Saya sadar mengurus diri sendiri lebih sulit dan tidak mudah. Hasrat dan dosa. Kembali lagi berbuat berulah meski sadar diri ini bahwa yang demikian, perilaku dan gunjangan hati untuk berbuat negatif senantiasa timbul. Jika muncul maka saya akui diri ini kalah dengan dorongan nafsu. Bermula dari mata direspon pikiran kemudian membentuk imajinasi. Selanjutnya hal negatif bermunculan dalam benak. Ada saja legitimasi yang berbisik. Duh, eta Iblis gentayangan terus.
Ibnu Sina menyatakan dalam manusia itu ada jiwa binatang, jiwa tumbuhan, dan jiwa insaniah; sebuah jiwa manusiawi yang berbeda dengan jiwa binatang dan jiwa tumbuhan. Hanya saja jiwa insaniah ini dalam diri saya mengalami kekalahan. Dikalahkan dalam diri ini dengan jiwa binatang dan jiwa tumbuhan. Ini yang menyergap saya. Dan, sungguh saya terkapar dengan keduanya. Tak berdaya. Tak kuasa mengekangnya. Tak kuasa lawannya. Inilah diri yang lemah. Saya sadar dengan diri ini.
Nun Gusti anu Maha Suci, kuatkan diri ini. Tegakkan badanku. Giatkan diri ini dalam kemanusiaan, dalam kebaikan, dan dietapkan berjiwa insaniah. Tidak bergeser, tidak berganti, atau kembali pada jiwa binatang dan jiwa tumbuhan. Tanpa Diri-Mu ya Allah, sungguh diri ini tiada daya sedikit pun. Hanya untuk kendali diri saja tidak tampu. Apalagi dibebani dengan amanah yang lebih besar dari itu. Nun Gusti beri kemampuan untuk terus bergerak menuju sempurna dengan bantuan-Mu. Allahumma Bihaqqi Muhammad wa aali Muhammad. ***
(Ahmad Sahidin)
Senin, 21 Agustus 2017
Selasa, 15 Agustus 2017
Sahabat Nabi
RABU, 16 Maret
2011, Dr.Fuad Jabali dalam sebuah
diskusi buku bersama Jalaluddin Rakhmat di UIN Sunan Gunung Djati
Bandung, menyampaikan bahwa ia telah
membaca lebih dari 2000 biografi para sahabat untuk menulis bukunya yang
berjudul Sahabat Nabi.
Dari hasil
kajiannya, Fuad menyimpulkan bahwa sahabat Nabi bukan manusia sempurna sehingga
terdapat kesalahan dan keterbatasan dalam beragama. Apalagi tidak semua sahabat
terus menerus hidupnya bersama Rasulullah saw maka tingkat pemahaman keagamaan
pun seadanya.
Fuad juga
mengatakan, definisi sahabat yang dipegang para ahli hadis kurang bernilai
religius karena hanya menyebutkan orang-orang yang bersama Nabi. Ketaatan tidak
menjadi ukuran dalam menentukan sahabat Nabi atau bukan. Karena itu, wajar
kalau terdapat orang-orang yang digelari sahabat (setelah Rasulullah saw wafat)
menggunakan Islam sebagai alat untuk mengukuhkan kekuasaan politik dan meraup
keuntungan duniawi.
Lalu, mengapa
Rasulullah saw menggelarinya sahabat? Sebutan sahabat diberlakukan oleh
Rasulullah saw kepada orang-orang Islam terdahulu untuk pengikat hubungan
persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah). Karena itu, mereka yang disebut
sahabat adalah orang Islam yang hidup satu zaman atau satu masa dengan Nabi dan
berada dalam lingkungan kekuasaan Islam.
Memang belum
ada kesepakatan dari ulama maupun ahli sejarah dalam menetapkan definisi
sahabat. Saya mengira istilah ‘sahabat’ dalam sejarah Islam dapat dimaknai
sebagai generasi atau babak sejarah. Karena setelah masa Rasulullah saw, secara
politik, umat Islam berada dalam masa kepemimpinan empat sahabat Nabi (Khulafa
Rasyidun): Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi
Thalib.
