Minggu, 12 Juli 2026

(Cerpen) Membunuh Bayangan

Ini bukan di nagari antah barantah. Bukan pula nagari keadilan dan kebenaran. Ini negeri yang bukan sesungguhnya. Negeri yang masih dipenuhi rakyat cinta ilmu dan memiliki impian yang besar untuk mengembangkan peradaban manusia yang paripurna. 

Di sini mulai ceritanya. Di balairung kerajaan yang dipenuhi cahaya obor. Malam yang kian dingin. Para bangsawan berbisik, wajah mereka penuh intrik. Sang Raja duduk di singgasana, matanya tajam menembus kerumunan. Di hadapan beliau, seorang penasihat muda berdiri dengan wajah muram.

Penasihat Muda: “Paduka Raja, hamba dituduh sebagai pengkhianat. Nama hamba dicemari, cerita hamba dipotong dan diputarbalikkan. Mereka ingin rakyat melihat hamba sebagai penjahat, sementara mereka tampil sebagai orang-orang benar.”

Raja: “Siapa ‘mereka’ yang engkau maksud?”

Penasihat muda menunduk, lalu menunjuk ke arah barisan bangsawan.

Penasihat Muda: “Orang-orang yang iri, Paduka. Mereka tak mampu mengalahkan hamba dengan kejujuran. Maka mereka memilih jalan yang lebih kejam: membunuh nama hamba. Mereka menyebarkan bisikan, memodifikasi cerita, dan menaruhnya di telinga rakyat.”

Suasana balairung mendadak tegang. Beberapa bangsawan saling pandang, sebagian wajah pucat.

Raja: “Apakah engkau punya bukti?”

Penasihat muda mengeluarkan gulungan surat. “Ini, Paduka. Surat-surat yang mereka sebarkan diam-diam. Lihatlah, bagaimana kata-kata dipelintir agar hamba tampak sebagai pengkhianat. Padahal, merekalah yang menyelewengkan amanah.”

Raja membaca surat itu dengan wajah murka.

Raja (menggelegar): “Plato pernah berkata, ‘Opini adalah bayangan kebenaran.’ Kini aku melihat jelas, iri hati telah melahirkan kejahatan. Mereka tidak hanya ingin menjatuhkanmu, tetapi juga merusak tatanan kerajaan.”

Para bangsawan yang dituduh gemetar. Ada yang mencoba membela diri, namun suara mereka tenggelam oleh tatapan Raja.

Raja: “Nama bisa dicemari, tetapi kebenaran tidak bisa dibunuh. Kalian yang iri telah membuka kedok sendiri. Membunuh karakter bukanlah kemenangan, melainkan pengakuan bahwa kalian kalah dalam kejujuran.”

Balairung hening. Para prajurit segera menangkap bangsawan yang terbukti berkhianat. Penasihat muda menunduk, merasakan beban di dadanya perlahan berkurang.

Namun Raja menambahkan dengan suara lembut, seolah menenteramkan hati sang penasihat:

Raja: “Al-Ghazali pernah berkata, ‘Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.’ Maka janganlah engkau resah bila namamu dicemari, sebab jati dirimu tetap utuh di hadapan Allah. Dan Ibnu Sina mengingatkan, ‘Kebenaran adalah cahaya yang tidak dapat dipadamkan oleh bayangan.’ Biarkan cahaya itu menuntunmu, meski dunia sementara ini buta.”

Penasihat muda menitikkan air mata. Ia sadar, meski namanya sempat “dibunuh,” jati dirinya tetap hidup. Ia menemukan ketenteraman: bahwa kebenaran bukanlah milik opini manusia, melainkan milik Tuhan yang Maha Mengetahui. ***