Suatu hari saya bertemu dengan
kawan yang berlatar belakang dari Pesantren PERSIS (Persatuan Islam). Kawan
saya itu bilang bahwa umat Islam Indonesia yang mayoritas tidak berada dalam
satu jamaah sehingga agenda dan misi Islam secara keseluruhan tidak terwujud.
Ia menyebut syariat Islam yang seharusnya menjadi aturan hukum malah diabaikan.
Padahal, negeri ini dikuasai umat Islam dan para pejabatnya pun sebagian besar beragama
Islam. Anehnya, kata kawan itu, tidak ada kekuatan yang mampu mewujudkannya
untuk menciptakan negara Islam.
Lebih aneh lagi umat Islam
Indonesia senang membuat lembaga-lembaga yang terpisah sehingga tidak memiliki
visi dan misi yang sama. Yang ada hanya kepentingan lembaga dan individu. Saling
berebut jabatan dan pengaruh. Akibat tidak berada dalam satu jamaah, tidak
heran kalau umat Islam Indonesia terus berada konflik membela lembaga dan
kepentingannya masing-masing.