HUZAIFAH Al-Yamani lahir dari kedua orangtua yang telah memeluk Islam. Huzaifah saat hijrah ke Madinah mendampingi Rasulullah saw. Huzaifah diberi tugas oleh Rasulullah saw untuk mengurus dan menjadi petunjuk jalan kalau bepergian.
Dalam Perang Uhud, Huzaifah memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Hudzaifah selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslim yang nyasar saat digempur pasukan musyrikin Makkah di bawah komando Khalid bin Walid.
Rasulullah
saw menilai dalam pribadi Huzaifah terdapat tiga keistimewaan yang menonjol.
Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba
sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat
dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan
berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang
dirahasiakannya. Karena itu, Huzaifah digelari dengan "Shahibu Sirri
Rasulullah” (Pemegang Rahasia Rasulullah).
Saat
Perang Khandaq, Rasulullah saw memerintahkan Huzaifah melaksanakan suatu tugas
yang amat berbahaya. Huzaifah diutus masuk ke jantung pertahanan musuh dalam
kegelapan malam.
Rasulullah
saw berkata kepada Huzaifah, "Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh.
Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data
yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!"
Setelah Huzaifah berangkat, Rasulullah saw
mendoakannya, "Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang,
kanan, kiri, atas, dan dari bawah."[1]
Huzaifah
berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah
anggota pasukan mereka. Di tengah pasukan musuh, terdengar Abu Sufyan memberi
komando, “Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian.
Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh
Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di
samping kalian masing-masing!”
Abu
Sufyan melanjutkan bicara, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita
tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah
banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan
menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah
kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan
berangkat."
Selesai
berkata demikian, Abu Sufyan mendekati untanya dan melepaskan tali penambat,
Kemudian dinaiki dan dipukulnya untuk pulang ke Makkah. Berita ini kemudian
disampaikan kepada Rasulullah saw dan disambut gembira umat Islam Madinah.
Huzaifah
terkenal sebagai orang Islam yang teguh dalam memegang rahasia mengenai
orang-orang munafik yang disampaikan Rasulullah saw. Orang-orang munafik
tersebut diketahui bermaksud membunuh Rasulullah saw pada malam aqabah, sepulang dari
Perang Tabuk menuju Madinah.
Dikisahkan
saat pasukan Islam sudah sampai di kaki bukit, Nabi Muhammad saw memberi pilihan jalan: melalui gurun atau mengikuti Nabi melalui bukit.
Nabi dengan untanya ditemani Huzaifah dan Ammar menaiki bukit. Namun, tidak
berapa lama terdapat dua belas orang (delapan orang Quraisy Makkah dan empat
penduduk Madinah) mengenakan penutup wajah (ninja) yang berusaha mengagetkan
Nabi agar terjatuh ke jurang. Kelompok ninja ini segera berbalik dan bergabung
dengan rombongan pasukan Nabi melalui gurun. Meskipun pasukan Nabi yang melalui
gurun itu banyak, tetapi Huzaifah mengenali mereka dari ciri-ciri untanya.
Namun, Nabi meminta Huzaifah merahasiakan nama orang-orang yang hendak membuat
makar.[2]
Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun surah Ath-Taubah ayat 74, “Mereka bermaksud (untuk membunuh Nabi
Muhammad saw), tetapi tidak berhasil
mencapainya.”
Ketika
Umar bin Khaththab menjadi khalifah, pernah mencoba meminta nama-nama sahabat
yang disebut munafik oleh Rasulullah saw. Huzaifah tidak mau memberitahukannya
karena ini merupakan rahasia dari Rasulullah saw. Namun, Khalifah Umar tidak
kalah akal. Setiap kali ada orang Islam yang meninggal, Umar bertanya, “Apakah
Huzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?”
Kalau mereka menjawab “ada”, baru Khalifah Umar menyalatkannya.
Dalam
sebuah kesempatan, Khalifah Umar pernah bertanya lagi kepada Huzaifah, “Adakah
di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
“Ada
seorang,” jawab Huzaifah.
"Tolong tunjukkan siapa orangnya?" pinta Umar.
Hudzaifah menjawab, "Maaf, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
Huzaifah
dalam sejarah tercatat sebagai penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai.
Dia membebaskan kota tersebut bagi umat Islam dari genggaman kekuasaan Persia.
Ketika
Huzaifah sakit keras menjelang ajalnya, beberapa orang sahabat datang
mengunjunginya pada tengah malam. Huzaifah bertanya kepada mereka,"Jam
berapa sekarang?"
"Sudah
dekat subuh," jawab mereka. Huzaifah kemudian berkata, "Aku
berlindung kepada Allah dari subuh yang menyebabkan aku masuk neraka."
"Adakah kalian membawa kafan?" tanya Huzaifah.
Mereka menjawab, "Ada, wahai Huzaifah."
Kemudian
Huzaifah berkata, "Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam
penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik.
Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu
dari tubuhku."
Huzaifah
berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir
daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati
daripada hidup.” Setelah itu, Huzaifah Al-Yamani mengembuskan nafas yang
terakhir. *** (Ditulis oleh AHMAD SAHIDIN, alumni UIN SGD Bandung).