Sabtu, 11 April 2026

Sirah Nabawiyyah: Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Kritik Husain Munis

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad (Sirah Nabawiyyah) tidak berasal langsung dari karya asli Ibnu Ishaq. Karya beliau memang yang paling awal dan paling penting, tetapi tidak sampai kepada kita secara utuh. Versi yang beredar luas justru adalah hasil penyuntingan Ibnu Hisyam. Di sinilah pentingnya memahami bahwa Sirah yang kita baca adalah hasil dari proses seleksi, bukan sekadar salinan apa adanya.

Ibnu Hisyam tidak hanya menyalin, tetapi juga memilih dan menyaring. Ia sendiri mengakui bahwa ada bagian-bagian yang ia hapus, seperti riwayat yang dianggap lemah, kisah yang dinilai tidak pantas, atau cerita yang tidak berhubungan langsung dengan Nabi. Tujuannya jelas: menjaga agar sirah tetap fokus, rapi, dan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.

Di antara contoh penting adalah tidak dimasukkannya kisah yang dikenal sebagai “ayat-ayat setan”, yang masih bisa ditemukan dalam sebagian riwayat awal dan dicatat oleh al-Thabari. Kisah ini dianggap sensitif secara teologis, sehingga dihilangkan. Selain itu, Ibnu Hisyam juga menghapus sebagian cerita Israiliyat (kisah dari tradisi Yahudi dan Nasrani), memotong silsilah yang terlalu panjang, serta menyeleksi syair-syair Arab yang tidak dianggap kuat.

Di sisi lain, Ibnu Hisyam juga memberi kontribusi positif. Ia menyusun cerita dengan lebih rapi, menjelaskan istilah yang sulit, dan membuat Sirah lebih mudah dipahami. Karena itu, karyanya menjadi sangat berpengaruh dan dipakai hingga sekarang. Namun, ada konsekuensi dari semua itu: sirah menjadi lebih halus, lebih ideal, dan kurang menampilkan sisi kompleks dari sejarah.

Husain Munis

Di sinilah pandangan Husain Munis menjadi penting. Ia melihat bahwa sirah versi Ibnu Hisyam bukan sekadar sejarah, tetapi juga hasil penyaringan nilai dan keyakinan. Menurut Munis, ada beberapa kelemahan yang muncul dari proses ini.

Pertama, sejarah menjadi tampak lebih sederhana dari kenyataannya. Konflik sosial, ketegangan politik, dan keragaman cerita di masa awal Islam banyak yang tidak terlihat. 

Kedua, pendekatan teologis lebih dominan daripada pendekatan sejarah. Artinya, yang ditulis bukan hanya apa yang terjadi, tetapi apa yang dianggap pantas untuk diceritakan. 

Ketiga, sisi manusiawi dalam sejarah menjadi berkurang, karena narasi cenderung diarahkan menjadi ideal dan tanpa banyak ambiguitas.

Selain itu, karena versi Ibnu Hisyam sangat dominan sehingga versi lain dari tradisi awal menjadi kurang dikenal. Akibatnya, pemahaman tentang sejarah Nabi cenderung berasal dari satu jalur utama saja.

Namun, Munis tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan solusi. Menurutnya, sejarah harus ditulis dengan membandingkan banyak sumber, termasuk karya-karya seperti milik al-Tabari. Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara iman dan kajian sejarah. Keimanan tetap penting, tetapi penulisan sejarah membutuhkan pendekatan kritis.

Munis juga mengajak untuk menerima bahwa sejarah itu kompleks dan tidak selalu sederhana. Justru dengan melihat berbagai versi dan kemungkinan, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jujur dan utuh tentang masa lalu. Karena itu, sejarah tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga perlu diteliti dan direkonstruksi.

Akhirnya, hubungan antara Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menunjukkan bahwa sejarah Islam awal adalah hasil proses panjang: dari pengumpulan, penyaringan, hingga penafsiran. Sementara Ibnu Hisyam berjasa besar dalam merapikan dan menjaga sirah, kritik dari Husain Munis mengingatkan kita untuk membacanya dengan lebih sadar dan kritis. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami Sirah sebagai kisah yang diyakini, tetapi juga sebagai sejarah yang terus bisa dikaji dan diperdalam. ***