Setiap kali mendengar dan baca kabar orang yang wafat, bulu kuduk merinding. Kenapa bisa? Pasalnya pekan kemarin dua kali mimpi melihat raga terkujur kaku. Layaknya orang mati. Pertanyaannya: apakah saya takut mati? Siapa yang takut? Raga atau jiwa? Duh, ini yang mati apa sih?
Raga atau jiwa. Raga tanpa jiwa itulah mayat. Jiwa tanpa raga itulah arwah. Keduanya entitas yang terpisah dan punya identitas tersendiri. Raga dengan jiwa yang bersemayam menjadi "kendaraan" bagi gerak gerik jiwa.
Tanpa raga si jiwa tak punya arti, tak ada makna dan tak akan punya narasi historis yang diingat manusia. Denyut hidup raga oleh jiwa. Dan jiwa untuk di dunia ini butuh raga. Keduanya saling membutuhkan dan saling terkait.
Sampai tiba saat perpisahan, yang disebut dengan kematian. Raga membeku, kaku dan membusuk dimakan cacing tanah atau menguap karena bakaran api yang panas. Bahkan di negeri sana ada yang dicincang hingga tak tersisa kemudian dimakan burung. Begitulah nasib sang raga. Ia berakhir, tak abadi dan keberadaannya sebagai wadah untuk jiwa.
Haruskah memuja raga. Memuliakannya lebih dari jiwa. Mengorbankan hidup, bahkan sampai mati untuk raga yang tak abadi.
Harus diakui bahwa raga punya peran, punya andil dan kontribusi. Ini tampaknya perlu diingat. Yang pasti suatu waktu akan tiba pada kata: Selamat tinggal raga. Salam jumpa di akhirat (jika memang akan dihadirkan). ***