Masa empat
sahabat Nabi inilah generasi umat Islam yang hidup satu zaman dengan Rasulullah
saw menjadi rujukan. Sedikit demi sedikit para sahabat meninggal dunia akibat
perang maupun kematian.
Para sahabat
tersebut mengajarkan Islam kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya atau generasi
yang lebih muda dari mereka. Generasi setelah para sahabat Nabi inilah yang
disebut tabiin. Selanjutnya, dari generasi tabiin ini lahir generasi
tabiit-tabiin dan kemudian generasi mutaakhirin.
Terlepas dari
pembabakan sejarah tersebut, yang jelas umat Islam yang hidup bersama
Rasulullah saw memiliki peran dan kontribusi yang cemerlang dan memiliki nilai
keteladanan yang berguna bagi umat Islam masa sekarang.
Mesti diakui
para sahabat Nabi berkorban dan berjuang demi menegakan agama Islam dan mereka
punya kisah teladan yang penting direnungkan oleh umat Islam sekarang.
[]
(Buku KECEMERLANGAN
SAHABAT-SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW karya Ahmad Sahidin. Penerbit ACARYA
MEDIA UTAMA, Bandung. Tahun terbit 2010)
Rabu, 02 Agustus 2017
Syarikat Islam dan Gerakan Kebangsaan
Sekadar diketahui bahwa catata ringkas ini merupakan bahan diskusi Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam di Masyarakat Sunda, yang diasuh oleh Prof A. Sobana di Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Pascasarjana UIN SGD Bandung. Temanya tentang Syarikat Islam dan gerakan kebangsaan di Jawa Barat atau area Tatar Sunda. Catatan ini hanya ala kadarnya untuk bersama-sama dikaji kembali secara historis dan analisis sosial budaya.
Syarikat Islam
(SI) merupakan organisasi gerakan kebangsaan. Sebelumnya bernama Syarikat
Dagang Islam (SDI) didirikan tahun 1911 di Surakarta yang berganti nama menjadi
Syarikat Islam pada tahun 1913.[2]
SI termasuk berhasil dalam merekrut massa yang berasal dari para pedagang
sehingga para anggota dan pengurusnya adalah orang-orang yang terlibat dalam
perdagangan. SI bergerak mendirikan toko-toko dan koperasi di banyak kota. Karena
bergerak dalam bidang ekonomi, sehingga SI menjadi pesaing dari orang-orang
Cina yang juga berkiprah dalam perdagangan. Gerakan SI memiliki daya tarik bagi
wong cilik dikarenakan persamaan sosial yang digalakan dalam organisasi
SI. Selain kalangan wong cilik, juga santri dan priyayi tergabung dalam
gerakan SI.
Selasa, 01 Agustus 2017
Kehidupan Beragama Islam di Masyarakat Sunda
Catatan Ringkas[1]
Kehidupan beragama Islam di masyarakat Sunda pada masa pergerakan nasional periode 1920-1945
tidak seperti periode awal Islam masuk. Sebagaimana diketahui bahwa bentuk dan
pengamalan beragama masyarakat Sunda dekat dengan budaya dan seni. Umat Islam
di Sunda masih memandang figur ketokohan seperti Sunan Gunung Jati dan penyebar
Islam lainnya seperti penghulu-penghulu dan kiai-kiai ternama. Sehingga mereka yang dijadikan acuan dalam berbicara pengamalan agama dan membahas sejarah Islam di Tatar Sunda. Unsur tokoh diakui sebagai faktor utama dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam di Tatar Sunda. Selanjutnya organisasi di masa pra dan masa Kemerdekaan RI juga berperan dalam pengembangan pemahaman agama Islam di Tatar Sunda.
Langganan:
Postingan (Atom)