Jumat, 23 Oktober 2026

Menelusuri Sirah Nabawiyah melalui Sumber Klasik: Membaca Karya Martin Lings


Buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, yang juga dikenal dengan nama Abu Bakar Sirajudin, merupakan karya penting dalam penulisan biografi Nabi Muhammad SAW (sirah nabwiyyah). Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1981. Adapun edisi terjemahan bahasa Indonesia setebal 680 halaman diterbitkan oleh Serambi pada 2014.

Di antara keistimewaan buku ini terletak pada penggunaan sumber-sumber klasik dalam merekonstruksi perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Martin Lings merujuk kepada sejumlah penulis sejarah Islam awal, seperti Al-Thabari, Al-Waqidi, Ibnu Sa'ad, dan Ibnu Ishaq. Dengan bertumpu pada sumber-sumber tersebut, ia berusaha menyajikan kehidupan Nabi berdasarkan tradisi historiografi yang relatif dekat dengan masa kehidupan beliau, bukan semata-mata melalui penafsiran para penulis modern.

Dari sudut historiografi, pendekatan Martin Lings menarik karena menggabungkan sumber klasik dengan gaya penulisan yang mudah diikuti pembaca kontemporer. Karya-karya sejarah klasik umumnya menggunakan pola riwayah, yakni menyampaikan peristiwa melalui jalur periwayatan atau sanad. Setiap informasi disajikan berdasarkan sumber dan rangkaian periwayat tertentu. Pola ini dapat ditemukan dalam tradisi penulisan sejarah yang berkembang melalui karya-karya Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Al-Thabari, meskipun masing-masing memiliki karakter penyajian yang berbeda.

Sementara itu, Martin Lings menyusun biografi Nabi dengan pendekatan dirayah, yaitu penyajian sejarah secara naratif dan kronologis sehingga rangkaian peristiwa dapat dipahami sebagai suatu alur yang utuh. Dalam pendekatan ini, perhatian tidak hanya tertuju pada transmisi berita, tetapi juga pada keterhubungan antarperistiwa dan pemahaman terhadap konteksnya. Sanad tidak ditampilkan secara terperinci pada setiap bagian, sehingga pembaca dapat mengikuti kisah kehidupan Nabi tanpa terputus oleh uraian jalur periwayatan.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW secara luas, mulai dari kelahiran, masa muda, penerimaan wahyu, perjuangan dakwah di Makkah, hingga perkembangan masyarakat Islam di Madinah. Berbagai peristiwa penting, termasuk peperangan, perjanjian, dan tantangan yang dihadapi Nabi dalam menyampaikan risalah, disusun dalam rangkaian cerita yang relatif mengalir. Gaya tersebut membuat buku ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengetahuan sejarah, tetapi juga menghadirkan gambaran tentang kepribadian Nabi dan dinamika masyarakat pada masa awal Islam.

Hal lain yang menarik ialah upaya Martin Lings untuk tidak terlalu terikat pada sudut pandang mazhab tertentu. Hal ini tampak, misalnya, dalam pembahasannya mengenai peristiwa Ghadir Khum. Peristiwa tersebut memiliki kedudukan penting dalam berbagai tradisi pemikiran Islam dan melahirkan penafsiran yang berbeda, khususnya mengenai kedudukan Ali bin Abi Thalib setelah Nabi. Dalam ulasan ini, penafsiran Martin Lings dipahami lebih menekankan pesan kecintaan dan penghormatan kepada Ali, bukan secara eksplisit sebagai pelimpahan kekuasaan politik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat memiliki makna teologis yang beragam.

Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah juga menjadi bagian penting dalam buku ini. Kisah yang disoroti ialah kedatangan Urwah bin Mas'ud untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Urwah menyaksikan sendiri bagaimana para sahabat memperlakukan Nabi dengan penuh penghormatan. Pengalaman itu memberikan gambaran tentang kuatnya ikatan antara Nabi dan para pengikutnya, sekaligus menunjukkan bahwa wibawa kepemimpinan Nabi tidak hanya dibangun melalui kedudukan formal, tetapi juga melalui kepercayaan dan kecintaan para sahabat.

Selain itu, dialog Nabi dengan salah seorang sahabat mengenai Perjanjian Hudaibiyah memperlihatkan dinamika pemahaman para sahabat terhadap keputusan yang diambil Nabi. Perjanjian tersebut pada awalnya dapat dipandang merugikan umat Islam karena sejumlah ketentuannya tampak tidak menguntungkan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, perjanjian itu membuka ruang bagi dakwah Islam yang lebih luas. Kisah ini memperlihatkan bahwa memahami sejarah tidak cukup dengan menilai suatu keputusan berdasarkan keadaan sesaat, tetapi perlu mempertimbangkan konteks dan dampaknya dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi berdasarkan Sumber Klasik menawarkan cara membaca sirah nabawiyah melalui perpaduan sumber-sumber klasik dan penyajian naratif yang sistematis. Keunggulannya terletak pada kemampuannya menghadirkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW secara utuh, sekaligus memudahkan pembaca memahami hubungan antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya.

Meski demikian, penggunaan sumber klasik tidak serta-merta menjadikan seluruh narasi bebas dari persoalan historiografis. Pembaca tetap perlu memperhatikan perbedaan kualitas riwayat, proses seleksi sumber, dan kemungkinan adanya beragam penafsiran atas peristiwa yang sama. Karena itu, buku Martin Lings akan lebih bermakna jika dibaca bukan hanya sebagai kisah kehidupan Nabi, melainkan juga sebagai contoh bagaimana sumber-sumber sejarah Islam awal disusun menjadi sebuah narasi biografis.

Pada akhirnya, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin mengenal kehidupan Nabi Muhammad SAW sekaligus memahami perkembangan penulisan sejarah Islam. Ia mempertemukan kekayaan tradisi riwayat dengan gaya narasi yang komunikatif, sehingga sirah nabawiyah dapat dipelajari sebagai kisah kehidupan sekaligus sebagai kajian sejarah yang mengundang pembacaan kritis. Cag! *** (ahmad sahidin)