Ini bukan di nagari antah barantah. Bukan pula nagari keadilan dan kebenaran. Ini negeri yang bukan sesungguhnya. Negeri yang masih dipenuhi rakyat cinta ilmu dan memiliki impian yang besar untuk mengembangkan peradaban manusia yang paripurna.
Di sini mulai ceritanya. Di balairung kerajaan yang dipenuhi cahaya obor. Malam yang kian dingin. Para bangsawan berbisik, wajah mereka penuh intrik. Sang Raja duduk di singgasana, matanya tajam menembus kerumunan. Di hadapan beliau, seorang penasihat muda berdiri dengan wajah muram.
Penasihat
Muda: “Paduka Raja, hamba dituduh sebagai pengkhianat. Nama hamba dicemari,
cerita hamba dipotong dan diputarbalikkan. Mereka ingin rakyat melihat hamba
sebagai penjahat, sementara mereka tampil sebagai orang-orang benar.”
Raja: “Siapa
‘mereka’ yang engkau maksud?”
Penasihat
muda menunduk, lalu menunjuk ke arah barisan bangsawan.
Penasihat
Muda: “Orang-orang yang iri, Paduka. Mereka tak mampu mengalahkan hamba dengan
kejujuran. Maka mereka memilih jalan yang lebih kejam: membunuh nama hamba.
Mereka menyebarkan bisikan, memodifikasi cerita, dan menaruhnya di telinga
rakyat.”
Suasana
balairung mendadak tegang. Beberapa bangsawan saling pandang, sebagian wajah
pucat.
Raja:
“Apakah engkau punya bukti?”
Penasihat
muda mengeluarkan gulungan surat. “Ini, Paduka. Surat-surat yang mereka
sebarkan diam-diam. Lihatlah, bagaimana kata-kata dipelintir agar hamba tampak
sebagai pengkhianat. Padahal, merekalah yang menyelewengkan amanah.”
Raja membaca
surat itu dengan wajah murka.
Raja
(menggelegar): “Plato pernah berkata, ‘Opini adalah bayangan kebenaran.’
Kini aku melihat jelas, iri hati telah melahirkan kejahatan. Mereka tidak hanya
ingin menjatuhkanmu, tetapi juga merusak tatanan kerajaan.”
Para
bangsawan yang dituduh gemetar. Ada yang mencoba membela diri, namun suara
mereka tenggelam oleh tatapan Raja.
Raja: “Nama
bisa dicemari, tetapi kebenaran tidak bisa dibunuh. Kalian yang iri telah
membuka kedok sendiri. Membunuh karakter bukanlah kemenangan, melainkan
pengakuan bahwa kalian kalah dalam kejujuran.”
Balairung
hening. Para prajurit segera menangkap bangsawan yang terbukti berkhianat.
Penasihat muda menunduk, merasakan beban di dadanya perlahan berkurang.
Namun Raja
menambahkan dengan suara lembut, seolah menenteramkan hati sang penasihat:
Raja:
“Al-Ghazali pernah berkata, ‘Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal
Tuhannya.’ Maka janganlah engkau resah bila namamu dicemari, sebab jati
dirimu tetap utuh di hadapan Allah. Dan Ibnu Sina mengingatkan, ‘Kebenaran
adalah cahaya yang tidak dapat dipadamkan oleh bayangan.’ Biarkan cahaya
itu menuntunmu, meski dunia sementara ini buta.”
Penasihat muda menitikkan air mata. Ia sadar, meski namanya sempat “dibunuh,” jati dirinya tetap hidup. Ia menemukan ketenteraman: bahwa kebenaran bukanlah milik opini manusia, melainkan milik Tuhan yang Maha Mengetahui. ***