Senin, 20 April 2026

HUZAIFAH Al-Yamani, Sang Pemegang Rahasia Nabi

HUZAIFAH Al-Yamani lahir dari kedua orangtua yang telah memeluk Islam. Huzaifah saat hijrah ke Madinah mendampingi Rasulullah saw. Huzaifah diberi tugas oleh Rasulullah saw untuk mengurus dan menjadi petunjuk jalan kalau bepergian.

Dalam Perang Uhud, Huzaifah memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Hudzaifah selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslim yang nyasar saat digempur pasukan musyrikin Makkah di bawah komando Khalid bin Walid.

Rasulullah saw menilai dalam pribadi Huzaifah terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya. Karena itu, Huzaifah digelari dengan "Shahibu Sirri Rasulullah” (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Saat Perang Khandaq, Rasulullah saw memerintahkan Huzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Huzaifah diutus masuk ke jantung pertahanan musuh dalam kegelapan malam.

Rasulullah saw berkata kepada Huzaifah, "Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!"

 Setelah Huzaifah berangkat, Rasulullah saw mendoakannya, "Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah."[1]

Huzaifah berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Di tengah pasukan musuh, terdengar Abu Sufyan memberi komando, “Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”

Abu Sufyan melanjutkan bicara, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat."

Selesai berkata demikian, Abu Sufyan mendekati untanya dan melepaskan tali penambat, Kemudian dinaiki dan dipukulnya untuk pulang ke Makkah. Berita ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw dan disambut gembira umat Islam Madinah.

Huzaifah terkenal sebagai orang Islam yang teguh dalam memegang rahasia mengenai orang-orang munafik yang disampaikan Rasulullah saw. Orang-orang munafik tersebut diketahui bermaksud membunuh Rasulullah saw pada malam aqabah, sepulang dari Perang Tabuk menuju Madinah.

Dikisahkan saat pasukan Islam sudah sampai di kaki bukit, Nabi Muhammad saw memberi pilihan jalan: melalui gurun atau mengikuti Nabi melalui bukit. Nabi dengan untanya ditemani Huzaifah dan Ammar menaiki bukit. Namun, tidak berapa lama terdapat dua belas orang (delapan orang Quraisy Makkah dan empat penduduk Madinah) mengenakan penutup wajah (ninja) yang berusaha mengagetkan Nabi agar terjatuh ke jurang. Kelompok ninja ini segera berbalik dan bergabung dengan rombongan pasukan Nabi melalui gurun. Meskipun pasukan Nabi yang melalui gurun itu banyak, tetapi Huzaifah mengenali mereka dari ciri-ciri untanya. Namun, Nabi meminta Huzaifah merahasiakan nama orang-orang yang hendak membuat makar.[2]

Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun surah Ath-Taubah ayat 74, Mereka bermaksud (untuk membunuh Nabi Muhammad saw), tetapi tidak berhasil mencapainya.”

Ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, pernah mencoba meminta nama-nama sahabat yang disebut munafik oleh Rasulullah saw. Huzaifah tidak mau memberitahukannya karena ini merupakan rahasia dari Rasulullah saw. Namun, Khalifah Umar tidak kalah akal. Setiap kali ada orang Islam yang meninggal, Umar bertanya, “Apakah Huzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?”  Kalau mereka menjawab “ada”, baru Khalifah Umar menyalatkannya.

Dalam sebuah kesempatan, Khalifah Umar pernah bertanya lagi kepada Huzaifah, “Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”

“Ada seorang,” jawab Huzaifah.

"Tolong tunjukkan siapa orangnya?" pinta Umar.
Hudzaifah menjawab, "Maaf, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”

Huzaifah dalam sejarah tercatat sebagai penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota tersebut bagi umat Islam dari genggaman kekuasaan Persia.

Ketika Huzaifah sakit keras menjelang ajalnya, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Huzaifah bertanya kepada mereka,"Jam berapa sekarang?"

"Sudah dekat subuh," jawab mereka. Huzaifah kemudian berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."

"Adakah kalian membawa kafan?" tanya Huzaifah.
Mereka menjawab, "Ada, wahai Huzaifah."

Kemudian Huzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku."

Huzaifah berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.” Setelah itu, Huzaifah Al-Yamani mengembuskan nafas yang terakhir. *** (Ditulis oleh AHMAD SAHIDIN, alumni UIN SGD Bandung).



[1] Dikutip dari situs republika.co.id

[2] Jafar Subhani, Sejarah Nabi Muhammad saw: ar-risalah (Jakarta: Lentera, 2006) h.627.