SETIAP umat Islam pasti kenal dengan istilah
hijrah. Peristiwa ini berkaitan dengan keberangkatan Rasulullah sejak 2 Rabiul
Awwal dari Makkah dan tiba di Madinah
pada 12 Rabiul Awwal. Yakni ketika Nabi dan sahabat-sahabatnya berada
dalam keadaan terdesak; karena kaum musyrikin Makkah semakin merajalela dalam
menindasnya. Bahkan pada masa itu mereka tengah merencanakan pembunuhan
terhadap Nabi dengan melibatkan semua suku. Tapi rencana itu diketahui Nabi
berkat informasi malaikat Jibril. Kemudian
Nabi menyuruh Abu Bakar agar mempersiapkan segala kebutuhan untuk
perjalanan ke Yatsrib (Madinah).
Kamis, 09 Maret 2017
Senin, 06 Maret 2017
Memahami Esensi Taqwa
SETIAP Muslim yang hidup di dunia tak lepas
dari ujian dan tantangan. Sebab sudah menjadi sunnatullah, mereka yang mengaku
Muslim pasti mengalami ujian untuk meningkatkan derajat. Setiap pelajar, dalam
sekolahnya pasti akan menghadapi ujian. Dari ujian itu ia akan mengetahui
kualitas ilmu, pemahaman dan kecerdasannya. Mereka yang berhasil menyelesaikan
ujian dengan hasil yang memuaskan, dipastikan naik kelas. Sebaliknya, mereka
yang tak berhasil, dipastikan tidak naik kelas. Begitu pun dalam hidup ini,
Allah senantiasa memberikan ujian dan tantangan kepada umat Islam untuk melihat
atau menyeleksi siapa saja yang termasuk hamba Allah. Yang dikmaksud sebagai
hamba Allah, tentu mereka yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya.
Apa itu taqwa? Taqwa merupakan bentuk invinitive
yang berarti “wiqayyah”. Dalam pengertian bahasa adalah menjaga sesuatu dari
yang menyakiti dan yang bisa membahayakannya. Bisa juga diartikan sebagai upaya
untuk menjadikan diri seseorang dalam keadaan selalu terpelihara dari sesuatu
yang menakutkan.
Seorang sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abu Thalib ra menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa itu ibarat orang yang berjalan di jalan
yang ada durinya. Ia akan berhati-hati ketika melangkah di jalan tersebut.
Begitulah seorang Muslim yang bertaqwa. Ia senantiasa akan berhati-hati dalam
hidupnya, apakah langkah hidupnya itu menuju pada Allah atau berada dalam jalur
setan.
Minggu, 05 Maret 2017
Mengapa Harus Lapang Dada?
PENTINGNYA lapang dada dalam menjalani kehidupan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Tidak hanya dalam urusan menerima masukan dan kritik yang sampai pada kita, tapi terhadap takdir Allah yang tak diinginkan pun harus berlapang dada.
Bentuk lapang dada dalam menghadapi yang
kurang berkenan dari orang lain, juga pernah dialami Rasulullah saw. Suatu
ketika setelah pulang dari peperangan, Nabi Muhammad saw membagi-bagikan
ghanimah (harta rampasan—red) dengan adil. Namun, salah seorang di antara
tentara Nabi Muhammad saw berteriak, “Ya Muhammad, berbuat adillah!”
“Kalau aku tidak berbuat adil, maka siapa lagi
yang adil di dunia ini?,” jawab Rasulullah saw. Sebuah pernyataan yang kurang
etis, tapi Rasulullah saw sikapi dengan bijak dan tegas, tidak emosional. Ini
yang harus dicontoh. Cerita lainnya adalah Rasulullah saw berada di
tengah-tengah sahabatnya dalam satu majelis. Tiba-tiba datang seorang Yahudi
dan langsung berkata, “Hai Muhammad, bayar utangmu! Wahai putra Abdul Muthalib,
engkau sudah terkenal suka menunggak utang!”
Sabtu, 04 Maret 2017
Mengapa Harus Sabar?
AYATULLAH Mazhahiri, ulama dari Iran,
bercerita bahwa pada masa Rasulullah saw terdapat seorang istri salehah yang
memiliki anak kecil yang sedang sakit.
Ketika suaminya bekerja di tempat jauh,
anaknya itu wafat. Istri itu duduk dan menangisi kepergian anaknya itu.
Tiba-tiba ia berhenti menangis dan sadar bahwa sebentar lagi suaminya pulang ke
rumah. Ia bergumam, jika saya menangis terus di samping jenazah anakku ini,
kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan akan melukai perasaan suamiku.
Padahal ia pulang dalam keadaan lelah. Ia cepat-cepat meletakkan anaknya yang
wafat itu pada suatu tempat.
Langganan:
Postingan (Atom)
