Kamis, 09 Maret 2017

Tonggak Kejayaan Islam



SETIAP umat Islam pasti kenal dengan istilah hijrah. Peristiwa ini berkaitan dengan keberangkatan Rasulullah sejak 2 Rabiul Awwal dari Makkah dan tiba di Madinah  pada 12 Rabiul Awwal. Yakni ketika Nabi dan sahabat-sahabatnya berada dalam keadaan terdesak; karena kaum musyrikin Makkah semakin merajalela dalam menindasnya. Bahkan pada masa itu mereka tengah merencanakan pembunuhan terhadap Nabi dengan melibatkan semua suku. Tapi rencana itu diketahui Nabi berkat informasi malaikat Jibril. Kemudian  Nabi menyuruh Abu Bakar agar mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan ke Yatsrib (Madinah).

Senin, 06 Maret 2017

Memahami Esensi Taqwa



SETIAP Muslim yang hidup di dunia tak lepas dari ujian dan tantangan. Sebab sudah menjadi sunnatullah, mereka yang mengaku Muslim pasti mengalami ujian untuk meningkatkan derajat. Setiap pelajar, dalam sekolahnya pasti akan menghadapi ujian. Dari ujian itu ia akan mengetahui kualitas ilmu, pemahaman dan kecerdasannya. Mereka yang berhasil menyelesaikan ujian dengan hasil yang memuaskan, dipastikan naik kelas. Sebaliknya, mereka yang tak berhasil, dipastikan tidak naik kelas. Begitu pun dalam hidup ini, Allah senantiasa memberikan ujian dan tantangan kepada umat Islam untuk melihat atau menyeleksi siapa saja yang termasuk hamba Allah. Yang dikmaksud sebagai hamba Allah, tentu mereka yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya.

Apa itu taqwa? Taqwa merupakan bentuk invinitive yang berarti “wiqayyah”. Dalam pengertian bahasa adalah menjaga sesuatu dari yang menyakiti dan yang bisa membahayakannya. Bisa juga diartikan sebagai upaya untuk menjadikan diri seseorang dalam keadaan selalu terpelihara dari sesuatu yang menakutkan.

Seorang sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abu Thalib ra menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa itu ibarat orang yang berjalan di jalan yang ada durinya. Ia akan berhati-hati ketika melangkah di jalan tersebut. Begitulah seorang Muslim yang bertaqwa. Ia senantiasa akan berhati-hati dalam hidupnya, apakah langkah hidupnya itu menuju pada Allah atau berada dalam jalur setan.

Minggu, 05 Maret 2017

Mengapa Harus Lapang Dada?


PENTINGNYA lapang dada dalam menjalani kehidupan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Tidak hanya dalam urusan menerima masukan dan kritik yang sampai pada kita, tapi terhadap takdir Allah yang tak diinginkan pun harus berlapang dada.

Bentuk lapang dada dalam menghadapi yang kurang berkenan dari orang lain, juga pernah dialami Rasulullah saw. Suatu ketika setelah pulang dari peperangan, Nabi Muhammad saw membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan—red) dengan adil. Namun, salah seorang di antara tentara Nabi Muhammad saw berteriak, “Ya Muhammad, berbuat adillah!”

“Kalau aku tidak berbuat adil, maka siapa lagi yang adil di dunia ini?,” jawab Rasulullah saw. Sebuah pernyataan yang kurang etis, tapi Rasulullah saw sikapi dengan bijak dan tegas, tidak emosional. Ini yang harus dicontoh. Cerita lainnya adalah Rasulullah saw berada di tengah-tengah sahabatnya dalam satu majelis. Tiba-tiba datang seorang Yahudi dan langsung berkata, “Hai Muhammad, bayar utangmu! Wahai putra Abdul Muthalib, engkau sudah terkenal suka menunggak utang!”

Sabtu, 04 Maret 2017

Mengapa Harus Sabar?



AYATULLAH Mazhahiri, ulama dari Iran, bercerita bahwa pada masa Rasulullah saw terdapat seorang istri salehah yang memiliki anak kecil yang sedang sakit.

Ketika suaminya bekerja di tempat jauh, anaknya itu wafat. Istri itu duduk dan menangisi kepergian anaknya itu. Tiba-tiba ia berhenti menangis dan sadar bahwa sebentar lagi suaminya pulang ke rumah. Ia bergumam, jika saya menangis terus di samping jenazah anakku ini, kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan akan melukai perasaan suamiku. Padahal ia pulang dalam keadaan lelah. Ia cepat-cepat meletakkan anaknya yang wafat itu pada suatu tempat.