Sabtu, 02 Januari 2016

Menjadi Seorang Intelektual

Salam. Sampurasun. Saya tidak tahu ini akan menyangkut dengan tema atau tidak. Saya tidak tahu apa yang harus disampaikan. Hanya saja saya punya sedikit  “beban moral” dalam benak bahwa seseorang tidak bisa lepas dari masa lalu. Saya sendiri meyakininya bahwa diri ini konstruksi dari sejarah dan salah satu “serpihan” sejarah yang masuk dalam kehidupan saya adalah LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman).

Saya tidak tahu harus darimana narasi dibangun dan dibentuk, kemudian menjadi ajang refleksi. Terlalu jauh untuk sampai padanya. Anggap saja ini khayalan. Percayalah, setiap orang punya “serpihan” yang berbeda. Tidak sama dan beragam. Meski memiliki kesamaan, tidak pernah ada yang sama. Percayalah bahwa keragaman itu keniscayaan yang tidak boleh dipudarkan.

Jumat, 01 Januari 2016

Setelah Wafat Rasulullah saw

Dalam buku DAN MUHAMMAD UTUSAN ALLAH karya Annemarie Schimmel (Mizan, 1994, halaman 46) terdapat kutipan dari kitab Shahifah Hammam Ibnu Munabih karya Hamdullah bahwa banyak catatan yang menyatakan Umar bin Khaththab menentang periwayatan hadits dan menghukum orang-orang yang mengkabarkan keistimewaan keluarga Nabi Muhammad saw. Pelarangan dilakukan karena khawatir terjadinya campur aduk antara wahyu dan hadits Rasulullah saw.

Rabu, 30 Desember 2015

Pluralisme Agama versi John Hick

Dalam buku God Has Many Names, bab  empat: Whatever Path Men Choose is Mine, John Hick meletakkan dasar-dasar pemikiran pluralisme. Hick memaparkan bahwa sebagian besar manusia memeluk agama sesuai dengan tempat kelahiran dan agama orangtuanya. Jika ia lahir dari orangtua beragama Islam maka kemungkinan besar menjadi Muslim sampai meninggalnya. Jika lahir dari orangtua yang beragama Budha, maka akan terus menjadi umat Budha. Juga agama yang dipeluk orang Kristen lebih banyak karena faktor orangtuanya. Meski beda agama, tetapi dari setiap orang yang beragama atau beribadah di rumah ibadahnya masing-masing, pada dasarnya ingin menjalankan hidup sesuai dengan higher reality.

Sabtu, 12 Desember 2015

Ada Dua Wajah dalam Beragama

Agama merupakan institusi yang tidak pernah hilang dari wacana manusia sepanjang zaman. Agama membuat manusia merasa benar dalam tindakan dan perilakunya, bahkan berani menyatakan salah pada orang lain yang berbeda. Agama dalam dunia ini yang ditampilkan umat manusia dalam dua wajah: menyeramkan dan menenangkan.

Tengok ISIS dan gerakan radikalisme agama, yang bagi manusia normal akan menyatakan tidak senang dengan perilaku dan cara mereka dalam melakukan tindakan yang bernuansa kerusakan. Alih-alih menenteramkan, malah membuat takut orang masuk pada agama. Sedangkan wajah agama yang menenangkan adalah kebalikannya: tidak meresahkan dan berkesan baik. Melihat makna agama dalam bahasa sanskerta disebutkan bahwa agama terdiri dari dua: “a” berarti tidak dan “gama” berarti rusak. Karena itu, dari kedua kata yang terpisah itu maka agama memiliki makna yang baik dan bertujuan menyelamatkan orang dari berbagai kerusakan. Orang yang beragama diharapkan “tidak rusak” dalam perilaku dan berkehidupan sehingga menenangkan dan tidak mengganggu ketenteraman. Lalu, mengapa agama yang tampil sekarang ini tidak demikian?