Kangjeng
Nabi…
duh geuning
geus sarebu opat ratus taun
Salira
mulih ka jati mulang ka asal
Kangjeng
Nabi…
duh geuning
geus sarebu opat ratus taun
Salira
mulih ka jati mulang ka asal
Yang pertama terkait karakter positif dan kedua lifeskills atau kecakapan dasar. Penanaman karakter melalui kegiatan harian di sekolah berbentuk pembinaan ruhani dengan melakukan amaliah (ibadah), mengambil teladan Nabi Muhammad Saw, dan khidmat kepada Orangtua (birrul walidain).
Sejarah mencatat ada manusia yang diistimewakan kelahirannya. Nabi Adam as dan Hawa lahir tanpa perantara ibu dan ayah. Nabi Isa as lahir tanpa ayah. Mengapa bisa? Tentu saja kelahiran Nabi as bagian dari kemuliaan dan keagungan Allah. Dengan tetap melalui perantara seorang wanita: Maryam binti Imran.
Harus diyakini bahwa manusia tidak terlahir begitu saja, tetapi ada perantara yang menyebabkan lahirnya ke dunia. Allah yang melahirkan manusia ke dunia melalui berbagai jalan. Satu di antaranya melalui wanita (tanpa hubungan seksual dengan laki-laki) yang sesuai kehendak Allah, maka terjadilah kehamilan kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Isa putra Maryam. Tidak aneh bagi umat Islam yang yakin dengan kekuasaan Allah.
SUATU hari Rasulullah saw bercerita bahwa kelak di Padang Mahsyar ada seorang mukmin dibangkitkan. Bersama dia dibangkitkan juga seorang manusia yang lain, yang wajahnya penuh keceriaan. Orang yang dibangkitkan itu menuntun tangan si mukmin dan menghiburnya. Kalau si mukmin menyaksikan melihat hal-hal yang mengerikan, dia menenteramkan hatinya dan berkata, “Itu tidak disediakan bagimu.” Sebaliknya saat melihat hal-hal yang menyenangkan dan indah-indah, dia berkata, “Insya Allah disediakan untukmu.”