Kisah ini mungkin sudah banyak diketahui. Meski ada yang menyatakan tidak shahih, tetapi dari cerita ini kaum Muslim dapat becermin dalam mengambil tindakan bagaimana menyikapi para penghujat Nabi Muhammad saw.
Diceritakan di sudut pasar Kota
Madinah ada pengemis tua dan buta yang beragama Yahudi. Ia tidak punya sanak
saudar alias hindup sendiri. Ia hidup dari belas kasihan orang-orang, termasuk
dari kaum Muslim. Bahkan, makan pun ia disuapi oleh seseorang yang dihinanya.
Kepada orang yang menyuapinya, ia selalu berpesan agar jangan mendekati orang
yang bernama Muhammad. Orang yang menyuapinya itu hanya diam dan terus menyuapi
pengemis buta itu hingga makanannya habis.
“Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila. Dia itu penyihir. Kalau kalian mendekatinya maka akan terpengaruhinya,” ujar si Yahudi.
Kemudian
terdengarlah bahwa Muhammad saw wafat. Abu Bakar yang menjadi khalifah
diberitahu bahwa Nabi Muhammad saw senantiasa menyuapi pengemis buta Yahudi
disudut pasar. Tidak beberapa lama Abu Bakar membawa makanan menuju pasar.
Ketika melihat seorang pengemis buta yang terus mencaci Muhammad saw, Abu Bakar
berhenti dan memegang tangan pengemis serta didudukkan.
Setelah
pengemis itu duduk, Abu Bakar langsung menyuapi pengemis itu dengan tangannya.
Belum juga makanan itu masuk pada kerongkongan, pengemis itu langsung
menghardik: “Kau bukan orang yang biasa memberiku makanan.”
“Aku orang
yang biasa,” kata Abu Bakar.
“Bukan. Kau
bukan orang yang biasa ke sini untuk memberiku makanan. Apabila dia yang
datang, aku merasa enak saat memakan dan mengunyah. Dia selalu menghaluskan
dahulu makanan sebelum disuapkan ke mulutku,” bantah si Yahudi.
“Engkau
benar. Aku memang bukan orang yang biasa ke sini untuk memberimu makanan. Aku
adalah salah satu sahabatnya. Orang yang dulu biasa ke sini itu telah wafat.
Tahukah kau siapa orang yang dulu biasa ke sini untuk memberimu makanan? Dia
adalah Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Orang yang selalu
kau hina di depan orang banyak,” tegas Abu Bakar.
Terkejutlah
si pengemis Yahudi itu. Dia terdiam dan air matanya perlahan berlinang
membasahi kedua pipinya. Si Yahudi itu baru sadar betapa hinanya ia telah
memperlakukan orang yang memberinya makanan setiap hari.
“Selama ini
aku telah menghinanya, memfitnahnya, bahkan dihadapannya. Namun, dia tidak
pernah memarahiku. Dia sabar menghadapiku dengan berbagai macam ocehanku dan
berbaik hati melumatkan makanan yang dibawanya untukku. Dia begitu mulia,” ujar
si Yahudi yang kemudian dihadapan Abu Bakar menyatakan masuk Islam.
Ada juga kisah lainnya. Namanya
Hakam. Ia adalah ayah dari Marwan. Hakam hampir setiap hari
mengejek pembicaraan Nabi dengan meniru-niru gerakan mulut Nabi (ngabegegan).
Pada suatu waktu Nabi memergokinya. Kemudian Nabi memerintahkan ia untuk keluar
dari Madinah. Ia diusir karena penghinaan terhadapnya.
Kalau kita
rajin membuka buku Sirah Nabawiyah seperti Ibnu Hisyam, Ibnu Atsir,
Ja`far Subhani, Sayyid Asghar Razavy, Muhammad Husein Haekal, Muhammad Hashem,
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, dan lainnya akan kita temukan betapa banyak
orang yang menghina dan mencoba membunuh Muhammad saw.
Berbagai
umpatan dan cercaan pun terus menimpa Muhammad saw ketika berdakwah. Hanya
keluarga Nabi: Khadijah, Fathimah, Ali, dan Hamzah, yang peduli dan membela
perlakuan para penghina Nabi. Apakah Nabi tidak melawan? Ketika kondisi belum
memungkinkan, Muhammad saw hanya bersabar. Bahkan, Malaikat Jibril pernah
menawarkan dirinya untuk menghancurkan para penghina Nabi. Namun itu ditolaknya
dan Nabi mendoakan agar mereka diberi hidayah. Sungguh betapa mulia Muhammad
saw.
