Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe
kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Kamu tidak lagi memandang ke jalanan.
Pandanganmu tertuju lurus pada meja kayu di hadapan kita, seolah-olah sedang
menatap jurang yang tak terlihat.
Kamu menggeser cangkir kopimu yang sudah dingin.
"Aku tidak sedang mencari pelipur lara," katamu,
suaramu kini lebih rendah, lebih tajam. "Aku tidak butuh ditenangkan
dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua
sandiwara eksistensi ini?"
Aku menatapmu, menyadari bahwa malam ini kita tidak sedang
mengobrol ringan. Kita sedang berdiri di tepi tebing pikiran.
"Katakan padaku," lanjutmu, matamu menuntut
jawaban yang jujur. "Jika Tuhan itu Mahakuasa dan tidak membutuhkan apa
pun, lalu untuk apa Dia menciptakan kita? Hanya untuk menonton kita merangkak
dalam kesakitan, mencari-cari makna di tengah kegelapan, lalu mati dan diadili?
Apakah kita ini nyata, atau kita hanya sekadar proyeksi dari kesepian kosmis
yang agung?"
Aku menarik napas dalam-dalam. Pertanyaanmu tidak lagi
sekadar bertanya; ia sedang menggugat. Ia sedang mengetuk pintu takdir dengan
kepalan tangan yang gemetar.
"Pertanyaanmu adalah pisau bedah," kataku pelan.
"Dan kamu tahu? Pisau bedah yang sama pernah digunakan oleh Al-Ghazali
ketika dia mengunci diri di menara Masjid Damaskus. Dia tidak sedang mencari
ketenangan, dia sedang bertarung dengan skeptisisme radikal yang paling
mengerikan."
"Skeptisisme seperti apa?" tanyamu, menantang.
"Al-Ghazali menggugat alat-alat persepsi kita sendiri.
Dia bertanya: Jika saat bermimpi kita meyakini mimpi itu nyata, lalu
terbangun dan menyadari itu palsu... bagaimana kita bisa yakin bahwa kehidupan
'bangun' kita saat ini bukanlah mimpi lain yang lebih besar, yang baru akan
kita sadari kepalsuannya setelah kita mati? Dia meragukan indra, dia
meragukan akal. Dia menyadari bahwa semua argumen rasional tentang Tuhan dan
alam semesta hanyalah konstruksi rapuh yang kita buat agar kita tidak gila
menghadapi ketidakpastian."
Kamu bersandar pada kursi, melipat tangan di dada. "Dan
dia melarikan diri ke dalam mistisisme karena dia menyerah pada akalnya
sendiri, bukan? Itu sebuah kekalahan intelektual."
"Atau mungkin," sanggahku, "itu adalah
kesadaran tertinggi bahwa akal hanyalah alat ukur yang terbatas, sementara
realitas tidak terbatas. Kamu tidak bisa mengukur kedalaman samudra dengan
penggaris plastik. Tapi mari kita bergeser ke Ali Syariati. Gugatannya lebih
sosiologis dan eksistensial. Dia tidak hanya bertanya 'mengapa aku hidup', tapi
dia menggugat kemanusiaan kita yang terjebak dalam lingkaran setan."
"Lingkaran setan apa?"
"Dia melihat kita sebagai budak dari empat penjara:
penjara alam, penjara sejarah, penjara masyarakat, dan yang paling
mengerikan... penjara ego kita sendiri. Syariati menggugat: Apakah kita
benar-benar manusia yang bebas, atau kita hanya robot biologis yang diprogram
oleh sistem sosial dan doktrin agama untuk patuh tanpa pernah benar-benar
'ada'? Ketika kita sujud, apakah kita sedang menyembah Tuhan, atau kita
hanya sedang melakukan ritual demi menenangkan ketakutan kita akan neraka? Jika
iman hanya lahir dari ketakutan, bukankah itu bentuk pelacuran spiritual?"
Pertanyaanku membuatmu terdiam sesaat. Kamu mengerutkan
dahi, merenungkan kedalaman gugatan itu.
"Itu ekstrem," ujarmu pelan. "Tapi jujur.
Sangat jujur."
"Dan Muthahhari," lanjutku, tidak memberimu ruang
untuk menghindar, "dia membawa gugatan itu ke ranah dialektika
materialisme. Dia menantang para pemikir modern yang mengagungkan sains sebagai
juru selamat baru. Muthahhari menggugat: Sains bisa menjelaskan bagaimana
jantungmu berdetak, bagaimana atom bergerak, bagaimana galaksi terbentuk. Tapi
bisakah sains menjelaskan mengapa ketidakadilan terasa menyakitkan di dadamu?
Bisakah rumus fisika menjelaskan mengapa cinta dan pengorbanan itu
bernilai? Ketika manusia modern membuang Tuhan karena menganggap-Nya tidak
ilmiah, mereka sebenarnya sedang mengebiri diri mereka sendiri—menjadi tumpukan
daging dan tulang tanpa arah."
Aku mencondongkan tubuhku ke arahmu, memperkecil jarak di
antara kita.
"Jadi, mari kita gugat bersama malam ini," kataku
dengan nada menantang yang sama. "Apakah rasa hampa yang kamu rasakan ini
adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan? Atau... jangan-jangan rasa hampa
ini adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa kamu masih manusia? Hewan
tidak pernah mengalami krisis eksistensial. Kucing tidak pernah bertanya
mengapa mereka mengejar tikus. Hanya manusia yang memiliki 'kekosongan
berbentuk Tuhan' di dalam dirinya. Dan kekosongan itu tidak
akan pernah bisa diisi oleh dunia, karena ukuran kekosongan itu adalah tak
terbatas."
Kamu menatap cangkir kopimu yang dingin, lalu beralih
menatapku. Ada kilatan kesadaran baru di matamu—bukan ketenangan yang instan,
melainkan keberanian untuk merangkul ketidakpastian itu.
"Jadi," ucapmu dengan senyum tipis yang sarat
makna, "menjadi gelisah adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa
jiwa kita belum mati."
"Ya," jawabku. "Dan mungkin, Tuhan sengaja
membiarkan kita merasa hampa, agar kita tidak pernah berhenti
mencari-Nya."
Aku dan kamu terdiam. Saling menatap. Cukup lama terdiam.
Lantas aku berdiri dan meninggalkanmu. Dan terdengar suaramu, "Besok kita
lanjut?"
Aku menoleh sambil acungkan jempol tanda setuju. Sambil
berjalan benak bertanya: tahukah kamu apa itu besok? Yang belum tentu aku ada
dan mengada. Sebuah misteri yang akan membayangi manusia. ***