Buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, yang juga dikenal dengan nama Abu Bakar Sirajudin, merupakan karya penting dalam penulisan biografi Nabi Muhammad SAW (sirah nabwiyyah). Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1981. Adapun edisi terjemahan bahasa Indonesia setebal 680 halaman diterbitkan oleh Serambi pada 2014.
Di antara keistimewaan buku ini terletak pada penggunaan sumber-sumber klasik dalam merekonstruksi perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Martin Lings merujuk kepada sejumlah penulis sejarah Islam awal, seperti Al-Thabari, Al-Waqidi, Ibnu Sa'ad, dan Ibnu Ishaq. Dengan bertumpu pada sumber-sumber tersebut, ia berusaha menyajikan kehidupan Nabi berdasarkan tradisi historiografi yang relatif dekat dengan masa kehidupan beliau, bukan semata-mata melalui penafsiran para penulis modern.
Dari sudut historiografi, pendekatan Martin Lings menarik
karena menggabungkan sumber klasik dengan gaya penulisan yang mudah diikuti
pembaca kontemporer. Karya-karya sejarah klasik umumnya menggunakan pola
riwayah, yakni menyampaikan peristiwa melalui jalur periwayatan atau sanad.
Setiap informasi disajikan berdasarkan sumber dan rangkaian periwayat tertentu.
Pola ini dapat ditemukan dalam tradisi penulisan sejarah yang berkembang
melalui karya-karya Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Al-Thabari, meskipun masing-masing
memiliki karakter penyajian yang berbeda.
Sementara itu, Martin Lings menyusun biografi Nabi dengan
pendekatan dirayah, yaitu penyajian sejarah secara naratif dan kronologis
sehingga rangkaian peristiwa dapat dipahami sebagai suatu alur yang utuh. Dalam
pendekatan ini, perhatian tidak hanya tertuju pada transmisi berita, tetapi
juga pada keterhubungan antarperistiwa dan pemahaman terhadap konteksnya. Sanad
tidak ditampilkan secara terperinci pada setiap bagian, sehingga pembaca dapat
mengikuti kisah kehidupan Nabi tanpa terputus oleh uraian jalur periwayatan.
Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW
secara luas, mulai dari kelahiran, masa muda, penerimaan wahyu, perjuangan
dakwah di Makkah, hingga perkembangan masyarakat Islam di Madinah. Berbagai
peristiwa penting, termasuk peperangan, perjanjian, dan tantangan yang dihadapi
Nabi dalam menyampaikan risalah, disusun dalam rangkaian cerita yang relatif
mengalir. Gaya tersebut membuat buku ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber
pengetahuan sejarah, tetapi juga menghadirkan gambaran tentang kepribadian Nabi
dan dinamika masyarakat pada masa awal Islam.
Hal lain yang menarik ialah upaya Martin Lings untuk tidak
terlalu terikat pada sudut pandang mazhab tertentu. Hal ini tampak, misalnya,
dalam pembahasannya mengenai peristiwa Ghadir Khum. Peristiwa tersebut memiliki
kedudukan penting dalam berbagai tradisi pemikiran Islam dan melahirkan
penafsiran yang berbeda, khususnya mengenai kedudukan Ali bin Abi Thalib
setelah Nabi. Dalam ulasan ini, penafsiran Martin Lings dipahami lebih
menekankan pesan kecintaan dan penghormatan kepada Ali, bukan secara eksplisit sebagai
pelimpahan kekuasaan politik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana
sebuah peristiwa sejarah dapat memiliki makna teologis yang beragam.
Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah juga menjadi bagian penting
dalam buku ini. Kisah yang disoroti ialah kedatangan Urwah bin Mas'ud untuk
berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Urwah menyaksikan sendiri bagaimana para
sahabat memperlakukan Nabi dengan penuh penghormatan. Pengalaman itu memberikan
gambaran tentang kuatnya ikatan antara Nabi dan para pengikutnya, sekaligus
menunjukkan bahwa wibawa kepemimpinan Nabi tidak hanya dibangun melalui
kedudukan formal, tetapi juga melalui kepercayaan dan kecintaan para sahabat.
Selain itu, dialog Nabi dengan salah seorang sahabat
mengenai Perjanjian Hudaibiyah memperlihatkan dinamika pemahaman para sahabat
terhadap keputusan yang diambil Nabi. Perjanjian tersebut pada awalnya dapat
dipandang merugikan umat Islam karena sejumlah ketentuannya tampak tidak
menguntungkan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, perjanjian itu membuka
ruang bagi dakwah Islam yang lebih luas. Kisah ini memperlihatkan bahwa
memahami sejarah tidak cukup dengan menilai suatu keputusan berdasarkan keadaan
sesaat, tetapi perlu mempertimbangkan konteks dan dampaknya dalam jangka
panjang.
Secara keseluruhan, buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi
berdasarkan Sumber Klasik menawarkan cara membaca sirah nabawiyah melalui
perpaduan sumber-sumber klasik dan penyajian naratif yang sistematis.
Keunggulannya terletak pada kemampuannya menghadirkan perjalanan hidup Nabi
Muhammad SAW secara utuh, sekaligus memudahkan pembaca memahami hubungan antara
satu peristiwa dan peristiwa lainnya.
Meski demikian, penggunaan sumber klasik tidak serta-merta
menjadikan seluruh narasi bebas dari persoalan historiografis. Pembaca tetap
perlu memperhatikan perbedaan kualitas riwayat, proses seleksi sumber, dan
kemungkinan adanya beragam penafsiran atas peristiwa yang sama. Karena itu,
buku Martin Lings akan lebih bermakna jika dibaca bukan hanya sebagai kisah
kehidupan Nabi, melainkan juga sebagai contoh bagaimana sumber-sumber sejarah
Islam awal disusun menjadi sebuah narasi biografis.
Pada akhirnya, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang
ingin mengenal kehidupan Nabi Muhammad SAW sekaligus memahami perkembangan
penulisan sejarah Islam. Ia mempertemukan kekayaan tradisi riwayat dengan gaya
narasi yang komunikatif, sehingga sirah nabawiyah dapat dipelajari sebagai
kisah kehidupan sekaligus sebagai kajian sejarah yang mengundang pembacaan
kritis. Cag! *** (ahmad sahidin)