Dalam buku Sirah
Nabawiyyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury (2007: 534) disebutkan Nabi
Muhammad saw memberi hukuman terhadap para penghina atau musuh Islam ketika
sudah berada di Madinah dan saat pembebasan Makkah (Futuh Makkah). Nabi
Muhammad saw memerintahkan para sahabat agar membunuh sembilan orang: Abdul
Uzza bin Khathal, Abdullah bin Abi Sarh, Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Harits bin
Nufail bin Wahb, Miqyas bin Shuababah, Habbar bin Aswad, dua biduanita Ibnu
Khathal, dan Sarah, budak Bani Abdul Muthalib. Namun yang berhasil dieksekusi
hanya Abdul Uzza bin Khathal, Miqyas bin Shuababah, Al-Harits bin Nufail bin
Wahb, dan salah seorang biduanita Ibnu Khathal. Sedangkan yang lainnya lari ke
negeri lain dan ada juga yang diberi ampunan karena menyatakan masuk Islam.
Jika dahulu
menggunakan syair dan kata-kata secara langsung maka pada zaman modern
penghinaan terjadi dalam bentuk buku dan media massa. Bahkan, dilakukan oleh tokoh
pejuang Republik Indonesia.
Sejarawan Ahmad Mansur
Suryanegara dalam buku Api Sejarah Jilid 1 (halaman 392) dan Jilid 2
(halaman 8-10) mencatat bahwa organisasi Boedi
Oetomo melalui majalah Djawi Hisworo (9 dan 11 Januari 1918 M.) yang
terbit di Surakarta, mengeluarkan artikel karya Martodharsono dan Djokodikoro
yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah pemabuk dan pemadat. Juga majalah
Swara Oemoem (18 Djuni 1930) melalui artikel yang ditulis oleh
Homo Soem (nama pena Dr.Soetomo) melancarkan aksi anti haji dan anti
Islam serta menyatakan lebih baik dibuang ke Digul ketimbang menuaikan ibadah
haji ke Makkah. Lalu ada Harian Hoa Kiao mengangkat artikel Oei Boe Thai dan J.J.
Ten Berge yang menghina Nabi saw pada 25 April 1931, dan Parindra (Partai Indonesia Raya) yang dipimpin
oleh Dr. Soetomo dengan medianya Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937,
mengangkat dan mendukung artikel Siti Soemandari yang melancarkan penghinaan
kepada Rasulullah saw.
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad
saw dalam bentuk buku ditulis oleh Salman Rushdi pada 1988. Melalui novel Satanic Verses, Salman
menggambarkan Muhammad sebagai pemabuk, berpenyakitan, dan senang main
perempuan, serta pengkhayal. Pantas kalau almarhum Imam Khomeini dari Iran,
mengeluarkan fatwa mati terhadap Salman Rushdi.
Kemudan pada 2002, Jerry Falwell dari Amerika Serikat
menyebut Nabi Muhammad sebagai teroris dan koran Denmark Jyllands-Posten, Februari
2006 memuat 12 gambar yang menghina Nabi Muhammad. Lagi-lagi Iran yang memberikan
respons dengan menggelar lomba pembuatan kartun kebejadan dan kebiadaban Barat
serta peristiwa holocoust.
Kemudian ada film The Innocence of Muslims yang
dibuat oleh Nakoula Basseley, yang isinya menggambarkan Nabi Muhammad saw
sebagai seorang pedofil, penyuka wanita, maniak seks, dan orang yang tidak
berprikemanusiaan. Kemudian film
tersebut mendapat protes dari umat Islam. Dan kita tahu kemarin kasus Charli
Hebdo, yang membuat kartun yang dianggap sebagai representasi Nabi dengan penuh
hinaan. Kejadian itu berujung kematian dan tindakan kriminalitas.
Saya tidak tahu yang mesti diperbuat untuk membela Rasulullah Saw. Saya memahami phobia pada Islam dan Nabi Muhammad Saw tidak dapat disangkal adanya. Mungkin perlu terus menerus menyampaikan pada dunia bahwa gambaran tentang sosok Rasulullah Saw yang mereka baca itu perlu dikritisi ulang.
Sejumlah kitab klasik yang oleh orang Barat baca tentang
Rasulullah Saw mesti diberi catatan oleh ulama dan sejarawan Muslim sekarang
bahwa sejumlah informasi dalam kitab-kitab tarikh tentang Rasulullah Saw perlu
dikaji kembali dengan standar Al-Quran. Ada tiga ayat Alquran (Ahzab 21,
Al-Qalam 4, Anbiya 107) yang menyebutkan sosok Muhammad bin Abdullah sebagai
teladan yang baik, berperilaku agung, dan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dengan
tiga ayat ini saya kira sosok Muhammad Rasulullah Saw merupakan manusia
istimewa, bahkan Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepadanya (Ahzab 56).
Terkait menyikapi para penghina Baginda Nabi Muhammad SAW, saya kira untuk melawan yang munkar perlu dilakukan dengan
cara yang ma’ruf. Bagaimana menurut Anda? *** (ahmad sahidin)