa. Sejarah juga dapat disampaikan melalui suasana, simbol, dan pelajaran moral.

Melalui sejarah dan sastra Sunda, Wiranata Kusumah mengajak pembaca memahami sirah bukan sekadar sebagai kisah masa lalu, melainkan sebagai sumber pelajaran bagi kehidupan masa kini. Pesan utamanya ialah bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari pengetahuan sejarah atau pelaksanaan ibadah secara lahiriah. Kesalehan juga harus tercermin dalam kerendahan hati, rasa syukur, keteguhan menjalankan kewajiban, dan kesediaan memperbaiki diri. *** (ahmad sahidin)

VIDEO BOOK READING AND REVIEW bisa diakses pada Riwayat Kangjeng Nabi