Buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW karya RAA Wiranata Kusuma V merupakan salah satu upaya memperkenalkan kehidupan Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat Sunda melalui bahasa dan tradisi budaya lokal. Karya ini tidak hanya menyajikan kisah perjalanan hidup Nabi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sirah nabawiyyah diterjemahkan dan diolah agar lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Pasundan.
Pembahasan bab pertama buku ini diawali dengan penegasan
bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan teladan sempurna bagi umat manusia.
Keteladanan beliau tidak terbatas pada urusan ibadah dan dakwah, tetapi
mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berjalan, makan,
berbicara, hingga berperilaku dalam pergaulan. Dengan demikian, mempelajari
kehidupan Nabi bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan juga
memahami dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan nyata.
Penulis juga menekankan pentingnya dokumentasi kehidupan
Nabi Muhammad SAW melalui para sahabat yang hidup sezaman dengan beliau.
Berbagai perkataan, tindakan, dan kebiasaan Nabi diriwayatkan oleh para
sahabat, kemudian dihimpun dalam tradisi periwayatan hadis. Dokumentasi
tersebut menjadi dasar bagi perkembangan ilmu hadis, termasuk kitab-kitab yang
dikenal sebagai Kutubus Sittah atau enam kitab hadis utama.
Dalam kaitan ini, pembahasan mengenai Asmaul Rijal menjadi
penting. Ilmu ini mempelajari identitas dan keadaan para periwayat hadis,
termasuk para sahabat dan generasi sesudahnya. Melalui penelitian terhadap para
periwayat dan jalur transmisi informasi, para ulama berusaha menilai
kredibilitas riwayat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal
tersebut menunjukkan bahwa tradisi Islam memiliki perhatian besar terhadap
pemeliharaan dan pemeriksaan sumber informasi keagamaan.
Ulasan ini juga mengutip pandangan seorang tokoh yang
disebut sebagai Dr. Springer, yang menyoroti keistimewaan dokumentasi kehidupan
Nabi Muhammad SAW. Menurut pandangan yang dikutip tersebut, kehidupan pribadi
Nabi tercatat dengan sangat terperinci dan menjadi pedoman bagi jutaan orang
selama berabad-abad. Hal ini memperlihatkan kedudukan sirah nabawiyah yang
tidak hanya penting bagi umat Islam sebagai sumber keteladanan, tetapi juga
menarik untuk dikaji dalam perspektif sejarah dan kebudayaan.
Pembahasan kemudian mengarah pada buku The Life of Muhammad
karya E. Dinet dan Sliman bin Ibrahim, yang disebut sebagai salah satu sumber
penting bagi penyusunan karya berbahasa Sunda tersebut. Buku ini dipandang
berharga bagi pembaca yang ingin menemukan hikmah dari kehidupan Nabi,
khususnya dalam upaya membentuk kesucian hati dan memperbaiki akhlak.
Hal menarik dari Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW ialah
proses penyalinan dan penerjemahan yang melatarbelakangi penyusunannya. Karya
The Life of Muhammad terlebih dahulu hadir dalam bahasa Belanda sebelum diolah
ke dalam bahasa Sunda oleh Wirata Kusumah sekitar dekade 1940-an. Proses ini
memiliki arti penting bagi masyarakat Pasundan, terutama ketika kemampuan
membaca bahasa Belanda masih menjadi salah satu jalur untuk mengakses
pengetahuan tertulis. Melalui penerjemahan tersebut, kisah kehidupan Nabi dapat
dijangkau oleh masyarakat yang ingin mempelajari sejarah Islam melalui bahasa
sendiri.
Dalam penyusunannya, Wirata Kusumah merujuk pada
sumber-sumber sejarah klasik, antara lain karya Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hisyam.
Namun, ia tidak sekadar menerjemahkan teks secara harfiah. Ia juga memberikan
penjelasan tambahan agar isi kisah lebih mudah dipahami pembaca Sunda.
Pendekatan ini menunjukkan adanya usaha untuk menjembatani sumber sejarah Islam
dengan latar budaya dan pengalaman pembaca lokal.
Unsur kebudayaan Sunda tampak semakin kuat melalui
penggunaan dangding, yakni bentuk puisi tradisional Sunda, untuk memperindah
terjemahan ayat-ayat Al-Qur'an. Pengolahan sastra ini dikaitkan dengan Prawira
Atmaja. Melalui dangding, pesan keagamaan tidak hanya disampaikan sebagai
informasi, tetapi juga diolah menjadi ungkapan estetis yang diharapkan mampu
menyentuh perasaan dan sanubari pembaca.
Selain itu, penyertaan ilustrasi tentang situasi Makkah dan
Madinah pada masa Nabi membantu pembaca membayangkan latar tempat dan suasana
kehidupan masyarakat ketika Islam berkembang. Penggunaan ilustrasi dan puisi
tradisional memperlihatkan bahwa penyebaran pengetahuan sejarah tidak harus
berlangsung melalui uraian faktual semata. Seni dan sastra juga dapat menjadi
sarana untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat.
Dari sudut historiografi, Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad
SAW menarik karena memperlihatkan pertemuan antara sumber sejarah Islam
klasik, proses penerjemahan lintas bahasa, dan kreativitas kebudayaan lokal.
Wiratakusumah menempatkan kisah Nabi dalam ruang budaya Sunda tanpa melepaskan
tujuan utamanya, yaitu memperkenalkan kehidupan dan keteladanan Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, buku ini dapat dipahami bukan hanya sebagai karya tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, melainkan juga sebagai dokumen sejarah intelektual dan kebudayaan masyarakat Sunda. Melalui bahasa lokal, dangding, penjelasan tambahan, dan ilustrasi, sirah nabawiyah dihadirkan sebagai pengetahuan yang hidup dan dekat dengan pembacanya.
Karya Wiranata Kusumah ini menunjukkan bahwa
tradisi lokal dapat menjadi jembatan penting dalam merawat ingatan sejarah,
menyebarkan ajaran Islam, dan menanamkan keteladanan Nabi kepada generasi
berikutnya. Intinya buku Riwayat Kangjeng Nabi Muhammad SAW ini layak dibaca dan diapresiasi!
*** (ahmad sahidin)
