Makkah: Negeri Gersang yang Menjadi Pusat Perhatian Dunia
Pada masa lampau, Makkah merupakan wilayah tandus yang
dikelilingi pegunungan. Kondisi geografisnya tidak mendukung pertanian secara
luas dan kehidupan masyarakatnya banyak bergantung pada perdagangan serta
perjalanan kafilah unta. Dibandingkan dengan pusat peradaban besar seperti
Romawi dan Yunani, Makkah tampak sederhana dan terpencil.
Namun, kota ini memiliki kedudukan penting dalam kehidupan
keagamaan masyarakat Arab karena keberadaan Ka'bah sebagai tempat suci dan
tujuan ziarah. Makkah dikenal pula dengan sebutan Ummul Qura, yang
berarti induk atau pusat negeri.
Kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan besar dalam
sejarah kota tersebut. Makkah yang sebelumnya dikenal sebagai pusat perdagangan
dan ziarah masyarakat Arab kemudian menjadi tempat lahirnya risalah Islam yang
pengaruhnya meluas ke berbagai penjuru dunia. Pegunungan di sekitarnya,
termasuk Gunung Abu Qubais, menjadi bagian dari lanskap historis perjalanan
dakwah Nabi.
Menariknya, Wiranata Kusumah juga menggambarkan keadaan
Makkah melalui tembang Sunda Sinom. Sastra tersebut menghadirkan kontras
antara alam yang gersang dan ketenangan batin yang dirasakan para peziarah
ketika beribadah di sekitar Ka'bah. Dengan demikian, Makkah tidak hanya
digambarkan sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai tempat yang memiliki
daya tarik spiritual.
Ka'bah, Hajar Aswad, dan Sumur Zamzam
Ka'bah menempati posisi penting dalam riwayat kehidupan Nabi
Muhammad SAW. Bangunan ini dikenal sebagai Baitullah, rumah suci yang
menjadi pusat ibadah kepada Allah SWT, bukan makam nabi ataupun bangunan untuk
menyembah berhala.
Dalam tradisi Islam, Ka'bah dikaitkan dengan Nabi Adam AS
dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi
Ismail AS. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Arab menempatkan berbagai
berhala di sekitar Ka'bah. Dalam riwayat sejarah Islam disebutkan bahwa
terdapat 360 berhala di kawasan tersebut. Salah satu misi Nabi Muhammad SAW
adalah mengembalikan Ka'bah kepada kedudukannya sebagai pusat penghambaan
kepada Allah Yang Maha Esa.
Ka'bah juga berkaitan dengan Hajar Aswad, batu yang memiliki
kedudukan khusus dalam tradisi ibadah Islam. Menurut riwayat yang dikenal dalam
tradisi tersebut, batu ini berasal dari surga dan diberikan Malaikat Jibril
kepada Nabi Ibrahim AS. Kisah Hajar Aswad memperlihatkan kedudukannya sebagai
bagian dari tradisi suci, tanpa menjadikannya objek penyembahan.
Selain itu, terdapat Sumur Zamzam yang dikaitkan dengan
kisah Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar. Dalam tradisi Islam, air Zamzam
merupakan karunia Allah ketika Siti Hajar berusaha mencari air bagi putranya di
tengah padang pasir. Kisah ini menggambarkan perpaduan antara pertolongan Tuhan
dan ikhtiar manusia.
Sumur Zamzam kemudian dikisahkan sempat tertutup dan
ditemukan kembali melalui petunjuk dalam mimpi Abdul Muthalib, kakek Nabi
Muhammad SAW. Sebelum masa kenabian, Abdul Muthalib memegang peranan penting
dalam pengurusan Ka'bah dan Zamzam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Nabi
telah memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan Makkah sebelum Muhammad
SAW menerima wahyu.
Shalat: Simbol Kepasrahan dan Kebutuhan Rohani
Pembahasan mengenai Shalat menghadirkan gambaran kehidupan
spiritual umat Islam pada masa awal. Narasi dimulai dengan suasana menjelang
subuh, ketika azan berkumandang memanggil kaum Muslimin untuk meninggalkan
tidur dan menghadap Allah SWT.
Setelah berwudu, mereka berdiri dalam barisan yang rapi dan
melaksanakan Shalat melalui gerakan takbir, rukuk, sujud, hingga salam. Setiap
gerakan mengandung makna spiritual. Takbir menegaskan kebesaran Allah, rukuk
mengajarkan kerendahan hati, sedangkan sujud menjadi simbol kepasrahan manusia
di hadapan Sang Pencipta. Salam pada akhir Shalat juga dimaknai sebagai
penghormatan kepada malaikat pencatat amal, Kiraman Katibin.
Dalam penggambaran tersebut, Shalat bukan sekadar kewajiban
formal, melainkan kebutuhan rohani seorang mukmin. Melalui ibadah ini, manusia
mengungkapkan rasa syukur, memohon ampun, dan menyadari keterbatasan dirinya di
hadapan Allah. Makna Shalat semestinya tidak berhenti pada gerakan dan bacaan,
tetapi tercermin pula dalam sikap rendah hati, kejujuran, dan kepedulian
terhadap sesama.
Kewajiban Shalat lima waktu juga mengajarkan konsistensi
dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim tetap harus menunaikannya di tengah
pekerjaan, perdagangan, maupun perjalanan, sesuai dengan ketentuan syariat. Shalat
menjadi pengingat bahwa kesibukan duniawi bukan satu-satunya tujuan hidup. Ada
kewajiban spiritual yang perlu dijaga agar kehidupan tetap terarah.
Membaca Sirah melalui Sastra Sunda
(Ulasan buku kali ini dari Bab pertama) Riwayat Kangjeng
Nabi Muhammad SAW karya Wiranata Kusuma, memperlihatkan hubungan erat
antara Makkah sebagai ruang sejarah, Ka'bah sebagai simbol tradisi tauhid, dan Shalat
sebagai inti kehidupan spiritual umat Islam. Ketiganya membentuk gambaran
tentang lingkungan tempat risalah Nabi Muhammad SAW lahir dan berkembang.
Keistimewaan Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW
adalah penyampaian sejarah melalui bahasa dan tradisi sastra Sunda.
Penggambaran Makkah, Ka'bah, dan Shalat tidak hanya memberikan informasi
tentang masa lalu, tetapi juga mengajak pembaca merasakan suasana dan
merenungkan makna di balik peristiwa.
Penggunaan tembang Sinom memperkaya gambaran tentang
Makkah, sedangkan uraian mengenai Shalat membawa pembaca dari sejarah menuju
refleksi keagamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini
memperlihatkan bahwa penulisan sirah tidak harus terbatas pada kronologi
peristiwa. Sejarah juga dapat disampaikan melalui suasana, simbol, dan
pelajaran moral.
Melalui sejarah dan sastra Sunda, Wiranata Kusumah mengajak
pembaca memahami sirah bukan sekadar sebagai kisah masa lalu, melainkan sebagai
sumber pelajaran bagi kehidupan masa kini. Pesan utamanya ialah bahwa kesalehan
tidak cukup diukur dari pengetahuan sejarah atau pelaksanaan ibadah secara
lahiriah. Kesalehan juga harus tercermin dalam kerendahan hati, rasa syukur,
keteguhan menjalankan kewajiban, dan kesediaan memperbaiki diri. *** (ahmad
sahidin)
VIDEO BOOK READING AND REVIEW bisa diakses pada Riwayat Kangjeng Nabi
