Rabu, 21 Oktober 2026

(BOOK REVIEW) Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak

Saya sedang membaca buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak karya Dr. Jalaluddin Rakhmat (Almarhum Kang Jalal). 

Secara substansi, buku ini menarik karena memberikan pemahaman kepada saya bahwa belajar bukan sekadar memasukkan pengetahuan ke dalam otak. Belajar juga bukan hanya supaya kita menjadi cerdas, menjadi baik, atau mendapatkan petunjuk. Ada hal lain yang perlu kita perhatikan, yaitu bagaimana merawat otak sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.

Otak memiliki peran penting dalam cara kita berpikir, memahami sesuatu, mengambil keputusan, dan berperilaku. Karena itu, belajar cerdas bukan hanya persoalan menambah pengetahuan, tetapi juga memahami bagaimana kemampuan berpikir kita bekerja dan bagaimana kita merawatnya.

Saya kira buku ini penting dibaca oleh siapa pun karena mengajak kita memperhatikan otak dalam proses belajar. Kesehatan dan fungsi otak turut memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Ketika seseorang mengalami gangguan pada fungsi otak atau kondisi kesehatan mentalnya, cara berpikir, kesadaran, dan perilakunya dapat terpengaruh. Karena itu, menjaga kesehatan otak dan memperhatikan kesehatan mental merupakan bagian penting dari ikhtiar merawat diri.

Nah, dari situ kita bisa memahami bahwa ada beberapa hal yang perlu kita rawat dalam kehidupan ini, yaitu tubuh, otak, dan jiwa. Ketiganya saling berkaitan dan perlu mendapatkan perhatian yang seimbang.

Yang pertama adalah tubuh atau raga kita. Tubuh perlu dirawat dengan berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat, dan membiasakan diri bergerak. Jangan sampai kita sibuk melakukan berbagai kegiatan, tetapi lupa memperhatikan kesehatan tubuh sendiri.

Yang kedua adalah otak. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, otak juga membutuhkan asupan yang mendukung fungsi dan perkembangannya. Namun, asupan bagi otak bukan hanya makanan dan minuman. Otak juga membutuhkan rangsangan intelektual, seperti membaca, berdiskusi, mempelajari hal-hal baru, dan mencoba memecahkan masalah.

Dengan membaca, kita memperoleh pengetahuan. Melalui diskusi, kita belajar melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sementara itu, dengan mencoba memecahkan masalah, kita melatih kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Jadi, otak perlu terus digunakan dan dirawat agar kemampuan kita dalam memahami kehidupan berkembang dengan baik.

Selain itu, kita juga harus melindungi otak dari cedera. Misalnya, ketika berolahraga atau melakukan aktivitas yang berisiko, kita perlu memperhatikan keselamatan kepala. Jangan sampai karena kelalaian, perkelahian, atau tindakan yang tidak perlu, kita mengalami benturan yang dapat menyebabkan cedera serius.

Kita pun perlu memperhatikan asupan makanan dan minuman. Buah-buahan seperti apel dan pir, sayuran, serta makanan bergizi lainnya dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan. Kita juga perlu memperhatikan konsumsi minuman manis dan memilih minuman dengan bijak. Dalam buku yang sedang saya baca ini, saya tertarik pada pembahasan mengenai makanan dan minuman yang dikaitkan dengan pemeliharaan otak, di antaranya meminum teh (tanpa gula).

Namun, yang tidak kalah penting adalah merawat hati atau jiwa. Kalau otak membutuhkan asupan berupa pengetahuan, jiwa juga membutuhkan asupan yang bersifat rohaniah. Kita bisa memperolehnya melalui membaca Al-Qur'an Karim, merenungkan hadis-hadis Baginda Nabi, serta menyimak pemikiran para cendekiawan, ulama, dan sufi yang memiliki pengetahuan mendalam.

Membaca Al-Qur'an, misalnya, tidak cukup hanya dengan melafalkan ayat-ayatnya. Kita juga perlu berusaha memahami makna dan merenungkan pesan-pesannya. Begitu pula ketika membaca hadis atau menyimak nasihat para ulama. Harus bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya pelajari, apa yang perlu saya perbaiki, dan bagaimana pengetahuan ini dapat saya terapkan dalam kehidupan?

Di sinilah saya melihat bahwa belajar memiliki hubungan dengan upaya memperbaiki diri. Pengetahuan yang kita peroleh seharusnya tidak berhenti di dalam pikiran. Pengetahuan itu perlu membantu kita memahami kehidupan, mempertimbangkan tindakan, dan memperbaiki perilaku.

Sebab, menjadi cerdas bukan hanya persoalan mengetahui banyak hal, tetapi juga bagaimana menggunakan pengetahuan itu secara tepat dan bertanggung jawab.

Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan, tetapi apakah pengetahuan itu membuat kita lebih bijaksana? Kita mungkin rajin membaca buku, tetapi apakah hasil bacaan itu membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik? Kita mungkin memahami banyak ajaran agama, tetapi apakah pemahaman itu membuat kita lebih mampu mengendalikan diri, menghargai orang lain, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting untuk kita renungkan. Sebab, belajar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan otak dalam menerima dan mengolah informasi, tetapi juga dengan bagaimana pengetahuan tersebut membentuk cara kita menjalani kehidupan.

Karena itu, merawat otak dan merawat jiwa perlu berjalan beriringan. Kita membutuhkan pengetahuan untuk memahami dunia, sekaligus membutuhkan nilai-nilai rohaniah untuk memberi arah pada tindakan. Kita juga membutuhkan tubuh yang sehat agar dapat menjalankan berbagai aktivitas dan mengamalkan pengetahuan yang kita miliki.

Pada akhirnya, belajar cerdas bukan sekadar menambah isi kepala. Kita juga perlu merawat tubuh yang menopang kehidupan, menjaga otak yang membantu kita berpikir, dan memelihara jiwa yang memberi arah pada tindakan.

Jangan sampai kita rajin mencari ilmu, tetapi lalai merawat diri. Jangan sampai memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan.

Merawat tubuh, otak, dan jiwa merupakan bagian dari ikhtiar manusiawi untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Semua itu juga merupakan bagian dari rasa syukur kita kepada Ilahi.

Nah, segitu dulu. Nanti kita sambung lagi. *** (Ahmad Sahidin)