Rabu, 15 Juli 2026

Aku dan Kamu, Bukan Mencari Pelipur Lara

Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Kamu tidak lagi memandang ke jalanan. Pandanganmu tertuju lurus pada meja kayu di hadapan kita, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat.

Kamu menggeser cangkir kopimu yang sudah dingin.

"Aku tidak sedang mencari pelipur lara," katamu, suaramu kini lebih rendah, lebih tajam. "Aku tidak butuh ditenangkan dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua sandiwara eksistensi ini?"

Aku menatapmu, menyadari bahwa malam ini kita tidak sedang mengobrol ringan. Kita sedang berdiri di tepi tebing pikiran.

"Katakan padaku," lanjutmu, matamu menuntut jawaban yang jujur. "Jika Tuhan itu Mahakuasa dan tidak membutuhkan apa pun, lalu untuk apa Dia menciptakan kita? Hanya untuk menonton kita merangkak dalam kesakitan, mencari-cari makna di tengah kegelapan, lalu mati dan diadili? Apakah kita ini nyata, atau kita hanya sekadar proyeksi dari kesepian kosmis yang agung?"

Aku menarik napas dalam-dalam. Pertanyaanmu tidak lagi sekadar bertanya; ia sedang menggugat. Ia sedang mengetuk pintu takdir dengan kepalan tangan yang gemetar.

"Pertanyaanmu adalah pisau bedah," kataku pelan. "Dan kamu tahu? Pisau bedah yang sama pernah digunakan oleh Al-Ghazali ketika dia mengunci diri di menara Masjid Damaskus. Dia tidak sedang mencari ketenangan, dia sedang bertarung dengan skeptisisme radikal yang paling mengerikan."

"Skeptisisme seperti apa?" tanyamu, menantang.

"Al-Ghazali menggugat alat-alat persepsi kita sendiri. Dia bertanya: Jika saat bermimpi kita meyakini mimpi itu nyata, lalu terbangun dan menyadari itu palsu... bagaimana kita bisa yakin bahwa kehidupan 'bangun' kita saat ini bukanlah mimpi lain yang lebih besar, yang baru akan kita sadari kepalsuannya setelah kita mati? Dia meragukan indra, dia meragukan akal. Dia menyadari bahwa semua argumen rasional tentang Tuhan dan alam semesta hanyalah konstruksi rapuh yang kita buat agar kita tidak gila menghadapi ketidakpastian."

Kamu bersandar pada kursi, melipat tangan di dada. "Dan dia melarikan diri ke dalam mistisisme karena dia menyerah pada akalnya sendiri, bukan? Itu sebuah kekalahan intelektual."

"Atau mungkin," sanggahku, "itu adalah kesadaran tertinggi bahwa akal hanyalah alat ukur yang terbatas, sementara realitas tidak terbatas. Kamu tidak bisa mengukur kedalaman samudra dengan penggaris plastik. Tapi mari kita bergeser ke Ali Syariati. Gugatannya lebih sosiologis dan eksistensial. Dia tidak hanya bertanya 'mengapa aku hidup', tapi dia menggugat kemanusiaan kita yang terjebak dalam lingkaran setan."

"Lingkaran setan apa?"

"Dia melihat kita sebagai budak dari empat penjara: penjara alam, penjara sejarah, penjara masyarakat, dan yang paling mengerikan... penjara ego kita sendiri. Syariati menggugat: Apakah kita benar-benar manusia yang bebas, atau kita hanya robot biologis yang diprogram oleh sistem sosial dan doktrin agama untuk patuh tanpa pernah benar-benar 'ada'? Ketika kita sujud, apakah kita sedang menyembah Tuhan, atau kita hanya sedang melakukan ritual demi menenangkan ketakutan kita akan neraka? Jika iman hanya lahir dari ketakutan, bukankah itu bentuk pelacuran spiritual?"

Pertanyaanku membuatmu terdiam sesaat. Kamu mengerutkan dahi, merenungkan kedalaman gugatan itu.

"Itu ekstrem," ujarmu pelan. "Tapi jujur. Sangat jujur."

"Dan Muthahhari," lanjutku, tidak memberimu ruang untuk menghindar, "dia membawa gugatan itu ke ranah dialektika materialisme. Dia menantang para pemikir modern yang mengagungkan sains sebagai juru selamat baru. Muthahhari menggugat: Sains bisa menjelaskan bagaimana jantungmu berdetak, bagaimana atom bergerak, bagaimana galaksi terbentuk. Tapi bisakah sains menjelaskan mengapa ketidakadilan terasa menyakitkan di dadamu? Bisakah rumus fisika menjelaskan mengapa cinta dan pengorbanan itu bernilai? Ketika manusia modern membuang Tuhan karena menganggap-Nya tidak ilmiah, mereka sebenarnya sedang mengebiri diri mereka sendiri—menjadi tumpukan daging dan tulang tanpa arah."

Aku mencondongkan tubuhku ke arahmu, memperkecil jarak di antara kita.

"Jadi, mari kita gugat bersama malam ini," kataku dengan nada menantang yang sama. "Apakah rasa hampa yang kamu rasakan ini adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan? Atau... jangan-jangan rasa hampa ini adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa kamu masih manusia? Hewan tidak pernah mengalami krisis eksistensial. Kucing tidak pernah bertanya mengapa mereka mengejar tikus. Hanya manusia yang memiliki 'kekosongan berbentuk Tuhan' di dalam dirinya. Dan kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi oleh dunia, karena ukuran kekosongan itu adalah tak terbatas."

Kamu menatap cangkir kopimu yang dingin, lalu beralih menatapku. Ada kilatan kesadaran baru di matamu—bukan ketenangan yang instan, melainkan keberanian untuk merangkul ketidakpastian itu.

"Jadi," ucapmu dengan senyum tipis yang sarat makna, "menjadi gelisah adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa jiwa kita belum mati."

"Ya," jawabku. "Dan mungkin, Tuhan sengaja membiarkan kita merasa hampa, agar kita tidak pernah berhenti mencari-Nya."

Aku dan kamu terdiam. Saling menatap. Cukup lama terdiam. Lantas aku berdiri dan meninggalkanmu. Dan terdengar suaramu, "Besok kita lanjut?" 

Aku menoleh sambil acungkan jempol tanda setuju. Sambil berjalan benak bertanya: tahukah kamu apa itu besok? Yang belum tentu aku ada dan mengada. Sebuah misteri yang akan membayangi manusia. ***